New Normal untuk Anak Sekolah

Sekolah Lagi

Sudah masuk pekan kedua, anak-anak di Belanda kembali ke sekolah. Setelah libur musim panas kurang lebih 1,5 bulan. Kembalinya anak ke sekolah, otomatis kembali juga rutinitas antar jemput anak. Dengan kata lain, kembali lagi rutinitas berinteraksi dengan banyak orang.

Di musim pandemi yang belum usai, ditambah ada kenaikan penyebaran virus, tentu saja orang tua perlu waspada. Ketika mengantar anak ke sekolah, dalam situasi yang berkerumun orang, protokol kesehatan tidak lagi dihiraukan.

Di Belanda, tidak ada kewajiban memakai masker, kecuali di tempat-tempat tertentu, seperti transportasi umum. Selebihnya, bebas saja, mau pakai masker atau pun tidak. Jarak yang disarankan 1,5m, ini juga belum tentu semua sadar melakukannya. Kondisi “new normal” ini, menurutku sudah terlihat normal untuk banyak orang.

Praktis, dari hari pertama mengantar jemput anak, yang terjadi adalah para orang tua yang bergerombol di depan pintu gerbang. Pihak sekolah saja sampai kewalahan untuk mengatur para orang tua ini agar menjaga jarak. Walaupun, sudah diinformasikan kepada orang tua sejak sehari sebelumnya tentang protokol kesehatan untuk menemani hari pertama anak ke sekolah.

New Normal

Lalu, bagaimana penerapan new normal di sekolah? Tentu saja pihak sekolah menerapkannya dengan peraturan yang sesuai dengan protokol kesehatan. Antar jemput anak dibagi dalam tiga lokasi, sehingga tidak ada penumpukan di satu pintu gerbang. Orang tua juga dilarang masuk ke dalam sekolah, walaupun di hari pertama banyak juga yang akhirnya masuk ke dalam area sekolah. Memang, ada pengecualian untuk anak-anak play group dan hari pertama tk kecil, orang tua boleh ikut sampai kelas. Namun, ada juga yang menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke dalam kelas, misalnya, karena anaknya belum berani.

Lokasi Antar Jemput Anak

Peraturan tersebut sudah diberitahukan terlebih dahulu sejak H-1 masuk sekolah. Pengaturan lokasi dan jam antar jemput anak berbeda-beda untuk setiap group (kelas). Juga ada peraturan khusus untuk anak yang memiliki saudara di kelas lain. Anak-anak itu dikumpulkan dengan saudaranya di suatu lokasi, sehingga orang tua hanya di satu tempat itu untuk menjemputnya.

Bagaimana jika ada murid yang sakit?

Sekolah memberikan informasi bagaimana menentukan apakah anak dapat masuk sekolah atau tidak. Jika kondisinya sehat, tentu saja tidak ada halangan untuk masuk sekolah. Namun, jika kondisinya sakit, tidak semua diperbolehkan masuk. Selama ini, sebelum pandemi, jika ada yang sakit dan masih memungkinkan masuk sekolah, maka tidak perlu izin. Misal, batuk, pilek, alergi, dan jenis-jenis penyakit ringan lainnya. Namun, untuk saat ini, bahkan jika hanya sakit batuk dan pilek, orang tua harus menilai apakah anak tersebut bisa tetap masuk atau perlu izin.

Bagaimana jika murid sakit?

Diagram ini untuk menentukan apakah murid dapat masuk sekolah atau tidak. Termasuk, apakah orang tua (wali murid/pengasuh) diperbolehkan antar jemput anak atau tidak. Dengan mencocokkan kondisi sehat atau sakitnya dengan pertanyaan pada diagram. Cara membaca diagram ini lebih lengkapnya di sini.

Diagram tersebut dibuat dari peraturan pemerintah yang dilandaskan pada pertimbangan RIVM. Lembaga ini berkerja dalam bidang penelitian kesehatan masyarakat dan lingkungan. Salah satu tugasnya adalah mengontrol penyakit menular, agar tidak menyebar di masyarakat. Maka, penanggulangan COVID-19 adalah tanggung jawabnya.

Penerapan Protokol Kesehatan Di Sekolah

Sekolah juga mensosialisasikan kepada orang tua, melalui aplikasi, bagaimana penerapan protokol kesehatan di sekolah. Sehingga orang tua dapat mengajak bicara anak, tentang apa yang boleh dan tidak dilakukan, selama di sekolah. Bagaimana situasi di sekolah akan berbeda dengan sebelumnya.

Protokol kesehatan ini, antara lain:

  1. Aturan Umum, memuat:
    • Semua anggota sekolah perlu sering mencuci tangan dengan air dan sabun selama minimal 20 detik.
    • Jarak 1,5m hanya berlaku antara orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak tidak perlu
    • Jika di dalam masing-masing kelas ada 3 atau lebih murid sakit maka perlu dilaporkan kepada lembaga terkait, yang menangani kesehatan anak-anak di Belanda (GGD)
  2. Kontak fisik, termasuk:
    • Tidak ada saling memberi tangan (salaman) antara guru ke murid, untuk antar orang dewasa, tidak ada sentuhan fisik
    • Batuk, bersin di dalam siku
    • Larangan untuk menyentuh wajah
  3. Higienitas, seperti:
    • Sering mencuci tangan dengan sabun, setidaknya selama 20 detik, sebelum masuk kelas, sebelum dan setelah istirahat, setelah ke toilet
    • Gunakan tisu untuk membersihkan ingus, keringat, atau tangan
  4. Kebersihan kelas dan lingkungan sekolah harus selalu terjaga, termasuk fasilitas dan peralatan pembelajaran
  5. Jika ada pengampu sekolah (misal guru) terkena gejala corona, maka akan diumumkan melalui aplikasi, sehingga menambah kewaspadaan untuk semua

Diharapkan dengan sosialisasi dan penerapan protokol kesehatan ini, orang tua dan anak-anak terjaga dari kemungkinan tersebarnya virus COVID-19. Dengan ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini, maka kerja sama sekolah dan orang tua sangat diharapkan. Sehingga anak-anak mampu menerapkan kondisi new normal yang memang hal baru untuk mereka.

Anak Sakit, Bolehkah Masuk Sekolah?

Dalam rangka mempersiapkan anak kembali ke sekolah, pihak sekolah telah mensosialisasikan beberapa hal melalui aplikasi. Terutama karena kondisi pandemi yang membuat situasi berbeda dengan sebelumnya. Salah satu informasi yang disampaikan adalah diagram keputusan di bawah ini. Ada beberapa kondisi yang membuat anak tidak boleh masuk sekolah. Diagaram ini berlaku untuk rentang usia 0 – 3 tahun dan 4 – 12 tahun.

Bagaimana cara memutuskan?
Pohon Keputusan – COVID 19

Jika anak sakit, maka lihat diagram dengan cara:

1 – Apakah anak yang sakit ini kurang dari 10 hari yang lalu berada di zona oranye atau merah? Jika ya, ke 2a, jika tidak ke 2b.

2a – Berapa umur anak? Untuk usia 0 – 3 tahun maka anak tersebut selama 10 hari di rumah saja (3a kotak merah). Untuk umur 4 – 12 tahun, ada dua pertimbangan (3a kotak oranye), yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan COVID-19 dan apakah di rumah si anak ada yang sakit corona atau demam atau sesak nafas. Jawaban ditentukan dengan melihat poin 4a.

4a – Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (4a kotak merah). Jika tidak, maka dilihat apakah anak ada gejala pilek/hidung tersumbat (4a kotak oranye).

5a – Jika jawaban ya (5a kotak biru), lanjutkan ke diagram keputusan dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (5a kotak hijau).

2b – Jika anak sakit tidak karena pernah berada di zona oranye atau merah, maka ada dua pertimbangan, yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan corona dan apakah di rumah si anak ada yang sakit atau ada gejala corona atau demam atau sesak nafas. Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (3b kotak merah). Jika jawaban tidak, maka perlu dipertimbangkan apakah anak tersebut sedang pilek/hidung tersumbat atau tidak (3b kotak oranye). Lanjutan ke poin 4b.

4b – Jika jawaban ya, ikuti alur diagram keputusan (5b kotak biru) dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (4b kotak hijau).

6. Untuk orang tua (wali murid) dan anak-anak kelas atas dengan gejala, seperti demam, batuk, suhu badan naik, kehilangan indra perasa tiba-tiba, maka disarankan untuk melakukan tes.

7. Orang tua yang sedang masa karantina rumah 10 hari, tidak boleh antar jemput anak ke sekolah

Bolehkah anak dengan gejala hidung tersumbat ke sekolah?

Jika anak mengalami hidung tersumbat, biasanya gejala pilek, maka ada dua diagram untuk memutuskan. Pengambilan keputusan yang berbeda untuk rentang umur 0 – 6 tahun dan 7 – 12 tahun. Setelah melihat diagram tersebut, bisa diputuskan apakah anak boleh masuk sekolah atau tetap di rumah.

Usia – 6 tahun

Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan. Maksud dari hidung tersumbat, adalah gejala yang meliputi keluarnya ingus, apapun warnanya, apakah itu disertai bersin ataupun sakit tenggorokan maupun tidak.

Untuk anak umur 0 – 6 tahun

1 – Apakah anak mengalami gejala?

2 – Apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas?

3 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah suhu tubuhnya 38oC atau lebih?

4 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?

5 – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?

6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.

Usia 7 – 12 tahun

Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan dalam rentang usia anak 7 – 12 tahun.

1 – Apakah anak mengalami gejala?

2a – Jika ya, apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma? Lanjutkan ke 3a.

2b – Jika tidak, apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Lanjutakan ke 3b.

3a – Untuk anak yang tidak biasa dengan gejala tersebut (kotak merah), tetap di rumah. Untuk anak yang biasa memiliki gejala sakit tersebut (kotak biru), dipertimbankan: apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? atau apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Jika ya (4a kotak merah), maka tetap di rumah, jika tidak (4a kotak hijau), boleh masuk sekolah.

3b – Jika jawaban dari 2b ya (kotak merah), maka tetap di rumah. Jika jawaban tidak (kotak biru), cek suhu badannya. Apakah 37.5oC – 37.9oC atau 38oC atau lebih?

4b – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?

5b – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?

6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.

Sampai kapan di rumah?

Selama apa anak tetap di rumah? Setelah 24 jam tidak terjadi gejala sakit lagi, seperti batuk, pilek, demam, sesak nafas, maka ulangi lagi penilaian dengan diagram. Hingga dinyatakan anak boleh masuk sekolah, yaitu hingga penilaian pada kotak hijau.