Pengalaman Anak Sekolah di Rumah (2)

Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan postingan yang ini. Dikarenakan lockdown di Belanda yang dilkaukan sejak bulan Desember 2020, maka sekolah pun tutup, untuk menekan angka penyebaran virus corona yang semakin meningkat. Sehingga, anak-anak sekolah di rumah secara online.

Anak-anak memulai sekolah di rumah sejak 4 Januari, dan diagendakan hingga 15 Januari. Semua anak harus sekolah di rumah, kecuali untuk anak-anak yang tidak memungkinkan sekolah di rumah, maka sekolah menyediakan ruangan di sekolah dengan guru pendamping. Meskipun belajar di sekolah, anak-anak ini tetap mengikuti pelajaran online. Guru kelas yang mengajar saat itu bisa melakukan pelajaran online di rumah, atau jika diperlukan, bisa ke sekolah.

Rumah pun bisa menjadi tempat sekolah untuk anak

Anak-anak yang diizinkan ke sekolah adalah anak dari orang tua yang perlu bekerja di luar rumah, dan tidak mungkin meninggalkan anak di bawah umur (usia SD), sendirian di rumah. Maka, sekolah pun memberikan izin untuk anak datang ke sekolah. Orang tua perlu mendaftar dulu untuk didata oleh sekolah. Orang tua ini perlu menunjukkan bukti bahwa saat itu perlu bekerja di luar rumah, bisa didapat dari tempatnya bekerja. Umumnya, ini berlaku untuk orang tua yang memiliki pekerjaan vital, seperti, dokter, perawat, petugas kebersihan, dan sejenisnya. Orang-orang yang memang tidak memungkinkan melakukan pekerjaannya di rumah.

Selama sekolah, guru secara berkala mengirimkan agenda kegiatan kelas hari itu, pelajaran apa saja yang akan diikuti anakku bersama teman sekelasnya untuk dilakukan di ruang google meet. Agenda terakhir sekolah di rumah adalah tanggal 15 Januari, kemudian 18 Januari atau 19 Januari anak-anak bisa kembali belajar di sekolah. Namun, setelah melihat tren corona yang belum menurun juga, bahkan meningkat, terlebih ada varian baru dari UK, maka pemerintah memutuskan masa lockdown diperpanjang, mengakibatkan sekolah di rumah pun diperpanjang. Sekolah di rumah dilanjutkan hingga 5 Februari 2021.

Metode yang digunakan oleh guru selama sekolah online ini, guru membuka kelas, anak-anak membaca buku pilihan masing-masing selama 15 – 30 menit, kemudian guru memulai pelajaran dengan menjelaskan materi pelajaran saat itu, selanjutnya anak-anak mengerjakan tugas yang sudah diberitahukan oleh guru di jadwal harian.

Walaupun sudah diberitahukan di agenda harian sekolah, tugas ini hanya boleh dikerjakan di ruang kelas hari itu, jika belum selesai baru boleh dilanjutkan setelah jam sekolah berakhir, tidak sebelum hari pemberian tugas. Jika saat pengerjaan tugas,anak bisa selesai sebelum waktu yang diberikan habis, maka anak-anak mengerjakan secara mandiri latihan-latihan yang sudah disusun oleh guru di website yang telah disediakan dari sekolah.

Sesi pertama berlangsung dari jam 8.30 – 10.30, setelah itu anak-anak istirahat, kemudian dilanjutkan jam 11.00 – 13.00, dimulai dengan guru mengajak anak-anak untuk melakukan olahraga ringan. Ada 2 guru yang mengajar anakku di hari yang berlainan. Metode yang dilakukan oleh 2 guru ini bisa berbeda, juga agenda yang dilakukan, tetapi susunan mata pelajaran harian tetap sama.

Anakku baru kelas 1 SD saat ini, hanya ada 4 pelajaran di sekolahnya, yaitu matematika, bahasa, agama, dan olahraga. Untuk sekolah online ini, hanya dilakukan 2 pelajaran, yaitu matematika dan bahasa, sedangkan pelajaran agama diberikan menggunakan video online, di mana guru bercerita tentang kisah para nabi kemudian anak-anak mendapat tugas yang harus dikumpulkan dalam waktu 4-5 hari. Untuk pelajaran olahraga ditiadakan, hanya guru kelas mengajak anak-anak olahraga ringan saat memulai kelas, di mana waktunya disesuaikan guru dengan jam pelajaran waktu itu, jika memungkinkan.

Selama sekolah online, agar guru bisa konsentrasi menjelaskan materi, dan memperhatikan semua anak, maka anak-anak diminta untuk selalu mengaktifkan kamera dan mematikan mikrofon. Mikrofon boleh nyala dalam kondisi diperlukan, misal ada anak yang ingin bertanya, atau guru meminta anak bicara atau menjawab pertanyaan. Ruang chat juga hanya dipakai jika diperlukan. Saat isitrahat, maka bisa bebas, kamera boleh dimatikan atau dinyalakan, mikrofon pun boleh selalu nyala, terutama agar anak-anak bisa bicara sesamanya, jika mau. Ngobrol antar anak selama istirahat ini bisa jadi mengurangi ‘rasa kangen’ anak kepada teman-teman sekelasnya, walaupun di beberapa orang tua murid yang ikut membersamai anak belajar, suasana ini cukup memusingkan, melihat semua anak ingin bicara dan bercerita dengan teman-temannya.

Aturan mengenai kamera, mikrofon, dan ruang chat ini diberikan oleh guru, karena di hari-hari pertama sekolah online, ada beberapa kejadian yang menganggu kelas. Antara lain, banyak anak yang justru bicara antar sesamanya saat pelajaran sudah dimulai, atau berebutan ingin bicara atau bertanya dengan gurunya, bahkan kadang suara dari rumah si anak terdengar di kelas. Kamera harus selalu menyala saat kelas, agar guru bisa melihat anak-anak apakah ada di tempatnya, mengerjakan tugas, atau justru melakukan hal lain. Pernah satu hari, anak-anak tidak terkontrol, kemudian guru meninggalkan ruang google meet dan membuat kode baru, hanya anak yang patuh peraturan (kamera nyala, mikrofon mati) saja yang diizinkan masuk kelas. Dengan cara ini, anak-anak menjadi lebih patuh.

Tidak banyak kendala yang kuhadapi, karena sejak awal memang sudah kubicarakan dengan anakku, agar mandiri saat sekolah. Ini membantunya untuk lebih konsentrasi daripada setiap kali bertanya padaku, sehingga justru tidak memperhatikan gurunya. Sebelum masa-masa sekolah online, aku mengajak bicara anakku, memberikan penjelasan, bahkan kita praktik menggunakan google meet, sehingga di hari sekolah online, sudah siap. Biasanya malam hari atau pagi sebelum sekolah, aku ajak anakku melihat jadwal hariannya, juga mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Selesai sekolah, anakku merapikan barang-barangnya dan menyiapkan peralatan untuk hari esok. Ini memudahkan dalam hal kesiapan belajar online. Tentu saja, aku pun mendampingi jika anakku kesulitan, juga untuk mengecek tugas-tugas dari guru.

Laptop dan alat tulis teman sehari-hari sekolah di rumah

Sejak awal, aku meminta anakku untuk berusaha menyelesaikan tugas saat masih jam pelajaran, sehingga aku pun bisa mengecek pengerjaannya saat itu juga. Jika ada yang perlu diperbaiki atau ada penjelasan tambahan yang dibutuhkan, bisa menggunakan waktu selesai kelas. Alhamdulillah anakku bisa melakukannya, sehingga hanya dibutuhkan sedikit waktu saja selesai kelas untuk aku memberikan penjelasan tambahan atau koreksi pengerjaan tugasnya. Untuk tugas pelajaran agama, biasanya diberikan setiap hari Kamis, dan hari Senin batas akhir pengumpulan tugasnya melalui email guru agama. Aku membuat kesepakatan dengan anakku, untuk berusaha menyelesaikan tugas itu akhir pekan, bisa mulai menyiapkan dan mengerjakan tugasnya mulai hari Jumat. Cara ini membuat anakku lebih punya banyak waktu menyelesaikan tugasnya dan kukirimkan ke email gurunya hari Ahad, sehingga tidak terburu-buru atau terlupa.

Kendala yang dihadapi anakku hanyalah rasa jenuh dan capek saat mengikuti sekolah online. Jika dibandingkan dengan jadwal sekolah biasa hari Senin, Selasa, dan Kamis dari jam 8.30 hingga jam 15.15, hari Rabu hingga jam 13.00, dan Jumat hingga jam 12.15 atau jam 12.45, maka sekolah online yang hanya 4 jam ini (Senin – Jumat) sebenarnya cukup singkat. Bedanya, jam sekolah dimampatkan, lebih banyak duduk di depan laptop, dengan waktu istirahat hanya 30 menit tanpa sempat bermain-main dulu. Biasanya hanya dipakai untuk makan buah, cemilan, dan minum, kadang mengerjakan yang lain, atau jika ingin, anakku kembali ke depan laptop untuk bicara dengan temannya.

Maka, capek mata, fisik, dan otak cukup dirasa oleh anakku. 2 jam pertama masih segar mengikuti pelajaran, 2 jam sisanya sudah mulai merasa bosan, sehingga sering kali justru perhatiannya pada hal-hal lain, walaupun alhamdulillah tetap bisa mengikuti penjelasan guru. Hanya di 2 jam terakhir ini biasanya aku perlu sering mengingatkan untuk tetap konsentrasi, tidak banyak bermain-main dengan layar. Setelah selesai sekolah, aku berikan apresiasi kepada anakku atas kerja kerasnya dan usahanya mengikuti sekolah di online. Alhamdulillah tetap semangat mengikuti sekolah online setiap harinya.

Pengalaman Tes Swab Corona

Kejadian ini terjadi kemarin (11/1/21), tetapi aku baru sempat membuat tulisan ini hari ini (12/1/21).
Sudah semingguan ini aku mengalami batuk. Gejala yang kualami hanyalah batuk kering yang cukup mengganggu terutama ketika malam, sehingga kurang tidur, berakibat badan menjadi terlalu cepat capek dan lesu. Beberapa hari merasa demam tetapi suhu tubuh tertinggi hanya 36.7oC.

Aku sempat berpikir untuk tes corona. Di Belanda, direkomendasikan, jika mengalami sakit yang disertai gejala-gejala yang diderita pasien corona, sebaiknya melakukan tes corona. Namun, karena gejalaku hanya batuk, sedangkan suhu tubuh normal, maka keinginan tes itu aku tunda. Untuk berjaga-jaga, maka sejak batuk, aku hanya di rumah saja, tidak pernah sekalipun keluar rumah. Selama ini keperluanku keluar juga sudah terbatas, misal hanya untuk berbelanja saja.

Hingga tanggal 11 Januari 2021, karena aku ada janji periksa ke bidan, aku memutuskan untuk menelepon bidan beberapa jam sebelum waktu periksa. Tujuanku menelepon untuk memastikan apakah aku bisa datang ke lokasi praktik ataukah jangan datang dulu karena sedang batuk. Ketika dalam kondisi tidak fit, memang disarankan untuk tidak datang ke lokasi praktik bidan. Setelah berdiskusi mengenai keadaanku lewat telepon, bidan memutuskan agar aku tes corona dahulu dan tidak perlu datang periksa. Hal ini untuk memastikan apakah ini batuk biasa atau ada kemungkinan aku telah terkena virus corona. Setelah mengetahui hasil tes, maka aku perlu menelepon bidan lagi untuk mengganti janji yang pada akhirnya dibatalkan ini.

Tes Swab Corona

Maka, hari itu juga, aku segera menghubungi call centre tes corona untuk membuat janji tes. Sebenarnya, janji untuk tes bisa juga dilakukan melalui website untuk memilih waktu dan tempat di mana akan melakukan tes corona.

Melalui telepon, petugas menanyakan data diriku, kemudian memastikan gejala-gelaja yang kualami. Gejala yang ditanyakan petugas adalah tentang jenis batukku, apakah disertai bersin-bersin, radang tenggorokan, gampang capek, badan nyeri (pegal-pegal), demam, dan apakah indera perasaku masih berfungsi. Gejalaku hanyalah batuk kering, jarang bersin, mungkin dalam seminggu batuk ini, hanya sedikit sekali bersin. Mengenai gampang capek dan pegal-pegal, aku mengatakan bahwa sedang hamil, jadi tidak bisa memastikan apakah capek dan pegal ini karena hamil atau sakit. Bahkan sejak sebelum batuk pun sudah mengalami dua kondisi ini. Kalaupun gampang capek dan lesu, sepertinya juga karena kurang tidur karena terganggu batuk saat malam.

Selain itu, petugas juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini:

  • apakah ada anggota keluarga yang pernah terkena corona
  • apakah aku pernah ada kontak dengan orang yang terkena corona
  • apakah aku pernah dihubungi atau mendapat pesan untuk melakukan tes corona
  • apakah aku pernah bepergian ke luar belanda
  • apakah aku bekerja di sektor kesehatan atau pekerjaan yang membuatku harus ke luar rumah

Semua pertanyaan di atas kujawab tidak, karena memang gelajaku hanya batuk saja yang menurutku disebabkan oleh cuaca dingin, di mana setiap tahun batuk ini selalu datang setiap musim dingin.

Meskipun demikian, tetap aku perlu tes corona. Petugas memilihkan tempat yang terdekat dengan rumahku dan waktu yang aku bisa datang ke lokasi tersebut. Petugas memberi tahu bahwa hasil tes akan diberitahukan 24-48 jam setelah tes, bisa melalui telepon, email, dan website. Selama belum ada hasil tes, maka aku diminta tetap di rumah saja, menjaga jarak, dan tidak menerima tamu. Anggota keluarga selama tidak menampakkan gejala sakit, boleh keluar rumah dan menerima tamu.

Setelah namaku terdaftar untuk ikut tes, maka aku diberitahu akan ada pesan dan email konfirmasi tentang jadwal tesku. Aku bisa tes hari itu juga, bahkan waktunya pun bisa langsung, kurang lebih 20 menit setelah telepon selesai. Jarak lokasi tes dengan rumahku pun sangat dekat, bisa ditempuh dengan bermobil kurang lebih 10 menit perjalanan.

Mengenai pesan konfirmasi yang akan dikirimkan melalui sms dan email, petugas memberi tahu bahwa biasanya pesan konfirmasi ini akan sampai dalam waktu sejam. Pesan konfirmasi ini nantinya perlu ditunjukkan kepada petugas di lokasi tes. Namun, karena waktu tesku kurang dari 1 jam setelah telepon, maka aku berangkat saja, tidak perlu menunjukkan pesan konfirmasi tersebut jika memang belum sampai. Maka aku pun segera berangkat ke lokasi tes corona dengan membawa identitas diri dan bermasker, sesuai pesan petugas call centre. Karena yang dites hanya aku, maka aku pun berangkat sendiri.

Sesampainya di lokasi, ada petugas di pintu gerbang yang memastikan bahwa aku sudah ada janji untuk tes hari itu. Hanya orang yang sudah ada janji tes saja yang diperbolehkan masuk. Aku memberi tahu bahwa aku sudah menelepon call centre corona, tetapi pesan konfirmasi belum sampai, tetapi aku sudah tahu jam berapa waktu tesku. Maka aku dipersilakan melajukan mobilku sampai lokasi antri mobil. Disini, tidak boleh memfoto apapun, ada tanda rambu besar bahwa memfoto dilarang, maka aku tidak memfoto apapun.

Dilarang Memotret

Saat aku antri, mendapat nomor urut 3. Sebelum aku masuk ke jalur antri mobil, mobil di depanku diminta untuk menurunkan orang yang ikut di dalam mobil tetapi tidak termasuk orang yang dites. Beruntung, aku berangkat sendiri. Setelah 2 mobil masuk, maka giliranku pun tiba. Disambut oleh petugas di pintu lokasi tes, memastikan hal yang sama, yaitu aku sudah membuat janji untuk tes. Kujelaskan hal yang sama seperti saat petugas pintu gerbang menanyaiku. Aku pun dipersilakan maju, masih di dalam mobil, menuju petugas pertama. Petugas pertama ini hanya berpakaian biasa (bukan APD), menggunakan masker, berkaca mata pelindung, dan bersarung tangan. Petugas pertama ini menyambutku dari dalam bilik terbuka, kemudian memastikan waktu janjian tesku.

Ada 2 orang petugas di bilik pertama ini, yang menanyaiku hanya satu, dan dua-duanya berpakaian biasa hanya dilengkapi dengan kaca mata pelindung, masker, dan sarung tangan. Dikarenakan aku tidak bisa menunjukkan pesan konfirmasi dari call centre, maka petugas ini memeriksa data diriku di komputer. Setelah menemukan namaku, petugas ini memberikan tabung (tube) di dalam plastik jernih (plastik biasa) disertai pesan bahwa tabung ini perlu diserahkan ke petugas selanjutnya.

Aku pun menuju petugas selanjutnya, terlihat ada angka 1 – 10 yang menunjukkan nomer bilik masing-masing petugas swab, dan giliranku adalah di bilik nomer 2. Bilik terbuka yang di dalamnya ada 1 orang petugas dengan pakaian APD lengkap, berkaca mata pelindung, bermasker, dan bersarung tangan. Aku pun menyerahkan tabung dari petugas pertama. Petugas ini menyuruhku bersin di tisu, kemudian meminta tisu itu dimasukkan ke plastik dan nanti dibuang di rumah. Setelah itu, petugas ini melakukan tes swab, dimulai dari bagian tenggorokan, kemudian hidung. Alat swab dimasukkan ke dalam tabung yang sudah kuberikan tadi. Terakhir, petugas memberiku brosur mengenai apa yang harus dilakukan setelah tes ini.

Aku pun segera menuju pintu keluar. Alur jalan di lokasi tes ini dari pintu gerbang, hingga masuk ke lokasi tes tidak terlalu jauh, dan jelas sekali, diberi tanda pembatas jalan dan keterangan ke arah mana mobil dijalankan, bahkan dibantu oleh beberapa petugas untuk menunjukkan jalan hingga ke jalan keluar. Di lokasi, mesin mobil hanya dimatikan ketika bertemu petugas pertama (yang menyerahkan tabung) dan kedua (yang melakukan tes). Total waktu yang dibutuhkan dari masuk lokasi tes hingga keluar sekitar 5-7 menit.

Terima kasih telah melakukan tes corona –
Bersama-sama kita bisa mengendalikan corona

Sesampai di rumah, kubaca informasi di dalam brosur yang diberikan oleh petugas. Dari brosur ini, aku mendapat informasi apa yang perlu kulakukan setelah tes ini hingga hasil tes keluar, antara lain:

  • tetap berada di rumah, tidak keluar rumah (jika keluar rumah pun hanya boleh di pekarangan atau kebun)
  • tidak menerima tamu (kunjungan), kecuali dokter atau petugas kesehatan jika memang diperlukan
  • menjaga jarak dengan anggota rumah
  • menjaga kebersihan, sering cuci tangan, jika batuk atau bersin di dalam siku, menggunakan tisu sekali pakai
  • memperhatikan telepon dan email untuk mengetahui hasil tesnya, kadang hasil tes masuk ke kotak spam
  • memperhatikan dan mengingat dengan siapa dalam beberapa hari ini kontak
  • jika yang dites anak-anak, maka hal-hal ini tidak berlaku

Semua anggota rumah tetap tinggal di rumah (tidak boleh keluar) jika orang yang dites corona mengalami gejala-gejala yang lebih berat, seperti demam (suhu tinggi) atau kesulitan bernafas, juga jika di dalam rumah tersebut ada yang terkena corona.


Selain info tentang apa yang perlu kulakukan selama menunggu hasil tes, di dalam brosur tersebut juga diberi tahukan informasi berikut:

Jika hasil tes negatif, maka saat dilakukan tes swab, tidak ditemukan adanya virus corona, maka boleh keluar rumah, tentu saja seperlunya, mengingat sekarang di belanda juga sedang lockdown. Jika ada orang yang serumah mengalami gejala corona dan belum dites, atau bakan sudah terkena corona, maka walaupun hasil tes negatif, tetap tidak boleh keluar rumah. Ini dikecualikan jika yang dites anak-anak sampai usia 5 tahun.

Jika hasil tes positif, maka saat tes ditemukan bahwa telah terinfeksi virus corona. Sudah pasti harus tetap di rumah, termasuk anggota keluarga yang tinggal serumah, tidak menerima tamu, menjaga jarak dengan anggota rumah. Petugas yang menangani corona akan menelepon dan memberi tahu lebih lanjut, termasuk mengidentifikasi pernah kontak dengan siapa saja. Kemudian, ketika tahu hasil tes positif, maka perlu memberi tahu dokter keluarga, dan orang-orang tertentu yang memang perlu tahu, misalnya kalau aku, selain dokter, maka perlu memberi tahu bidan, untuk orang-orang yang bekerja, maka memberi tahu tempat kerjanya.

Semoga saja hasil tes swabku negatif dan tidak ada virus corona di dalam badanku 🙂
Hasil tes kutuliskan di postingan ini.

Belanda Lockdown Lagi

Kasus Covid-19 di Belanda mengalami peningkatan. Untuk itu, 14/12/20, malam hari, Perdana Menteri Rutte mengadakan konferensi pers terkait kondisi tersebut. Beberapa hal untuk menangani lonjakan kasus Covid yang diumumkan dalam konferensi pers, antara lain:

  • Sekolah ditutup dari tangal 16/12/20 – 19/1/21. Tanggal 21 Desember mendatang sudah masuk masa libur akhir tahun di Belanda. Kebijakan penutupan sekolah ini membuat waktu liburan dimajukan, mulai 16/12/20 hingga 3/1/21. Setelah itu, sekolah akan diadakan online di rumah hingga 19 Januari 2021.
  • Toko-toko yang tidak menjual kebutuhan pokok (penting) ditutup. Supermarket dan toko yang menjual bahan makanan tetap dibuka.
  • Tempat olahraga ditutup, kecuali yang memungkinkan olahraga dilakukan di luar boleh tetap buka dengan batasan tertentu. Misal, olahraga hanya per 2 orang di luar ruangan dengan jarak 1,5 meter.

Belanda memutuskan untuk melakukan lockdown lagi dikarenakan kasus Covid semakin bertambah. Untuk mengantisipasi tidak ada lonjakan pasien dan tidak bertambah parah penularan.

Sehari setelah diumumkan hasil konferensi pers, hari terakhir sebelum lockdown, yaitu tanggal 15 Desember, banyak orang mengunjungi pusat kota, di mana banyak toko masih buka. Memang tidak ada penimbunan bahan makanan, dikarenakan toko-toko makanan tetap dibuka. Meskipun demikian, tetap berlaku protokol kesehatan yang ketat. Ketersediaan bahan makanan, obat, hand sanitizer, masker, juga dikabarkan mencukupi.

Stay Safe, Stay at Home

Aturan umum yang berlaku di masyarakat pun dibuat, seperti memakai masker di tempat umum. Jika dulu saat lockdown pertama, masker hanya diberlakukan saat menggunakan transportasi umum, kemudian berlanjut pemberlakuan masker di tempat yang tidak memungkinkan menjaga jarak, maka sekarang ini orang-orang diminta memakai masker ketika harus keluar rumah.

Kunjungan dari orang luar rumah diperbolehkan, tetapi hanya maksimal 2 orang dewasa yang boleh berkunjung, anak-anak sampai usia 12 tahun tidak dihitung. Artinya jika yang datang ke rumah 10 anak usia di bawah 12 tahun masih diperbolehkan, namun orang dewasa (termasuk anak-anak di atas usia 12 tahun) maksimal hanya boleh 2 orang.

Penutupan lokasi-lokasi yang memungkinkan orang berkerumun, seperti perpustakaan, bioskop, kebun binatang, museum, dll. Aktivitas di perpustakaan hanya untuk mengembalikan dan mengambil buku saja. Pemesananan untuk peminjaman buku bisa dilakukan online, kemudian diambil di perpustakaan pada jam-jam yang sudah ditentukan.

Acara-acara yang memungkinkan orang berkerumun, walaupun dilakukan di luar dilarang. Hotel dan tempat liburan ditutup. Saat ini sedang menuju libur akhir tahun di Belanda, maka pemerintah melarang warganya untuk liburan ke luar negeri. Bahkan ada himbauan untuk tidak melakukan reservasi liburan ke luar negeri paling tidak sampai Maret tahun depan. Sebisa mungkin warga diminta ke luar rumah dan hanya bepergian jika ada hal darurat yang perlu dilakukan.

Semoga pandemi ini segera berlalu. Apalagi, sudah mulai banyak kabar mengenai ketersediaan vaksin. Di Belanda, vaksin akan diberikan awal tahun 2021 untuk orang-orang dengan kondisi vital, termasuk penyelenggara kesehatan salah satu yang akan mendapat vaksin di awal.