Akhirnya yang ditunggu datang juga :)

Lagi-lagi sudah lama aku tidak menulis di blog ini. Selain karena menjelang lahiran yang tinggal menghitung hari, juga karena bulan puasa. Jadi, waktuku banyak kupakai untuk persiapan kelahiran anak keduaku ini juga ada beberapa agenda Ramadan yang kulakukan.

Di Belanda, puasa ramadan tahun ini sekitar 17-18 jam dengan waktu sahur yang semakin pagi dan waktu berbuka yang semakin malam, karena saat ini peralihan musim semi ke musim panas, di mana waktu siang lebih banyak dari malam. Kondisi bulan ramadan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, di masa pandemi, masih belum bisa iftar (buka puasa) bersama, sholat tarawih pun masih di rumah, walaupun lockdown di belanda sekarang ini mulai dilonggarkan. Bisa jadi, saat lebaran nanti pun masih harus sholat ied di rumah.

Biasanya, aku menulis blog di pagi atau malam hari, tetapi sejak bulan ramadan, pagi hari ada agenda ramadan online bersama komunitas ibu-ibu Indonesia di sini. Pada malam hari, kondisiku sudah tidak memungkinkan, selain mulai sakit (kontraksi palsu) menjelang lahiran, juga sudah terlalu lelah juga, sehingga tidak bisa menulis lagi.

Namun, hari ini ada yang membuatku bersemangat untuk kembali membuka blog ini dan menuliskan apa yang terjadi hari ini. Sebelum aku melanjutkan tulisanku, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia mengikuti tulisanku di blog ini, aku mendapati ada beberapa followers baru di saat aku sedang tidak aktif menulis. Semoga tulisan-tulisanku di sini bermanfaat untuk semua, walaupun pada awalnya aku membuat blog ini, tujuan utamanya untuk diriku sendiri, ternyata ada juga yang tertarik untuk mengikuti blogku ini.

Nah, apa sih yang bikin aku semangat lagi untuk menulis hari ini?

Jadi, aku pernah menulis tentang pengalamanku re-ekspor barang yang kukirim ke Jogjakarta. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini. Dikarenakan barang elektronik dengan kondisi tidak mungkin masuk ke Jogja, akhirnya barang ini dikembalikan ke Belanda melalui cara re-ekspor. Dari track yang kudapati di website ems, paketku ini mulai keluar Indonesia, tepatnya dari Tanjung Priok, untuk diberangkatkan dengan kapal ke Belanda, pada tanggal 13 November 2020. Beberapa waktu setelah barang keluar Tanjung Priok, seingatku lebih dari 1 bulan, karena tidak ada update lagi di website EMS (bahkan hingga hari ini), maka aku memutuskan untuk mengirim chat yang tersedia di website Pos Indonesia. Dari hasil chat itu, setelah obrolan yang menurutku berbelit-belit, aku mendapat info bahwa karena pengiriman melalui jalur laut (kapal), maka pos Indonesia tidak bisa memberikan update sudah sampai mana paketku itu berada, tetapi normalnya pengiriman selama kurang lebih 3 bulan, batas maksimal 3 bulan.

Setelah 3 bulan berlalu, harusnya bulan Februari paketku sampai, tetapi tidak ada kabar juga mengenai paketku itu. Di website EMS tidak ada update, pos Indonesia pun tidak bisa memberikan kepastian kapan barang re-ekspor milikku ini sampai Belanda. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengikhlaskan saja, jika memang masih jadi rezekiku, insya Allah paketku ini sampai juga. Aku bahkan sebenarnya sudah hampir melupakan barang-barang ini, karena kalau ditunggu-tunggu dan dipikirkan, ada perasaan sayang juga kalau barang ini hilang. Ada laptop dan hp yang masih bagus dan bisa dipakai. Tadinya aku kirimkan untuk adikku di Jogja, karena sudah tidak kupakai di sini. Walaupun ketika kembali ke alamatku pun bisa jadi sudah tidak kupakai lagi, tapi kalau sampai hilang, ada perasaan kecewa juga. Dengan mengikhlaskan dan melupakan, perasaan kecewa itu berangsur hilang. Kalau masih rezeki, insya Allah akan sampai juga.

Hari ini, setelah kurang lebih 6 bulan, akhirnya paket ini datang juga 🙂

Dengan penampakan packing yang aku sendiri sudah lupa, apakah aku dulu packing barang seperti ini. Bahkan, saat paket ini datang, aku malah kaget karena hari ini tidak sedang menunggu kiriman apapun. Setelah menempuh perjalanan berbulan-bulan, kardusnya sampai penyok dan kotor 🙂

Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga

Tentu saja aku perlu mengecek apakah isi paket betul-betul barang yang kukirim atau bukan 🙂

Alhamdulillah isinya masih tetap sama, walaupun belum kucek apakah kondisinya masih sama seperti saat dulu kukirim ke Jogja.

Isi paket masih utuh

Dari jumlah barang dan packingan bubble wrap, terlihat sama dengan saat aku mengirimkan barang ini dulu dari Belanda. Lega juga barang ini kembali ke alamatku. Terima kasih pos Indonesia dan bea cukai yang telah mengirimkan kembali barang-barang ini ke alamatku. Semoga setelah bubble wrap dibuka & dicek, kondisi di dalamnya masih seperti semula.

Lelystad

Kota Lely

Lelystad adalah kota hasil reklamasi di Belanda. Dahulu, daerah ini hanya perairan. Pada tahun 1967, reklamasi berhasil dilakukan, sehingga terwujudlah sebuah kota yang diberi nama Lely. Stad dalam bahasa Indonesia adalah kota. Sehingga Lelystad, bermakna Kota Lely. Nama yang lucu bukan?

Nama kota ini diambilkan dari nama insinyur yang memimpin keberhasilan proyek reklamasi ini, Cornelis Lely. Saat itu, daerah ini berada kurang lebih 3 meter di bawah permukaan air laut. Untuk menghargai kerja kerasnya dalam mereklamasi daerah tak berpenghuni itu, maka dipakailah nama insinyur ini sebagai nama kota. Di Belanda, umum sekali nama-nama orang yang berjasa di suatu bidang tertentu, menjadi nama jalan, bahkan nama kota.

Sampai saat ini ada mekanisme pengaturan untuk tetap menjaga Lelystad aman ditinggali, tidak terjadi banjir, atau bahkan tenggelam. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme ini, termasuk sejarah Lelystad terbentuk, bisa mengunjungi museum Lelystad (museum Flevoland).

Museum Lelystad

Di dalam museum ini, selain mengenail sejarah, juga ada tempat bermain anak, sehingga anak-anak bisa belajar sambil bermain bagaimana mengatur perairan di Lelystad agar tidak terjadi banjir.

Het Watertheater – Teater air

Di dekat museum, kita bisa melihat perariran Lelystad, dimana pada jadwal tertentu, ada kapal yang bisa dinaiki untuk mengelilingi perairan ini.

Perairan Lelystad

Kawasan di sekitar perairan ini, dinamakan Batavia Land. Ada 3 lokasi yang menarik dikunjungi. Selain museum Lelystad, ada juga replika kapal VOC, dan museum workshop kapal. Kapal ini pada sekitar tahun 1628 berlayar menuju Pulau Jawa untuk mengangkut rempah-rempah. Kapal ini diberi nama Batavia. Kita bisa memasuki kapal ini dan melihat bagian dalam kapal.

Replika Kapal VOC “Batavia”

Banyak bagian di dalam kapal dibuat persis seperti aslinya, juga rutin dirawat dan diperbaiki jika ada bagian yang rusak.

Sebelum lokasi kapal Batavia, terdapat museum yang menjadi tempat workshop untuk belajar bagaimana kapal zaman dulu dibuat. Pengunjung dapat mencoba beberapa hal, seperti pertalian (tali-temali), melihat kapal besar dibuat, juga bagaimana karyawan workshop sedang membuat replika kapal.

Banyak kapal bersejarah yang replikanya bisa kita lihat sampai sekarang. Sehingga orang bisa mengetahui bagaimana bentuk asli kapal-kapal yang dimiliki Belanda zaman dahulu. Di lokasi workshop ini, kita bisa melihat juga logo VOC pada kotak kayu yang diangkut ke dalam kapal, saat mereka dahulu menjelajah. Tentu saja hanya replika. Bagaiamanapun, untuk Belanda, VOC adalah perusaaan dagang pertama dan terbesar milik mereka, sehingga banyak bukti-bukti peninggalannya yang masih tersimpan sampai sekarang.