Sejak Covid-19 melanda Belanda, aktivitas fisik terbatasi, lebih banyak tinggal di rumah. Sejak Maret, pemerintah menutup tempat-tempat publik, seperti sekolah, kantor, restoran, taman, dll, untuk memangkas penyebaran virus ini. Setelah kondisi terkendali, 2 bulan kemudian, fasilitas umum mulai dibuka secara terbatas. Contohnya, sekolah masuk secara bergantian, dimulai dari TK, SD, hingga bertahap ke SMP dan SMA, sampai dapat dibuka sepenuhnya. Kalau toko-toko bahan makanan, sejak awal memang tetap dibuka, hanya dibatasi pengunjungnya, juga aturan jarak 1,5m.

Alhamdulillah, sejak akhir bulan Mei pemerintah Belanda sudah membuka batasannya, melihat aktivitas penyebaran virus ini dapat terkendali. Masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih leluasa di luar rumah, selama memenuhi protokol kesehatan. Tempat-tempat publik mulai dibuka seperti biasa, tentu saja dengan penjarakan 1,5m, dan di tempat-tempat tertentu pemakaian masker diharuskan.

Lalu apa yang berubah sejak adanya pandemi Covid-19?
Rasa aman dan nyaman saat keluar rumah. Sekarang ini, berada di kerumunan orang, seringkali merasa tidak aman. Kita tidak tahu seberapa sehat orang-orang ini. Walaupun Belanda terkenal dengan kedisiplinan dan tegaknya peraturan, tetap saja ada satu dua orang yang tidak disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.
Batuk dan bersin? Siap-siap jadi perhatian orang. Virus ini menyebar lewat droplet, sehingga di awal virus ini muncul, disarankan orang bersin dan batuk di sikunya atau dengan bermasker. Jika dulu mendengar orang bersin atau batuk, hal biasa. Saat ini, orang di sekitar akan melihat dan was-was jika sampai ada orang yang batuk atau bersin, karena khawatir orang ini sakit terkena virus.
Padahal, di Belanda, covid ini mulai muncul di awal musim semi, dan sekarang ini sedang musim panas. Hal biasa, jika ada orang alergi polen (serbuk sari bunga), di musim-musim ini, maka orang ini akan bersin. Tentu saja menahan bersin tidak nyaman, sehingga mau tidak mau harus dikeluarkan, lalu orang-orang akan memandanginya. Apalagi, jika orang ini tidak bermasker.
Bermasker atau memakai face shield. Pada dasarnya, masker itu untuk orang sakit agar tidak menulari orang sehat. Sejak pandemi, orang sehat pun bermasker agar tidak terkena virus yang bisa masuk lewat saluran pernapasan. Face shield juga menjadi barang yang umum dipakai orang saat ini.
Meskipun begitu, aturan bermasker di Belanda, memang tidak untuk semua orang dan tidak di semua tempat. Di transportasi umum, para pengguna memang wajib bermasker, tetapi selain itu tidak. Di tempat umum, masker juga tidak wajib dipakai. Di tempat orang berkerumun, disarankan memakai masker, tetapi kalaupun tidak juga tidak apa-apa, kecuali memang diwajibkan di tempat tersebut.
Perhatian pada kebersihan. Ada beberapa barang yang perlu ada untuk menghadapi virus ini. Masker, tisu, hand sanitizer, desinfektan, sabun dan air yang sangat berkaitan dengan kebersihan. Orang akan segera mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer untuk membersihkannya. Diketahui, virus akan mati dengan sabun, maka disarankan sering mencuci tangan memakai sabun dan air.
Jika sebelum pandemi, mungkin kepedulian untuk cuci tangan bisa dibilang rendah. Orang tidak keberatan langsung makan tanpa cuci tangan. Namun, sejak pandemi, bukan karena makan pun orang akan otomatis mencuci tangannya. Misal, setelah bepergian, atau setelah menyentuh barang tertentu. Bahkan, orang akan waspada jika ingin menyentuh sesuatu atau ketika bersentuhan dengan orang.
Berjabat tangan. Salaman adalah hal yang lumrah, begitu juga cium pipi kanan kiri saat bertemu. Pandemi ini membuat orang-orang tidak bisa bersentuhan dengan nyaman. Budaya salaman di Indonesia, menjadi asing. Menelungkupkan tangan di dada atau menempelkan siku lebih dipilih, untuk menghindari tersebarnya virus ini.
Jarak yang memisahkan. Jarak teraman saat bertemu orang lain sekitar 1,5m. Jika dulu sedang berkumpul atau berada di keramaian biasa saja jika harus berdekatan. Sekarang perlu menjaga jarak 1,5m dengan orang atau keluarga lain jika bertemu. Antrian di tempat-tempat umum pun dibuat berjarak 1,5m. Ketika di kendaraan, jika bukan orang yang tinggal satu rumah (bukan keluarga), termasuk di mobil, tetap jarak ini berlaku.

Kenaikan berat badan. Meskipun tidak semua mengalami, bisa jadi malah turun atau tidak berubah. Orang-orang yang banyak pikiran karena pandemi ini, atau sedang sakit, bisa jadi berat badannya justru turun. Kenaikan berat badan ini disebabkan lebih banyak di rumah, sehingga jarang melakukan aktivitas fisik dan terlalu banyak suplai makanan.
Untuk aku pribadi, sebelum pandemi, ketika ada keperluan keluar rumah, sering kali jalan kaki, bersepeda, atau naik kendaraan umum. Setelah adanya pandemi, lebih banyak bermobil. Hal ini menyebabkan aktivitas fisik berkurang. Jalan kaki dan bersepeda walaupun untuk tujuan lain, tapi bisa juga menjadi sarana olahraga buatku. Olahraga di rumah juga tidak semudah itu, apalagi waktuku banyak terpakai untuk menemani anak sekolah di rumah.
Selain itu, dikarenakan semua anggota keluarga lebih banyak di rumah, apalagi ada anak kecil, maka makanan menjadi salah satu andalan untuk mengurangi rasa bosan. Apalagi dengan adanya work from home dan school from home, menjadi salah satu semangat untuk mencoba resep-resep baru yang bisa disajikan untuk anak dan suami.
Dua hal ini, jarang beraktivitas fisik dan makan-makan menjadikan berat badanku melonjak banyak.
Kebersamaan keluarga. Ini adalah momen berharga yang aku syukuri saat pandemi ini. Menurutku, kualitas hubungan keluarga terbangun dengan banyaknya waktu bersama. Sejak pandemi, suami kerja di rumah, anak sekolah di rumah, sehingga waktu kami untuk bersama lebih banyak. Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi.
Di awal memang banyak penyesuaian yang terjadi, bahkan menimbulkan keributan dan perselisihan. Aku juga merasa sesi me time-ku kurang sekali, dibandingkan saat anak sedang sekolah. Terlalu banyak waktu dengan suami ternyata juga menimbulkan ‘kebosanan’ tersendiri. Begitu juga suami ada juga masalah yang terjadi sejak kerja di rumah yang berimbas pada hubungan kami. Seiring dengan berjalannya waktu, alhamdulillah masalah-masalah ini dapat diatasi. Sehingga, masalah berganti dengan rasa syukur. Justru, karena ada pandemi ini, kami lebih punya banyak waktu kebersamaan.
Kalau membaca berita, hal semacam ini ternyata banyak terjadi. Keributan antar suami-istri, bahkan anak, kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi justru karena terlalu sering berinteraksi. Banyak konflik dalam rumah tangga yang terjadi karena orang tidak bisa mencari penyegaran di luar rumah. Kadang, ketika ada masalah, antar yang bermasalah ini memang perlu menjauh dahulu, agar tidak memuncak. Namun, di masa pandemi, tidak ada pilihan lain, antar pasangan ataupun anak yang bermasalah akan selalu bertemu. Inilah penyebab konflik dalam rumah tangga meningkat selama pandemi.
Alhamdulillah, anak kami tidak terlalu bermasalah. Umurnya masih 5 tahun, yang penting ada bapak ibu bersamanya. Bahkan, anak kami lebih senang sekolah di rumah, terasa lebih menyenangkan dan tidak melelahkan, daripada ketika di sekolah. Salah satu yang membuatnya tidak terlalu suka sekolah, karena harus berpisah dengan ibunya. Kalau sekolah di rumah, selalu bersama ibunya. Ungkapan ini tentu saja membuat aku bersyukur sekali.
Nah, itulah hal-hal yang kurasakan berubah sejak adanya pandemi Covid-19. Ada yang menyenangkan, ada pula yang tidak. Semoga kondisi segera pulih, di belahan dunia manapun.