Hasil Tes Swab

Tulisan ini untuk melanjutkan postingan yang ini. Tanggal 12 Januari 2021, kurang lebih 24 jam setelah tes swab sehari sebelumnya, aku mendapat email yang berisi hasil tes swab. Seingatku, petugas dari call centre corona yang kutelepon sebelum tes mengatakan bahwa hasil tes dapat diketahui 24 – 48 jam setelah tes swab dilakukan. Hasil tes akan diberitahukan melalui telepon dan email.

Aku mengatakan bahwa lebih nyaman jika hasil tes dikirimkan melalui email saja. Mengingat, aku tidak selalu memegang hp, bahkan lebih sering hpku dalam kondisi silent. Khawatirnya, saat ditelepon, aku tidak dapat mengangkatnya, maka melalui email lebih bagus. Walaupun begitu, dari pagi di tanggal 12 Januari 2021, aku nyalakan bunyi dering hpku dan selalu kuletakkan di dekatku.

Seingatku, aku selesai tes sekitar jam 10.20 (11/1/21) dan sehari setelahnya (12/1/21), yaitu jam 09.58, aku menerima email yang di dalamnya dicantumkan website tempatku bisa melihat hasil tes secara online. Aku pun segera mengecek email tersebut dan masuk ke tautan pada website yang dikirimkan di email.

Alhamdulillah, hasil tes dinyatakan negatif 🙂

Hasil Tes Swab Negatif

Artinya, tidak terdapat virus corona di dalam badanku. Alhamdulillah. Berarti batuk yang kuderita bukan disebabkan karena corona.

Meskipun demikian, di website itu juga dinyatakan beberapa hal yang perlu kuperhatikan, yaitu:

1. Jika terjadi kondisi berikut, maka aku perlu tetap di rumah (isolasi mandiri):

  • setelah tes aku mengalami gejala-gejala yang terjadi karena virus corona, dalam kondisi ini aku perlu juga melakukan tes ulang
  • ada orang yang tinggal serumah (minimal usia 6 tahun) dengan gejala corona, isolasi mandiri dilakukan sampai si penderita corona dites dan diketahui hasilnya
  • bepergian ke negara yang termasuk zona oranye corona, untuk kondisi ini maka isolasi mandiri selama 10 hari, baik ada keluhan (gejala) ataupun tidak, jika ada gejala maka dilakukan tes

2. Jika dalam 5 hari ke depan (setelah tes) aku bertemu atau ada kontak langsung dengan orang yang telah terkena virus corona, maka yang perlu kulakukan:

  • catat dengan siapa saja telah bertemu dan laporkan kepada petugas yang mengurusi masalah ini
  • jika orang yang telah terkena corona ini sudah diketahui, maka aku pun akan mendapat pemberitahuan melalui aplikasi

3. Aku boleh keluar rumah (tidak perlu lagi isolasi mandiri), sambil tetap memperhatikan apakah ada gejala lain yang kurasakan, terutama yang berkaitan dengan virus corona, juga tetap menjalankan protokol kesehatan.

4. Jika aku terkena gejala ini setelah ada kontak langsung dengan penderita corona, dan kontak ini terjadi kurang dari 5 hari yang lalu, maka tes swabku dinyatakan terlalu awal, sehingga hasil tes tidak berlaku lagi. Aku perlu menunggu 5 hari setelah kontak itu terjadi untuk tes ulang.

Tentu saja poin nomer 4 tidak berlaku untukku, karena memang selama masa lockdown ini aku hampir tidak bertemu langsung dengan orang lain. Bahkan, sejak semingguan yang lalu mulai batuk juga sudah tidak pernah keluar rumah dan menerima kunjungan. Alhamdulillah keluargaku (yang tinggal serumah) juga dalam kondisi sehat.

Yang jelas, aku bersyukur dengan hasil tes swab yang menyatakan aku negatif virus corona. Semoga virus ini bisa segera terkendali. Apalagi Belanda sudah memulai program vaksinasi yang diawali untuk para tenaga kesehatan di sini.

Pengalaman Tes Swab Corona

Kejadian ini terjadi kemarin (11/1/21), tetapi aku baru sempat membuat tulisan ini hari ini (12/1/21).
Sudah semingguan ini aku mengalami batuk. Gejala yang kualami hanyalah batuk kering yang cukup mengganggu terutama ketika malam, sehingga kurang tidur, berakibat badan menjadi terlalu cepat capek dan lesu. Beberapa hari merasa demam tetapi suhu tubuh tertinggi hanya 36.7oC.

Aku sempat berpikir untuk tes corona. Di Belanda, direkomendasikan, jika mengalami sakit yang disertai gejala-gejala yang diderita pasien corona, sebaiknya melakukan tes corona. Namun, karena gejalaku hanya batuk, sedangkan suhu tubuh normal, maka keinginan tes itu aku tunda. Untuk berjaga-jaga, maka sejak batuk, aku hanya di rumah saja, tidak pernah sekalipun keluar rumah. Selama ini keperluanku keluar juga sudah terbatas, misal hanya untuk berbelanja saja.

Hingga tanggal 11 Januari 2021, karena aku ada janji periksa ke bidan, aku memutuskan untuk menelepon bidan beberapa jam sebelum waktu periksa. Tujuanku menelepon untuk memastikan apakah aku bisa datang ke lokasi praktik ataukah jangan datang dulu karena sedang batuk. Ketika dalam kondisi tidak fit, memang disarankan untuk tidak datang ke lokasi praktik bidan. Setelah berdiskusi mengenai keadaanku lewat telepon, bidan memutuskan agar aku tes corona dahulu dan tidak perlu datang periksa. Hal ini untuk memastikan apakah ini batuk biasa atau ada kemungkinan aku telah terkena virus corona. Setelah mengetahui hasil tes, maka aku perlu menelepon bidan lagi untuk mengganti janji yang pada akhirnya dibatalkan ini.

Tes Swab Corona

Maka, hari itu juga, aku segera menghubungi call centre tes corona untuk membuat janji tes. Sebenarnya, janji untuk tes bisa juga dilakukan melalui website untuk memilih waktu dan tempat di mana akan melakukan tes corona.

Melalui telepon, petugas menanyakan data diriku, kemudian memastikan gejala-gelaja yang kualami. Gejala yang ditanyakan petugas adalah tentang jenis batukku, apakah disertai bersin-bersin, radang tenggorokan, gampang capek, badan nyeri (pegal-pegal), demam, dan apakah indera perasaku masih berfungsi. Gejalaku hanyalah batuk kering, jarang bersin, mungkin dalam seminggu batuk ini, hanya sedikit sekali bersin. Mengenai gampang capek dan pegal-pegal, aku mengatakan bahwa sedang hamil, jadi tidak bisa memastikan apakah capek dan pegal ini karena hamil atau sakit. Bahkan sejak sebelum batuk pun sudah mengalami dua kondisi ini. Kalaupun gampang capek dan lesu, sepertinya juga karena kurang tidur karena terganggu batuk saat malam.

Selain itu, petugas juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini:

  • apakah ada anggota keluarga yang pernah terkena corona
  • apakah aku pernah ada kontak dengan orang yang terkena corona
  • apakah aku pernah dihubungi atau mendapat pesan untuk melakukan tes corona
  • apakah aku pernah bepergian ke luar belanda
  • apakah aku bekerja di sektor kesehatan atau pekerjaan yang membuatku harus ke luar rumah

Semua pertanyaan di atas kujawab tidak, karena memang gelajaku hanya batuk saja yang menurutku disebabkan oleh cuaca dingin, di mana setiap tahun batuk ini selalu datang setiap musim dingin.

Meskipun demikian, tetap aku perlu tes corona. Petugas memilihkan tempat yang terdekat dengan rumahku dan waktu yang aku bisa datang ke lokasi tersebut. Petugas memberi tahu bahwa hasil tes akan diberitahukan 24-48 jam setelah tes, bisa melalui telepon, email, dan website. Selama belum ada hasil tes, maka aku diminta tetap di rumah saja, menjaga jarak, dan tidak menerima tamu. Anggota keluarga selama tidak menampakkan gejala sakit, boleh keluar rumah dan menerima tamu.

Setelah namaku terdaftar untuk ikut tes, maka aku diberitahu akan ada pesan dan email konfirmasi tentang jadwal tesku. Aku bisa tes hari itu juga, bahkan waktunya pun bisa langsung, kurang lebih 20 menit setelah telepon selesai. Jarak lokasi tes dengan rumahku pun sangat dekat, bisa ditempuh dengan bermobil kurang lebih 10 menit perjalanan.

Mengenai pesan konfirmasi yang akan dikirimkan melalui sms dan email, petugas memberi tahu bahwa biasanya pesan konfirmasi ini akan sampai dalam waktu sejam. Pesan konfirmasi ini nantinya perlu ditunjukkan kepada petugas di lokasi tes. Namun, karena waktu tesku kurang dari 1 jam setelah telepon, maka aku berangkat saja, tidak perlu menunjukkan pesan konfirmasi tersebut jika memang belum sampai. Maka aku pun segera berangkat ke lokasi tes corona dengan membawa identitas diri dan bermasker, sesuai pesan petugas call centre. Karena yang dites hanya aku, maka aku pun berangkat sendiri.

Sesampainya di lokasi, ada petugas di pintu gerbang yang memastikan bahwa aku sudah ada janji untuk tes hari itu. Hanya orang yang sudah ada janji tes saja yang diperbolehkan masuk. Aku memberi tahu bahwa aku sudah menelepon call centre corona, tetapi pesan konfirmasi belum sampai, tetapi aku sudah tahu jam berapa waktu tesku. Maka aku dipersilakan melajukan mobilku sampai lokasi antri mobil. Disini, tidak boleh memfoto apapun, ada tanda rambu besar bahwa memfoto dilarang, maka aku tidak memfoto apapun.

Dilarang Memotret

Saat aku antri, mendapat nomor urut 3. Sebelum aku masuk ke jalur antri mobil, mobil di depanku diminta untuk menurunkan orang yang ikut di dalam mobil tetapi tidak termasuk orang yang dites. Beruntung, aku berangkat sendiri. Setelah 2 mobil masuk, maka giliranku pun tiba. Disambut oleh petugas di pintu lokasi tes, memastikan hal yang sama, yaitu aku sudah membuat janji untuk tes. Kujelaskan hal yang sama seperti saat petugas pintu gerbang menanyaiku. Aku pun dipersilakan maju, masih di dalam mobil, menuju petugas pertama. Petugas pertama ini hanya berpakaian biasa (bukan APD), menggunakan masker, berkaca mata pelindung, dan bersarung tangan. Petugas pertama ini menyambutku dari dalam bilik terbuka, kemudian memastikan waktu janjian tesku.

Ada 2 orang petugas di bilik pertama ini, yang menanyaiku hanya satu, dan dua-duanya berpakaian biasa hanya dilengkapi dengan kaca mata pelindung, masker, dan sarung tangan. Dikarenakan aku tidak bisa menunjukkan pesan konfirmasi dari call centre, maka petugas ini memeriksa data diriku di komputer. Setelah menemukan namaku, petugas ini memberikan tabung (tube) di dalam plastik jernih (plastik biasa) disertai pesan bahwa tabung ini perlu diserahkan ke petugas selanjutnya.

Aku pun menuju petugas selanjutnya, terlihat ada angka 1 – 10 yang menunjukkan nomer bilik masing-masing petugas swab, dan giliranku adalah di bilik nomer 2. Bilik terbuka yang di dalamnya ada 1 orang petugas dengan pakaian APD lengkap, berkaca mata pelindung, bermasker, dan bersarung tangan. Aku pun menyerahkan tabung dari petugas pertama. Petugas ini menyuruhku bersin di tisu, kemudian meminta tisu itu dimasukkan ke plastik dan nanti dibuang di rumah. Setelah itu, petugas ini melakukan tes swab, dimulai dari bagian tenggorokan, kemudian hidung. Alat swab dimasukkan ke dalam tabung yang sudah kuberikan tadi. Terakhir, petugas memberiku brosur mengenai apa yang harus dilakukan setelah tes ini.

Aku pun segera menuju pintu keluar. Alur jalan di lokasi tes ini dari pintu gerbang, hingga masuk ke lokasi tes tidak terlalu jauh, dan jelas sekali, diberi tanda pembatas jalan dan keterangan ke arah mana mobil dijalankan, bahkan dibantu oleh beberapa petugas untuk menunjukkan jalan hingga ke jalan keluar. Di lokasi, mesin mobil hanya dimatikan ketika bertemu petugas pertama (yang menyerahkan tabung) dan kedua (yang melakukan tes). Total waktu yang dibutuhkan dari masuk lokasi tes hingga keluar sekitar 5-7 menit.

Terima kasih telah melakukan tes corona –
Bersama-sama kita bisa mengendalikan corona

Sesampai di rumah, kubaca informasi di dalam brosur yang diberikan oleh petugas. Dari brosur ini, aku mendapat informasi apa yang perlu kulakukan setelah tes ini hingga hasil tes keluar, antara lain:

  • tetap berada di rumah, tidak keluar rumah (jika keluar rumah pun hanya boleh di pekarangan atau kebun)
  • tidak menerima tamu (kunjungan), kecuali dokter atau petugas kesehatan jika memang diperlukan
  • menjaga jarak dengan anggota rumah
  • menjaga kebersihan, sering cuci tangan, jika batuk atau bersin di dalam siku, menggunakan tisu sekali pakai
  • memperhatikan telepon dan email untuk mengetahui hasil tesnya, kadang hasil tes masuk ke kotak spam
  • memperhatikan dan mengingat dengan siapa dalam beberapa hari ini kontak
  • jika yang dites anak-anak, maka hal-hal ini tidak berlaku

Semua anggota rumah tetap tinggal di rumah (tidak boleh keluar) jika orang yang dites corona mengalami gejala-gejala yang lebih berat, seperti demam (suhu tinggi) atau kesulitan bernafas, juga jika di dalam rumah tersebut ada yang terkena corona.


Selain info tentang apa yang perlu kulakukan selama menunggu hasil tes, di dalam brosur tersebut juga diberi tahukan informasi berikut:

Jika hasil tes negatif, maka saat dilakukan tes swab, tidak ditemukan adanya virus corona, maka boleh keluar rumah, tentu saja seperlunya, mengingat sekarang di belanda juga sedang lockdown. Jika ada orang yang serumah mengalami gejala corona dan belum dites, atau bakan sudah terkena corona, maka walaupun hasil tes negatif, tetap tidak boleh keluar rumah. Ini dikecualikan jika yang dites anak-anak sampai usia 5 tahun.

Jika hasil tes positif, maka saat tes ditemukan bahwa telah terinfeksi virus corona. Sudah pasti harus tetap di rumah, termasuk anggota keluarga yang tinggal serumah, tidak menerima tamu, menjaga jarak dengan anggota rumah. Petugas yang menangani corona akan menelepon dan memberi tahu lebih lanjut, termasuk mengidentifikasi pernah kontak dengan siapa saja. Kemudian, ketika tahu hasil tes positif, maka perlu memberi tahu dokter keluarga, dan orang-orang tertentu yang memang perlu tahu, misalnya kalau aku, selain dokter, maka perlu memberi tahu bidan, untuk orang-orang yang bekerja, maka memberi tahu tempat kerjanya.

Semoga saja hasil tes swabku negatif dan tidak ada virus corona di dalam badanku 🙂
Hasil tes kutuliskan di postingan ini.

Belanda Lockdown Lagi

Kasus Covid-19 di Belanda mengalami peningkatan. Untuk itu, 14/12/20, malam hari, Perdana Menteri Rutte mengadakan konferensi pers terkait kondisi tersebut. Beberapa hal untuk menangani lonjakan kasus Covid yang diumumkan dalam konferensi pers, antara lain:

  • Sekolah ditutup dari tangal 16/12/20 – 19/1/21. Tanggal 21 Desember mendatang sudah masuk masa libur akhir tahun di Belanda. Kebijakan penutupan sekolah ini membuat waktu liburan dimajukan, mulai 16/12/20 hingga 3/1/21. Setelah itu, sekolah akan diadakan online di rumah hingga 19 Januari 2021.
  • Toko-toko yang tidak menjual kebutuhan pokok (penting) ditutup. Supermarket dan toko yang menjual bahan makanan tetap dibuka.
  • Tempat olahraga ditutup, kecuali yang memungkinkan olahraga dilakukan di luar boleh tetap buka dengan batasan tertentu. Misal, olahraga hanya per 2 orang di luar ruangan dengan jarak 1,5 meter.

Belanda memutuskan untuk melakukan lockdown lagi dikarenakan kasus Covid semakin bertambah. Untuk mengantisipasi tidak ada lonjakan pasien dan tidak bertambah parah penularan.

Sehari setelah diumumkan hasil konferensi pers, hari terakhir sebelum lockdown, yaitu tanggal 15 Desember, banyak orang mengunjungi pusat kota, di mana banyak toko masih buka. Memang tidak ada penimbunan bahan makanan, dikarenakan toko-toko makanan tetap dibuka. Meskipun demikian, tetap berlaku protokol kesehatan yang ketat. Ketersediaan bahan makanan, obat, hand sanitizer, masker, juga dikabarkan mencukupi.

Stay Safe, Stay at Home

Aturan umum yang berlaku di masyarakat pun dibuat, seperti memakai masker di tempat umum. Jika dulu saat lockdown pertama, masker hanya diberlakukan saat menggunakan transportasi umum, kemudian berlanjut pemberlakuan masker di tempat yang tidak memungkinkan menjaga jarak, maka sekarang ini orang-orang diminta memakai masker ketika harus keluar rumah.

Kunjungan dari orang luar rumah diperbolehkan, tetapi hanya maksimal 2 orang dewasa yang boleh berkunjung, anak-anak sampai usia 12 tahun tidak dihitung. Artinya jika yang datang ke rumah 10 anak usia di bawah 12 tahun masih diperbolehkan, namun orang dewasa (termasuk anak-anak di atas usia 12 tahun) maksimal hanya boleh 2 orang.

Penutupan lokasi-lokasi yang memungkinkan orang berkerumun, seperti perpustakaan, bioskop, kebun binatang, museum, dll. Aktivitas di perpustakaan hanya untuk mengembalikan dan mengambil buku saja. Pemesananan untuk peminjaman buku bisa dilakukan online, kemudian diambil di perpustakaan pada jam-jam yang sudah ditentukan.

Acara-acara yang memungkinkan orang berkerumun, walaupun dilakukan di luar dilarang. Hotel dan tempat liburan ditutup. Saat ini sedang menuju libur akhir tahun di Belanda, maka pemerintah melarang warganya untuk liburan ke luar negeri. Bahkan ada himbauan untuk tidak melakukan reservasi liburan ke luar negeri paling tidak sampai Maret tahun depan. Sebisa mungkin warga diminta ke luar rumah dan hanya bepergian jika ada hal darurat yang perlu dilakukan.

Semoga pandemi ini segera berlalu. Apalagi, sudah mulai banyak kabar mengenai ketersediaan vaksin. Di Belanda, vaksin akan diberikan awal tahun 2021 untuk orang-orang dengan kondisi vital, termasuk penyelenggara kesehatan salah satu yang akan mendapat vaksin di awal.

New Normal untuk Anak Sekolah

Sekolah Lagi

Sudah masuk pekan kedua, anak-anak di Belanda kembali ke sekolah. Setelah libur musim panas kurang lebih 1,5 bulan. Kembalinya anak ke sekolah, otomatis kembali juga rutinitas antar jemput anak. Dengan kata lain, kembali lagi rutinitas berinteraksi dengan banyak orang.

Di musim pandemi yang belum usai, ditambah ada kenaikan penyebaran virus, tentu saja orang tua perlu waspada. Ketika mengantar anak ke sekolah, dalam situasi yang berkerumun orang, protokol kesehatan tidak lagi dihiraukan.

Di Belanda, tidak ada kewajiban memakai masker, kecuali di tempat-tempat tertentu, seperti transportasi umum. Selebihnya, bebas saja, mau pakai masker atau pun tidak. Jarak yang disarankan 1,5m, ini juga belum tentu semua sadar melakukannya. Kondisi “new normal” ini, menurutku sudah terlihat normal untuk banyak orang.

Praktis, dari hari pertama mengantar jemput anak, yang terjadi adalah para orang tua yang bergerombol di depan pintu gerbang. Pihak sekolah saja sampai kewalahan untuk mengatur para orang tua ini agar menjaga jarak. Walaupun, sudah diinformasikan kepada orang tua sejak sehari sebelumnya tentang protokol kesehatan untuk menemani hari pertama anak ke sekolah.

New Normal

Lalu, bagaimana penerapan new normal di sekolah? Tentu saja pihak sekolah menerapkannya dengan peraturan yang sesuai dengan protokol kesehatan. Antar jemput anak dibagi dalam tiga lokasi, sehingga tidak ada penumpukan di satu pintu gerbang. Orang tua juga dilarang masuk ke dalam sekolah, walaupun di hari pertama banyak juga yang akhirnya masuk ke dalam area sekolah. Memang, ada pengecualian untuk anak-anak play group dan hari pertama tk kecil, orang tua boleh ikut sampai kelas. Namun, ada juga yang menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke dalam kelas, misalnya, karena anaknya belum berani.

Lokasi Antar Jemput Anak

Peraturan tersebut sudah diberitahukan terlebih dahulu sejak H-1 masuk sekolah. Pengaturan lokasi dan jam antar jemput anak berbeda-beda untuk setiap group (kelas). Juga ada peraturan khusus untuk anak yang memiliki saudara di kelas lain. Anak-anak itu dikumpulkan dengan saudaranya di suatu lokasi, sehingga orang tua hanya di satu tempat itu untuk menjemputnya.

Bagaimana jika ada murid yang sakit?

Sekolah memberikan informasi bagaimana menentukan apakah anak dapat masuk sekolah atau tidak. Jika kondisinya sehat, tentu saja tidak ada halangan untuk masuk sekolah. Namun, jika kondisinya sakit, tidak semua diperbolehkan masuk. Selama ini, sebelum pandemi, jika ada yang sakit dan masih memungkinkan masuk sekolah, maka tidak perlu izin. Misal, batuk, pilek, alergi, dan jenis-jenis penyakit ringan lainnya. Namun, untuk saat ini, bahkan jika hanya sakit batuk dan pilek, orang tua harus menilai apakah anak tersebut bisa tetap masuk atau perlu izin.

Bagaimana jika murid sakit?

Diagram ini untuk menentukan apakah murid dapat masuk sekolah atau tidak. Termasuk, apakah orang tua (wali murid/pengasuh) diperbolehkan antar jemput anak atau tidak. Dengan mencocokkan kondisi sehat atau sakitnya dengan pertanyaan pada diagram. Cara membaca diagram ini lebih lengkapnya di sini.

Diagram tersebut dibuat dari peraturan pemerintah yang dilandaskan pada pertimbangan RIVM. Lembaga ini berkerja dalam bidang penelitian kesehatan masyarakat dan lingkungan. Salah satu tugasnya adalah mengontrol penyakit menular, agar tidak menyebar di masyarakat. Maka, penanggulangan COVID-19 adalah tanggung jawabnya.

Penerapan Protokol Kesehatan Di Sekolah

Sekolah juga mensosialisasikan kepada orang tua, melalui aplikasi, bagaimana penerapan protokol kesehatan di sekolah. Sehingga orang tua dapat mengajak bicara anak, tentang apa yang boleh dan tidak dilakukan, selama di sekolah. Bagaimana situasi di sekolah akan berbeda dengan sebelumnya.

Protokol kesehatan ini, antara lain:

  1. Aturan Umum, memuat:
    • Semua anggota sekolah perlu sering mencuci tangan dengan air dan sabun selama minimal 20 detik.
    • Jarak 1,5m hanya berlaku antara orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak tidak perlu
    • Jika di dalam masing-masing kelas ada 3 atau lebih murid sakit maka perlu dilaporkan kepada lembaga terkait, yang menangani kesehatan anak-anak di Belanda (GGD)
  2. Kontak fisik, termasuk:
    • Tidak ada saling memberi tangan (salaman) antara guru ke murid, untuk antar orang dewasa, tidak ada sentuhan fisik
    • Batuk, bersin di dalam siku
    • Larangan untuk menyentuh wajah
  3. Higienitas, seperti:
    • Sering mencuci tangan dengan sabun, setidaknya selama 20 detik, sebelum masuk kelas, sebelum dan setelah istirahat, setelah ke toilet
    • Gunakan tisu untuk membersihkan ingus, keringat, atau tangan
  4. Kebersihan kelas dan lingkungan sekolah harus selalu terjaga, termasuk fasilitas dan peralatan pembelajaran
  5. Jika ada pengampu sekolah (misal guru) terkena gejala corona, maka akan diumumkan melalui aplikasi, sehingga menambah kewaspadaan untuk semua

Diharapkan dengan sosialisasi dan penerapan protokol kesehatan ini, orang tua dan anak-anak terjaga dari kemungkinan tersebarnya virus COVID-19. Dengan ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini, maka kerja sama sekolah dan orang tua sangat diharapkan. Sehingga anak-anak mampu menerapkan kondisi new normal yang memang hal baru untuk mereka.

Anak Sakit, Bolehkah Masuk Sekolah?

Dalam rangka mempersiapkan anak kembali ke sekolah, pihak sekolah telah mensosialisasikan beberapa hal melalui aplikasi. Terutama karena kondisi pandemi yang membuat situasi berbeda dengan sebelumnya. Salah satu informasi yang disampaikan adalah diagram keputusan di bawah ini. Ada beberapa kondisi yang membuat anak tidak boleh masuk sekolah. Diagaram ini berlaku untuk rentang usia 0 – 3 tahun dan 4 – 12 tahun.

Bagaimana cara memutuskan?
Pohon Keputusan – COVID 19

Jika anak sakit, maka lihat diagram dengan cara:

1 – Apakah anak yang sakit ini kurang dari 10 hari yang lalu berada di zona oranye atau merah? Jika ya, ke 2a, jika tidak ke 2b.

2a – Berapa umur anak? Untuk usia 0 – 3 tahun maka anak tersebut selama 10 hari di rumah saja (3a kotak merah). Untuk umur 4 – 12 tahun, ada dua pertimbangan (3a kotak oranye), yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan COVID-19 dan apakah di rumah si anak ada yang sakit corona atau demam atau sesak nafas. Jawaban ditentukan dengan melihat poin 4a.

4a – Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (4a kotak merah). Jika tidak, maka dilihat apakah anak ada gejala pilek/hidung tersumbat (4a kotak oranye).

5a – Jika jawaban ya (5a kotak biru), lanjutkan ke diagram keputusan dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (5a kotak hijau).

2b – Jika anak sakit tidak karena pernah berada di zona oranye atau merah, maka ada dua pertimbangan, yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan corona dan apakah di rumah si anak ada yang sakit atau ada gejala corona atau demam atau sesak nafas. Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (3b kotak merah). Jika jawaban tidak, maka perlu dipertimbangkan apakah anak tersebut sedang pilek/hidung tersumbat atau tidak (3b kotak oranye). Lanjutan ke poin 4b.

4b – Jika jawaban ya, ikuti alur diagram keputusan (5b kotak biru) dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (4b kotak hijau).

6. Untuk orang tua (wali murid) dan anak-anak kelas atas dengan gejala, seperti demam, batuk, suhu badan naik, kehilangan indra perasa tiba-tiba, maka disarankan untuk melakukan tes.

7. Orang tua yang sedang masa karantina rumah 10 hari, tidak boleh antar jemput anak ke sekolah

Bolehkah anak dengan gejala hidung tersumbat ke sekolah?

Jika anak mengalami hidung tersumbat, biasanya gejala pilek, maka ada dua diagram untuk memutuskan. Pengambilan keputusan yang berbeda untuk rentang umur 0 – 6 tahun dan 7 – 12 tahun. Setelah melihat diagram tersebut, bisa diputuskan apakah anak boleh masuk sekolah atau tetap di rumah.

Usia – 6 tahun

Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan. Maksud dari hidung tersumbat, adalah gejala yang meliputi keluarnya ingus, apapun warnanya, apakah itu disertai bersin ataupun sakit tenggorokan maupun tidak.

Untuk anak umur 0 – 6 tahun

1 – Apakah anak mengalami gejala?

2 – Apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas?

3 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah suhu tubuhnya 38oC atau lebih?

4 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?

5 – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?

6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.

Usia 7 – 12 tahun

Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan dalam rentang usia anak 7 – 12 tahun.

1 – Apakah anak mengalami gejala?

2a – Jika ya, apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma? Lanjutkan ke 3a.

2b – Jika tidak, apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Lanjutakan ke 3b.

3a – Untuk anak yang tidak biasa dengan gejala tersebut (kotak merah), tetap di rumah. Untuk anak yang biasa memiliki gejala sakit tersebut (kotak biru), dipertimbankan: apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? atau apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Jika ya (4a kotak merah), maka tetap di rumah, jika tidak (4a kotak hijau), boleh masuk sekolah.

3b – Jika jawaban dari 2b ya (kotak merah), maka tetap di rumah. Jika jawaban tidak (kotak biru), cek suhu badannya. Apakah 37.5oC – 37.9oC atau 38oC atau lebih?

4b – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?

5b – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?

6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.

Sampai kapan di rumah?

Selama apa anak tetap di rumah? Setelah 24 jam tidak terjadi gejala sakit lagi, seperti batuk, pilek, demam, sesak nafas, maka ulangi lagi penilaian dengan diagram. Hingga dinyatakan anak boleh masuk sekolah, yaitu hingga penilaian pada kotak hijau.

Covid-19: Apa yang berubah?

Sejak Covid-19 melanda Belanda, aktivitas fisik terbatasi, lebih banyak tinggal di rumah. Sejak Maret, pemerintah menutup tempat-tempat publik, seperti sekolah, kantor, restoran, taman, dll, untuk memangkas penyebaran virus ini. Setelah kondisi terkendali, 2 bulan kemudian, fasilitas umum mulai dibuka secara terbatas. Contohnya, sekolah masuk secara bergantian, dimulai dari TK, SD, hingga bertahap ke SMP dan SMA, sampai dapat dibuka sepenuhnya. Kalau toko-toko bahan makanan, sejak awal memang tetap dibuka, hanya dibatasi pengunjungnya, juga aturan jarak 1,5m.

Aturan penjarakan 1,5 di tempat umum

Alhamdulillah, sejak akhir bulan Mei pemerintah Belanda sudah membuka batasannya, melihat aktivitas penyebaran virus ini dapat terkendali. Masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih leluasa di luar rumah, selama memenuhi protokol kesehatan. Tempat-tempat publik mulai dibuka seperti biasa, tentu saja dengan penjarakan 1,5m, dan di tempat-tempat tertentu pemakaian masker diharuskan.

Pemberlakuan protokol kesehatan di Belanda

Lalu apa yang berubah sejak adanya pandemi Covid-19?

Rasa aman dan nyaman saat keluar rumah. Sekarang ini, berada di kerumunan orang, seringkali merasa tidak aman. Kita tidak tahu seberapa sehat orang-orang ini. Walaupun Belanda terkenal dengan kedisiplinan dan tegaknya peraturan, tetap saja ada satu dua orang yang tidak disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.

Batuk dan bersin? Siap-siap jadi perhatian orang. Virus ini menyebar lewat droplet, sehingga di awal virus ini muncul, disarankan orang bersin dan batuk di sikunya atau dengan bermasker. Jika dulu mendengar orang bersin atau batuk, hal biasa. Saat ini, orang di sekitar akan melihat dan was-was jika sampai ada orang yang batuk atau bersin, karena khawatir orang ini sakit terkena virus.

Padahal, di Belanda, covid ini mulai muncul di awal musim semi, dan sekarang ini sedang musim panas. Hal biasa, jika ada orang alergi polen (serbuk sari bunga), di musim-musim ini, maka orang ini akan bersin. Tentu saja menahan bersin tidak nyaman, sehingga mau tidak mau harus dikeluarkan, lalu orang-orang akan memandanginya. Apalagi, jika orang ini tidak bermasker.

Bermasker atau memakai face shield. Pada dasarnya, masker itu untuk orang sakit agar tidak menulari orang sehat. Sejak pandemi, orang sehat pun bermasker agar tidak terkena virus yang bisa masuk lewat saluran pernapasan. Face shield juga menjadi barang yang umum dipakai orang saat ini.

Meskipun begitu, aturan bermasker di Belanda, memang tidak untuk semua orang dan tidak di semua tempat. Di transportasi umum, para pengguna memang wajib bermasker, tetapi selain itu tidak. Di tempat umum, masker juga tidak wajib dipakai. Di tempat orang berkerumun, disarankan memakai masker, tetapi kalaupun tidak juga tidak apa-apa, kecuali memang diwajibkan di tempat tersebut.

Perhatian pada kebersihan. Ada beberapa barang yang perlu ada untuk menghadapi virus ini. Masker, tisu, hand sanitizer, desinfektan, sabun dan air yang sangat berkaitan dengan kebersihan. Orang akan segera mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer untuk membersihkannya. Diketahui, virus akan mati dengan sabun, maka disarankan sering mencuci tangan memakai sabun dan air.

Jika sebelum pandemi, mungkin kepedulian untuk cuci tangan bisa dibilang rendah. Orang tidak keberatan langsung makan tanpa cuci tangan. Namun, sejak pandemi, bukan karena makan pun orang akan otomatis mencuci tangannya. Misal, setelah bepergian, atau setelah menyentuh barang tertentu. Bahkan, orang akan waspada jika ingin menyentuh sesuatu atau ketika bersentuhan dengan orang.

Berjabat tangan. Salaman adalah hal yang lumrah, begitu juga cium pipi kanan kiri saat bertemu. Pandemi ini membuat orang-orang tidak bisa bersentuhan dengan nyaman. Budaya salaman di Indonesia, menjadi asing. Menelungkupkan tangan di dada atau menempelkan siku lebih dipilih, untuk menghindari tersebarnya virus ini.

Jarak yang memisahkan. Jarak teraman saat bertemu orang lain sekitar 1,5m. Jika dulu sedang berkumpul atau berada di keramaian biasa saja jika harus berdekatan. Sekarang perlu menjaga jarak 1,5m dengan orang atau keluarga lain jika bertemu. Antrian di tempat-tempat umum pun dibuat berjarak 1,5m. Ketika di kendaraan, jika bukan orang yang tinggal satu rumah (bukan keluarga), termasuk di mobil, tetap jarak ini berlaku.

Simbol hati menunjukkan posisi antrian berjarak 1,5m di taman wisata Madurodam

Kenaikan berat badan. Meskipun tidak semua mengalami, bisa jadi malah turun atau tidak berubah. Orang-orang yang banyak pikiran karena pandemi ini, atau sedang sakit, bisa jadi berat badannya justru turun. Kenaikan berat badan ini disebabkan lebih banyak di rumah, sehingga jarang melakukan aktivitas fisik dan terlalu banyak suplai makanan.

Untuk aku pribadi, sebelum pandemi, ketika ada keperluan keluar rumah, sering kali jalan kaki, bersepeda, atau naik kendaraan umum. Setelah adanya pandemi, lebih banyak bermobil. Hal ini menyebabkan aktivitas fisik berkurang. Jalan kaki dan bersepeda walaupun untuk tujuan lain, tapi bisa juga menjadi sarana olahraga buatku. Olahraga di rumah juga tidak semudah itu, apalagi waktuku banyak terpakai untuk menemani anak sekolah di rumah.

Selain itu, dikarenakan semua anggota keluarga lebih banyak di rumah, apalagi ada anak kecil, maka makanan menjadi salah satu andalan untuk mengurangi rasa bosan. Apalagi dengan adanya work from home dan school from home, menjadi salah satu semangat untuk mencoba resep-resep baru yang bisa disajikan untuk anak dan suami.

Dua hal ini, jarang beraktivitas fisik dan makan-makan menjadikan berat badanku melonjak banyak.

Kebersamaan keluarga. Ini adalah momen berharga yang aku syukuri saat pandemi ini. Menurutku, kualitas hubungan keluarga terbangun dengan banyaknya waktu bersama. Sejak pandemi, suami kerja di rumah, anak sekolah di rumah, sehingga waktu kami untuk bersama lebih banyak. Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi.

Di awal memang banyak penyesuaian yang terjadi, bahkan menimbulkan keributan dan perselisihan. Aku juga merasa sesi me time-ku kurang sekali, dibandingkan saat anak sedang sekolah. Terlalu banyak waktu dengan suami ternyata juga menimbulkan ‘kebosanan’ tersendiri. Begitu juga suami ada juga masalah yang terjadi sejak kerja di rumah yang berimbas pada hubungan kami. Seiring dengan berjalannya waktu, alhamdulillah masalah-masalah ini dapat diatasi. Sehingga, masalah berganti dengan rasa syukur. Justru, karena ada pandemi ini, kami lebih punya banyak waktu kebersamaan.

Kalau membaca berita, hal semacam ini ternyata banyak terjadi. Keributan antar suami-istri, bahkan anak, kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi justru karena terlalu sering berinteraksi. Banyak konflik dalam rumah tangga yang terjadi karena orang tidak bisa mencari penyegaran di luar rumah. Kadang, ketika ada masalah, antar yang bermasalah ini memang perlu menjauh dahulu, agar tidak memuncak. Namun, di masa pandemi, tidak ada pilihan lain, antar pasangan ataupun anak yang bermasalah akan selalu bertemu. Inilah penyebab konflik dalam rumah tangga meningkat selama pandemi.

Alhamdulillah, anak kami tidak terlalu bermasalah. Umurnya masih 5 tahun, yang penting ada bapak ibu bersamanya. Bahkan, anak kami lebih senang sekolah di rumah, terasa lebih menyenangkan dan tidak melelahkan, daripada ketika di sekolah. Salah satu yang membuatnya tidak terlalu suka sekolah, karena harus berpisah dengan ibunya. Kalau sekolah di rumah, selalu bersama ibunya. Ungkapan ini tentu saja membuat aku bersyukur sekali.

Nah, itulah hal-hal yang kurasakan berubah sejak adanya pandemi Covid-19. Ada yang menyenangkan, ada pula yang tidak. Semoga kondisi segera pulih, di belahan dunia manapun.