Pengalaman Tes Swab Corona

Kejadian ini terjadi kemarin (11/1/21), tetapi aku baru sempat membuat tulisan ini hari ini (12/1/21).
Sudah semingguan ini aku mengalami batuk. Gejala yang kualami hanyalah batuk kering yang cukup mengganggu terutama ketika malam, sehingga kurang tidur, berakibat badan menjadi terlalu cepat capek dan lesu. Beberapa hari merasa demam tetapi suhu tubuh tertinggi hanya 36.7oC.

Aku sempat berpikir untuk tes corona. Di Belanda, direkomendasikan, jika mengalami sakit yang disertai gejala-gejala yang diderita pasien corona, sebaiknya melakukan tes corona. Namun, karena gejalaku hanya batuk, sedangkan suhu tubuh normal, maka keinginan tes itu aku tunda. Untuk berjaga-jaga, maka sejak batuk, aku hanya di rumah saja, tidak pernah sekalipun keluar rumah. Selama ini keperluanku keluar juga sudah terbatas, misal hanya untuk berbelanja saja.

Hingga tanggal 11 Januari 2021, karena aku ada janji periksa ke bidan, aku memutuskan untuk menelepon bidan beberapa jam sebelum waktu periksa. Tujuanku menelepon untuk memastikan apakah aku bisa datang ke lokasi praktik ataukah jangan datang dulu karena sedang batuk. Ketika dalam kondisi tidak fit, memang disarankan untuk tidak datang ke lokasi praktik bidan. Setelah berdiskusi mengenai keadaanku lewat telepon, bidan memutuskan agar aku tes corona dahulu dan tidak perlu datang periksa. Hal ini untuk memastikan apakah ini batuk biasa atau ada kemungkinan aku telah terkena virus corona. Setelah mengetahui hasil tes, maka aku perlu menelepon bidan lagi untuk mengganti janji yang pada akhirnya dibatalkan ini.

Tes Swab Corona

Maka, hari itu juga, aku segera menghubungi call centre tes corona untuk membuat janji tes. Sebenarnya, janji untuk tes bisa juga dilakukan melalui website untuk memilih waktu dan tempat di mana akan melakukan tes corona.

Melalui telepon, petugas menanyakan data diriku, kemudian memastikan gejala-gelaja yang kualami. Gejala yang ditanyakan petugas adalah tentang jenis batukku, apakah disertai bersin-bersin, radang tenggorokan, gampang capek, badan nyeri (pegal-pegal), demam, dan apakah indera perasaku masih berfungsi. Gejalaku hanyalah batuk kering, jarang bersin, mungkin dalam seminggu batuk ini, hanya sedikit sekali bersin. Mengenai gampang capek dan pegal-pegal, aku mengatakan bahwa sedang hamil, jadi tidak bisa memastikan apakah capek dan pegal ini karena hamil atau sakit. Bahkan sejak sebelum batuk pun sudah mengalami dua kondisi ini. Kalaupun gampang capek dan lesu, sepertinya juga karena kurang tidur karena terganggu batuk saat malam.

Selain itu, petugas juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini:

  • apakah ada anggota keluarga yang pernah terkena corona
  • apakah aku pernah ada kontak dengan orang yang terkena corona
  • apakah aku pernah dihubungi atau mendapat pesan untuk melakukan tes corona
  • apakah aku pernah bepergian ke luar belanda
  • apakah aku bekerja di sektor kesehatan atau pekerjaan yang membuatku harus ke luar rumah

Semua pertanyaan di atas kujawab tidak, karena memang gelajaku hanya batuk saja yang menurutku disebabkan oleh cuaca dingin, di mana setiap tahun batuk ini selalu datang setiap musim dingin.

Meskipun demikian, tetap aku perlu tes corona. Petugas memilihkan tempat yang terdekat dengan rumahku dan waktu yang aku bisa datang ke lokasi tersebut. Petugas memberi tahu bahwa hasil tes akan diberitahukan 24-48 jam setelah tes, bisa melalui telepon, email, dan website. Selama belum ada hasil tes, maka aku diminta tetap di rumah saja, menjaga jarak, dan tidak menerima tamu. Anggota keluarga selama tidak menampakkan gejala sakit, boleh keluar rumah dan menerima tamu.

Setelah namaku terdaftar untuk ikut tes, maka aku diberitahu akan ada pesan dan email konfirmasi tentang jadwal tesku. Aku bisa tes hari itu juga, bahkan waktunya pun bisa langsung, kurang lebih 20 menit setelah telepon selesai. Jarak lokasi tes dengan rumahku pun sangat dekat, bisa ditempuh dengan bermobil kurang lebih 10 menit perjalanan.

Mengenai pesan konfirmasi yang akan dikirimkan melalui sms dan email, petugas memberi tahu bahwa biasanya pesan konfirmasi ini akan sampai dalam waktu sejam. Pesan konfirmasi ini nantinya perlu ditunjukkan kepada petugas di lokasi tes. Namun, karena waktu tesku kurang dari 1 jam setelah telepon, maka aku berangkat saja, tidak perlu menunjukkan pesan konfirmasi tersebut jika memang belum sampai. Maka aku pun segera berangkat ke lokasi tes corona dengan membawa identitas diri dan bermasker, sesuai pesan petugas call centre. Karena yang dites hanya aku, maka aku pun berangkat sendiri.

Sesampainya di lokasi, ada petugas di pintu gerbang yang memastikan bahwa aku sudah ada janji untuk tes hari itu. Hanya orang yang sudah ada janji tes saja yang diperbolehkan masuk. Aku memberi tahu bahwa aku sudah menelepon call centre corona, tetapi pesan konfirmasi belum sampai, tetapi aku sudah tahu jam berapa waktu tesku. Maka aku dipersilakan melajukan mobilku sampai lokasi antri mobil. Disini, tidak boleh memfoto apapun, ada tanda rambu besar bahwa memfoto dilarang, maka aku tidak memfoto apapun.

Dilarang Memotret

Saat aku antri, mendapat nomor urut 3. Sebelum aku masuk ke jalur antri mobil, mobil di depanku diminta untuk menurunkan orang yang ikut di dalam mobil tetapi tidak termasuk orang yang dites. Beruntung, aku berangkat sendiri. Setelah 2 mobil masuk, maka giliranku pun tiba. Disambut oleh petugas di pintu lokasi tes, memastikan hal yang sama, yaitu aku sudah membuat janji untuk tes. Kujelaskan hal yang sama seperti saat petugas pintu gerbang menanyaiku. Aku pun dipersilakan maju, masih di dalam mobil, menuju petugas pertama. Petugas pertama ini hanya berpakaian biasa (bukan APD), menggunakan masker, berkaca mata pelindung, dan bersarung tangan. Petugas pertama ini menyambutku dari dalam bilik terbuka, kemudian memastikan waktu janjian tesku.

Ada 2 orang petugas di bilik pertama ini, yang menanyaiku hanya satu, dan dua-duanya berpakaian biasa hanya dilengkapi dengan kaca mata pelindung, masker, dan sarung tangan. Dikarenakan aku tidak bisa menunjukkan pesan konfirmasi dari call centre, maka petugas ini memeriksa data diriku di komputer. Setelah menemukan namaku, petugas ini memberikan tabung (tube) di dalam plastik jernih (plastik biasa) disertai pesan bahwa tabung ini perlu diserahkan ke petugas selanjutnya.

Aku pun menuju petugas selanjutnya, terlihat ada angka 1 – 10 yang menunjukkan nomer bilik masing-masing petugas swab, dan giliranku adalah di bilik nomer 2. Bilik terbuka yang di dalamnya ada 1 orang petugas dengan pakaian APD lengkap, berkaca mata pelindung, bermasker, dan bersarung tangan. Aku pun menyerahkan tabung dari petugas pertama. Petugas ini menyuruhku bersin di tisu, kemudian meminta tisu itu dimasukkan ke plastik dan nanti dibuang di rumah. Setelah itu, petugas ini melakukan tes swab, dimulai dari bagian tenggorokan, kemudian hidung. Alat swab dimasukkan ke dalam tabung yang sudah kuberikan tadi. Terakhir, petugas memberiku brosur mengenai apa yang harus dilakukan setelah tes ini.

Aku pun segera menuju pintu keluar. Alur jalan di lokasi tes ini dari pintu gerbang, hingga masuk ke lokasi tes tidak terlalu jauh, dan jelas sekali, diberi tanda pembatas jalan dan keterangan ke arah mana mobil dijalankan, bahkan dibantu oleh beberapa petugas untuk menunjukkan jalan hingga ke jalan keluar. Di lokasi, mesin mobil hanya dimatikan ketika bertemu petugas pertama (yang menyerahkan tabung) dan kedua (yang melakukan tes). Total waktu yang dibutuhkan dari masuk lokasi tes hingga keluar sekitar 5-7 menit.

Terima kasih telah melakukan tes corona –
Bersama-sama kita bisa mengendalikan corona

Sesampai di rumah, kubaca informasi di dalam brosur yang diberikan oleh petugas. Dari brosur ini, aku mendapat informasi apa yang perlu kulakukan setelah tes ini hingga hasil tes keluar, antara lain:

  • tetap berada di rumah, tidak keluar rumah (jika keluar rumah pun hanya boleh di pekarangan atau kebun)
  • tidak menerima tamu (kunjungan), kecuali dokter atau petugas kesehatan jika memang diperlukan
  • menjaga jarak dengan anggota rumah
  • menjaga kebersihan, sering cuci tangan, jika batuk atau bersin di dalam siku, menggunakan tisu sekali pakai
  • memperhatikan telepon dan email untuk mengetahui hasil tesnya, kadang hasil tes masuk ke kotak spam
  • memperhatikan dan mengingat dengan siapa dalam beberapa hari ini kontak
  • jika yang dites anak-anak, maka hal-hal ini tidak berlaku

Semua anggota rumah tetap tinggal di rumah (tidak boleh keluar) jika orang yang dites corona mengalami gejala-gejala yang lebih berat, seperti demam (suhu tinggi) atau kesulitan bernafas, juga jika di dalam rumah tersebut ada yang terkena corona.


Selain info tentang apa yang perlu kulakukan selama menunggu hasil tes, di dalam brosur tersebut juga diberi tahukan informasi berikut:

Jika hasil tes negatif, maka saat dilakukan tes swab, tidak ditemukan adanya virus corona, maka boleh keluar rumah, tentu saja seperlunya, mengingat sekarang di belanda juga sedang lockdown. Jika ada orang yang serumah mengalami gejala corona dan belum dites, atau bakan sudah terkena corona, maka walaupun hasil tes negatif, tetap tidak boleh keluar rumah. Ini dikecualikan jika yang dites anak-anak sampai usia 5 tahun.

Jika hasil tes positif, maka saat tes ditemukan bahwa telah terinfeksi virus corona. Sudah pasti harus tetap di rumah, termasuk anggota keluarga yang tinggal serumah, tidak menerima tamu, menjaga jarak dengan anggota rumah. Petugas yang menangani corona akan menelepon dan memberi tahu lebih lanjut, termasuk mengidentifikasi pernah kontak dengan siapa saja. Kemudian, ketika tahu hasil tes positif, maka perlu memberi tahu dokter keluarga, dan orang-orang tertentu yang memang perlu tahu, misalnya kalau aku, selain dokter, maka perlu memberi tahu bidan, untuk orang-orang yang bekerja, maka memberi tahu tempat kerjanya.

Semoga saja hasil tes swabku negatif dan tidak ada virus corona di dalam badanku 🙂
Hasil tes kutuliskan di postingan ini.

Anak Sakit, Bolehkah Masuk Sekolah?

Dalam rangka mempersiapkan anak kembali ke sekolah, pihak sekolah telah mensosialisasikan beberapa hal melalui aplikasi. Terutama karena kondisi pandemi yang membuat situasi berbeda dengan sebelumnya. Salah satu informasi yang disampaikan adalah diagram keputusan di bawah ini. Ada beberapa kondisi yang membuat anak tidak boleh masuk sekolah. Diagaram ini berlaku untuk rentang usia 0 – 3 tahun dan 4 – 12 tahun.

Bagaimana cara memutuskan?
Pohon Keputusan – COVID 19

Jika anak sakit, maka lihat diagram dengan cara:

1 – Apakah anak yang sakit ini kurang dari 10 hari yang lalu berada di zona oranye atau merah? Jika ya, ke 2a, jika tidak ke 2b.

2a – Berapa umur anak? Untuk usia 0 – 3 tahun maka anak tersebut selama 10 hari di rumah saja (3a kotak merah). Untuk umur 4 – 12 tahun, ada dua pertimbangan (3a kotak oranye), yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan COVID-19 dan apakah di rumah si anak ada yang sakit corona atau demam atau sesak nafas. Jawaban ditentukan dengan melihat poin 4a.

4a – Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (4a kotak merah). Jika tidak, maka dilihat apakah anak ada gejala pilek/hidung tersumbat (4a kotak oranye).

5a – Jika jawaban ya (5a kotak biru), lanjutkan ke diagram keputusan dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (5a kotak hijau).

2b – Jika anak sakit tidak karena pernah berada di zona oranye atau merah, maka ada dua pertimbangan, yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan corona dan apakah di rumah si anak ada yang sakit atau ada gejala corona atau demam atau sesak nafas. Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (3b kotak merah). Jika jawaban tidak, maka perlu dipertimbangkan apakah anak tersebut sedang pilek/hidung tersumbat atau tidak (3b kotak oranye). Lanjutan ke poin 4b.

4b – Jika jawaban ya, ikuti alur diagram keputusan (5b kotak biru) dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (4b kotak hijau).

6. Untuk orang tua (wali murid) dan anak-anak kelas atas dengan gejala, seperti demam, batuk, suhu badan naik, kehilangan indra perasa tiba-tiba, maka disarankan untuk melakukan tes.

7. Orang tua yang sedang masa karantina rumah 10 hari, tidak boleh antar jemput anak ke sekolah

Bolehkah anak dengan gejala hidung tersumbat ke sekolah?

Jika anak mengalami hidung tersumbat, biasanya gejala pilek, maka ada dua diagram untuk memutuskan. Pengambilan keputusan yang berbeda untuk rentang umur 0 – 6 tahun dan 7 – 12 tahun. Setelah melihat diagram tersebut, bisa diputuskan apakah anak boleh masuk sekolah atau tetap di rumah.

Usia – 6 tahun

Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan. Maksud dari hidung tersumbat, adalah gejala yang meliputi keluarnya ingus, apapun warnanya, apakah itu disertai bersin ataupun sakit tenggorokan maupun tidak.

Untuk anak umur 0 – 6 tahun

1 – Apakah anak mengalami gejala?

2 – Apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas?

3 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah suhu tubuhnya 38oC atau lebih?

4 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?

5 – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?

6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.

Usia 7 – 12 tahun

Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan dalam rentang usia anak 7 – 12 tahun.

1 – Apakah anak mengalami gejala?

2a – Jika ya, apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma? Lanjutkan ke 3a.

2b – Jika tidak, apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Lanjutakan ke 3b.

3a – Untuk anak yang tidak biasa dengan gejala tersebut (kotak merah), tetap di rumah. Untuk anak yang biasa memiliki gejala sakit tersebut (kotak biru), dipertimbankan: apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? atau apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Jika ya (4a kotak merah), maka tetap di rumah, jika tidak (4a kotak hijau), boleh masuk sekolah.

3b – Jika jawaban dari 2b ya (kotak merah), maka tetap di rumah. Jika jawaban tidak (kotak biru), cek suhu badannya. Apakah 37.5oC – 37.9oC atau 38oC atau lebih?

4b – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?

5b – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?

6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.

Sampai kapan di rumah?

Selama apa anak tetap di rumah? Setelah 24 jam tidak terjadi gejala sakit lagi, seperti batuk, pilek, demam, sesak nafas, maka ulangi lagi penilaian dengan diagram. Hingga dinyatakan anak boleh masuk sekolah, yaitu hingga penilaian pada kotak hijau.