Welcome 2022

Post ini sudah ingin kutulis dari sejak akhir Desember 2021, lalu kuterbitkan di sini waktu tahun baru. Akhirnya baru sempat kutulis dan post hari ini. Sejak kelahiran bayiku pertengahan tahun lalu, waktuku banyak terpakai untuk mengurus waktu tidur bayi yang sampai sekarang usianya hampir 9 bulan masih naik turun ritme tidurnya. Sehingga, malam hari saat bayiku sudah tidur, waktu yang kuniatkan untuk ‘me time’ menulis, gagal total karena otakku sudah tidak bisa diajak kerja sama lagi dan pada akhirnya tidur awal lebih baik daripada menulis, biar segar saat harus begadang. Menulis ini pun sekarang dalam kondisi mengantuk, tapi aku ingin memulai lagi menulis, paling tidak sekali dalam sebulan. Menulis cukup membantuku untuk melegakan perasaan dan pikiran :).

Goodbye 2021

2021 adalah tahun yang banyak kusyukuri. Pandemi memang masih terjadi, walaupun lockdown sempat dilonggarkan, tetapi karena kasusnya meningkat, lockdown diperketat lagi. Rencana liburan yang sudah dibuat akhir tahun lalu, akhirnya dibatalkan demi keamanan. Namun, justru dengan lockdown, waktu berkumpul keluarga lebih banyak. Alhamdulillah juga, kami masih diberi kesehatan, dan semoga dengan ikhtiar melakukan vaksin, lebih terlindungi dari virus varian apapun.
Saat teman-teman sekolah anak pertamaku banyak yang terkena corona, pembelajaran kembali online, alhamdulillah anakku sampai sekarang sehat. Sejak teman sekelasnya ada yang positif corona, anakku melakukan self test antigen, hasil test negatif, dan kemarin baru saja mendapatkan suntikan pertama vaksin untuk anak.

Untuk orang dewasa, vaksin yang didapat sudah 3 kali, yaitu 2 kali vaksin plus booster. Untuk anak-anak, undangan baru dikirim mulai bulan Januari untuk vaksin pertama, diikuti vaksin kedua 8 pekan kemudian. Vaksin ini memang tidak wajib di Belanda, hanya saja, untuk akses ke tempat-tempat publik lebih mudah untuk yang sudah melakukan vaksin. Banyak tempat publik yang mewajibkan akses scan bukti vaksin jika ingin memasuki fasilitasnya, seperti restauran, kolam renang, bioskop, dan sejenisnya.


Hal kedua yang aku syukuri adalah kelahiran anak kedua yang telah kunantikan sejak 3-4 tahun lalu. Proses kehamilan kali ini memang lebih banyak butuh perhatian, terjadi saat pandemi dengan rasa was-was tentang kesehatan keluarga plus kehamilan. Mual dan muntah yang lebih parah dari kehamilan anak pertama, beberapa parameter kesehatan di akhir kehamilan yang butuh perhatian, terlebih lagi jauh dari keluarga. Namun, alhamdulillah kelahiran bayi ini lebih mudah daripada kelahiran anak pertama. Anak keduaku lahir di usia kehamilan 38 pekan, dengan proses sakit bukaan yang masih bisa kutahan hingga bukaan 7, setelah itu sakit luar biasa, tetapi lebih mudah saat melahirkannya.

Tidak seperti kelahiran anak pertama yang proses recoverynya hingga 3 bulan, bahkan secara mental hingga 6 bulan, untuk anak kedua ini, aku merasa sudah pulih sejak hari kedua melahirakan. Di Belanda, jika pemeriksaan setelah melahirkan, dinyatakan ibu dan anak sehat, maka langsung dipulangkan. Aku sudah pulang hari kedua setelah melahirkan, di saat umur anakku 2 hari. Kondisi fisik dan mental sangat baik, sehingga sampai rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga dalam kondisi tidak seperti orang yang baru melahirkan. Di sini tidak ada yang membantu, sehingga pekerjaan rumah tangga kami kerjakan sendiri. Baru terasa badanku butuh istirahat banyak, ketika sudah terasa capek berlebihan, dan di saat itu baru ‘ingat’ bahwa baru 2 hari lalu melahirkan.

Usia awal 1 hingga 2 bulan, sangat mudah mengurusi anak keduaku ini, rasanya aku tidak pernah begadang, karena jam bangunnya di saat aku sudah segar setelah tidur cukup semalaman. Hingga refluks menyerang di usia 2 bulan, sejak saat itu kalau tidak digendong sulit tidur, dan setelah ditidurkan di kasur akan bangun lagi. Sekarang memang sudah bisa tidur di kasur, tanpa harus digendong-gendong, tetapi ritme tidurnya belum selalu bagus, kadang cukup tidur, kadang kurang, dan yang jelas masih harus begadang. Walaupun begitu, bayi ini sangat jarang rewel, lebih sering tersenyum, dan kami bertiga, termasuk anak pertamaku, merasa sangat terhibur dengan bayi lucu ini.

Ada banyak hal yang aku syukuri sebenarnya tentang berkah di tahun 2021, kali ini kutuliskan 2 hal terbesar ini saja, apalagi bayiku sudah mulai bangun tidur 🙂

Welcome 2022

Kapan-kapan akan kulanjutkan lagi tentang apa yang kuharapkan di tahun 2022. Salah satunya, semoga bisa konsisten menulis dan post di sini lagi.