Surat ini diturunkan Allah kepada Rasulullah ﷺ saat beliau masih berada di Mekah (makkiyah). Ciri khas surat-surat makkiyah adalah pembahasan seputar Iman kepada Allah, Rasulullah, dan hari Akhir.
Kandungan An-Naziat
An-Naziat membahas tentang hari akhir, menceritakan tentang malaikat-malaikat dengan tugas masing-masing, termasuk dalam ini, malaikat pencabut nyawa. Ada pula pembahasan tentang bagaimana kondisi saat hari akhir tiba. Kisah tentang nabi Musa ketika mengingatkan Fir’aun yang tetap mengingkari Allah. Tanda kekuasaan Allah berupa penciptaan bumi dan isinya untuk kesenangan dan kemudahan manusia. Kesudahan orang-orang, baik yang beriman maupun yang kafir, setelah hari kiamat.
Malaikat Pencabut Nyawa dan Hari Akhir
Ayat 1-5, Allah bersumpah dengan malaikat-malaikat yang memiliki tugas dan kondisi masing-masing. Malaikat pencabut nyawa (ayat 1 & 2), malaikat yang turun dari langit dengan cepat (ayat 3), malaikat yang mendahului dengan kencang (4), dan malaikat yang mengatur urusan dunia (ayat 5).
Kondisi malaikat pencabut nyawa dalam menjalankan tugasnya ternyata dibahas berbeda dalam surat ini. Ada yang mencabut nyawa dengan keras/kasar (ayat 1), ada pula yang mencabut nyawa dengan mudah/lemah lembut (ayat 2). Kematian adalah sesuatu yang dikatakan (oleh Rasulullah ﷺ) sangat menyakitkan. Meskipun demikian, Allah membedakan bagaimana perlakuan malaikat pencabut nyawa ketika mencabut nyawa orang beriman dan kafir.
Kemudian, bagaimana kondisi hari akhir? Hal ini disampaikan pada ayat 6-9. Terdapat dua tiupan, dimana tiupan pertama mengguncangkan alam (ayat 6) dan diiringi tiupan kedua (ayat 7) untuk membangkitkan manusia. Digambarkan saat itu, hati-hati manusia merasa takut (ayat 8) dan pandangannya tunduk (ayat 9).
Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar hari akhir kepada orang-orang Quraisy (kafir), ada ungkapan keraguan yang mereka katakan. “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?” (ayat 10). “Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?” (ayat 11). Mereka berkata, ” Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan” (ayat 12). Tanpa orang-orang kafir itu sadari, bahwa sebenarnya mereka sendiri yang nantinya akan mengalami kerugian. Mereka dibangkitkan dan kembali kepada Allah dalam keadaan tidak beriman.
Untuk Allah, hal ini tentu saja mudah sekali. Hanya dengan sekali tiupan, alam dan isinya, juga kehidupan akan hancur (ayat 13). Dengan sekali tiupan juga, Allah bangkitkan kembali makhlukNya yang telah binasa (ayat 14).
Kisah Nabi Musa dan Fir’aun
Dalam surat An-Naziaat ini, Allah menyampaikan kepada nabi Muhammad ﷺ tentang kisah Nabi Musa ketika menghadapi Fir’aun (ayat 15-26). Untuk menjadi pelajaran tentang dakwah nabi Musa kepada Fir’aun. Kita pun dapat mengambil hikmah dari kisah ini.
Dimulai dengan pertanyaan Allah, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa?” di ayat 15. Ketika Allah memanggil nabi Musa di lembah Tuwa (ayat 16). Untuk mendatangi Fir’aun yang telah melampaui batas (ayat 17). Untuk mengingatkan Fir’aun agar membersihkan diri dari kesesatannya (ayat 18), sehingga nabi Musa dapat membantu Fir’aun ke jalan Allah (ayat 19).
Dalam mendakwahi Fir’aun, nabi Musa pun menunjukkan mukjizat dari Allah (ayat 20). Namun, Fir’aun justru mendustakan dan mendurhakai nabi Musa (ayat 21), bahkan menantang nabi Musa (ayat 22). Fir’aun mengumpulkan pembesar-pembesar kerajaannya dan menyeru kepada kaumnya (ayat 23). Fir’aun mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan (ayat 24). Karena kesesatan Fir’aun itulah, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia (ayat 25). Sungguh pada hal yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Allah (ayat 26).
Tanda Kekuasaan Allah
Allah menunjukkan tanda kekuasaanNya agar menghindarkan manusia dari rasa sombong dan merasa mulia. Padahal manusia sangat tidak layak menyombongkan diri. Maka, di ayat 27, “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?”
Allah telah menciptakan langit yang tinggi dan menyempurnakannya (ayat 28). Bahkan, kita tidak bisa menemukan di mana ujung langit ini. Allah lah yang menciptakannya, menyempurnakannya dengan keindahan yang dapat dinikmati oleh pandangan manusia. Allah menjadikan malam gelap gulita dan siang terang benderang (ayat 29).
Allah menghamparkan bumi (ayat 30) untuk umat manusia. Allah pancarkan mata air di bumi, dan ditumbuhkanNya tumbuh-tumbuhan (ayat 31). Gunung-gunung Allah pancangkan dengan teguh (ayat 32). Tujuan dari semua itu adalah untuk kesenangan manusia dan untuk hewan-hewan ternak yang dimiliki oleh manusia (ayat 33). Maka ini tanda kekuasaan Allah sebagai bukti kasih sayang Allah yang bisa disaksikan manusia. Ini semua harusnya menjadikan manusia selalu mengingat Allah dimanapun berada.
Kesudahan Setelah Hari Kiamat
Maka apabila hari yang dijanjikan Allah tiba, yaitu hari kiamat (ayat 34), yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya (ayat 35). Neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat (ayat 36).
Neraka adalah tempat untuk orang-orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia (ayat 37-39).Sedangkan untuk orang-orang yang takut pada Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surga adalah tempat tinggalnya (ayat 40-41).
Kapan Kiamat Tiba?
Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?” (ayat 42). Tentang ini, bahkan Rasulullah ﷺ saja tidak mengetahuinya. Ini adalah salah satu rahasia terbesar Allah. Hanya Allah sajalah yang tahu kapan kiamat terjadi.
Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? (ayat 43). Rasulullah ﷺ hanya penyampai pesan dari Allah untuk umat manusia. Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya) (ayat 44). Rasulullah ﷺ hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat) (ayat 45).
Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari (ayat 46).
* diringkas dari kajian tafsir QS An-Naziat

