Waffel Liege: Kisah Asal Mula dan Kelezatannya

Waffel adalah salah satu jajanan yang mudah ditemukan jika kita ke Belanda atau Belgia. Berbeda dengan waffle Belanda yang lebih lembut, waffel Belgia lebih renyah di luar dan lembut di dalam. Waffel dari kota Liege, Belgia (waffel Liege) adalah salah satu dari dua jenis waffel Belgia yang terkenal. Selain waffel Liege, ada jenis waffel lain di Belgia, yaitu waffel Brussel.

Kali ini, saya ingin menuliskan tentang waffel Liege yang menurut saya, lebih enak daripada waffel Brussel dan waffel Belanda. Rasa dan aromanya juga khas dan di balik kelezatannya, ada kisah yang konon terjadi di abad pertengahan tentang asal mula waffel ini.

Penampakan Waffel Liege

Kisah pembuatan waffel ini pertama kali berawal ketika seorang Raja Liege membuat permintaan khusus kepada kokinya untuk membuat makanan (kue) special. Saat itu baru saja masuk bahan kue baru ke Liege, yaitu gula mutiara (pearl sugar). Gula jenis ini hanya bisa didapatkan di Belgia, berbeda dengan jenis gula lain yang umum ditemukan di mana saja. Sang koki pun membuat roti dengan memasukkan gula mutiara (dan vanilla) ke dalam adonan yang kemudian dipanaskan di cetakan besi. Rasa khas dari gula ini bersentuhan dengan cetakan besi panas menimbulkan aroma harum dan rasa manis yang renyah hasil karamelisasi gula yang menjadi ciri khas waffel Liege. Sang raja pun menyukainya sehingga kemudian resep waffel ini disebarkan ke seluruh Belgia dan secara turun temurun diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, hingga sekarang.

Tentang gula mutiara, perbedaannya dengan jenis gula lain adalah pada rasa, tekstur, dan ukuran. Secara ukuran, gula ini lebih besar dari pada gula lain dan secara tekstur lebih renyah dan keras, rasa manisnya pun berbeda dengan gula yang lain.

Gula Mutiara (Pearl Sugar)
gambar dari internet

Jenis gula ini lebih mudah ditemukan di Belgia daripada negara-negara lain di Eropa, kecuali jika membeli online tentu bisa saja didapatkan di negara selain Belgia.

Di Belgia sendiri, khususnya di Liege, waffel Liege ini lebih terkenal dengan sebutan Gaufre de Liege. Kata gaufre ini berasal dari bahasa Perancis yang bermakna sarang lebah, melihat bentuknya yang seperti sarang lebah.

Untuk memakan waffel Liege, tidak perlu taburan gula halus atau topping macam-macam karena memang ciri khas dari waffel Liege ini adalah rasa karamel dari gula mutiaranya. Jika zaman dahulu, waffel Liege ini termasuk makanan ningrat karena hanya bisa dimakan oleh kaum bangsawan, sekarang makanan ini adalah makanan rakyat biasa dan bisa ditemukan sebagai jajanan pinggir jalan ketika kita ke Liege atau ke daerah Belgia yang lain.

Jika Anda ke Liege, ada tempat terkenal, dan salah satu review terbaik untuk mendapatkan waffel Liege, yaitu toko Une Gaufrette Saperlipopette yang terdapat di beberapa lokasi, salah satunya di jalan Rue des Mineurs. Ada dua jenis waffel Liege di toko ini, yaitu waffel Liege vanilla (resep asli), dan waffel Liege kayu manis. Jika Anda ingin mencoba rasa asli waffel Liege, maka rasa vanilla yang lebih pantas untuk dicoba, namun yang kayu manis pun tidak mengecewakan. Secara rasa, semuanya enak dan saya lebih suka yang kayu manis.

Lelystad

Kota Lely

Lelystad adalah kota hasil reklamasi di Belanda. Dahulu, daerah ini hanya perairan. Pada tahun 1967, reklamasi berhasil dilakukan, sehingga terwujudlah sebuah kota yang diberi nama Lely. Stad dalam bahasa Indonesia adalah kota. Sehingga Lelystad, bermakna Kota Lely. Nama yang lucu bukan?

Nama kota ini diambilkan dari nama insinyur yang memimpin keberhasilan proyek reklamasi ini, Cornelis Lely. Saat itu, daerah ini berada kurang lebih 3 meter di bawah permukaan air laut. Untuk menghargai kerja kerasnya dalam mereklamasi daerah tak berpenghuni itu, maka dipakailah nama insinyur ini sebagai nama kota. Di Belanda, umum sekali nama-nama orang yang berjasa di suatu bidang tertentu, menjadi nama jalan, bahkan nama kota.

Sampai saat ini ada mekanisme pengaturan untuk tetap menjaga Lelystad aman ditinggali, tidak terjadi banjir, atau bahkan tenggelam. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme ini, termasuk sejarah Lelystad terbentuk, bisa mengunjungi museum Lelystad (museum Flevoland).

Museum Lelystad

Di dalam museum ini, selain mengenail sejarah, juga ada tempat bermain anak, sehingga anak-anak bisa belajar sambil bermain bagaimana mengatur perairan di Lelystad agar tidak terjadi banjir.

Het Watertheater – Teater air

Di dekat museum, kita bisa melihat perariran Lelystad, dimana pada jadwal tertentu, ada kapal yang bisa dinaiki untuk mengelilingi perairan ini.

Perairan Lelystad

Kawasan di sekitar perairan ini, dinamakan Batavia Land. Ada 3 lokasi yang menarik dikunjungi. Selain museum Lelystad, ada juga replika kapal VOC, dan museum workshop kapal. Kapal ini pada sekitar tahun 1628 berlayar menuju Pulau Jawa untuk mengangkut rempah-rempah. Kapal ini diberi nama Batavia. Kita bisa memasuki kapal ini dan melihat bagian dalam kapal.

Replika Kapal VOC “Batavia”

Banyak bagian di dalam kapal dibuat persis seperti aslinya, juga rutin dirawat dan diperbaiki jika ada bagian yang rusak.

Sebelum lokasi kapal Batavia, terdapat museum yang menjadi tempat workshop untuk belajar bagaimana kapal zaman dulu dibuat. Pengunjung dapat mencoba beberapa hal, seperti pertalian (tali-temali), melihat kapal besar dibuat, juga bagaimana karyawan workshop sedang membuat replika kapal.

Banyak kapal bersejarah yang replikanya bisa kita lihat sampai sekarang. Sehingga orang bisa mengetahui bagaimana bentuk asli kapal-kapal yang dimiliki Belanda zaman dahulu. Di lokasi workshop ini, kita bisa melihat juga logo VOC pada kotak kayu yang diangkut ke dalam kapal, saat mereka dahulu menjelajah. Tentu saja hanya replika. Bagaiamanapun, untuk Belanda, VOC adalah perusaaan dagang pertama dan terbesar milik mereka, sehingga banyak bukti-bukti peninggalannya yang masih tersimpan sampai sekarang.

Short Getaway to Belgium & France

Libur musim dingin Desember lalu, aku bersama suami dan anak, melakukan perjalanan ke Belgia dan Perancis. Dua negara ini letaknya cukup dekat dengan Belanda, tempat tinggalku saat ini. Dengan bermobil, Belgia dapat ditempuh dalam waktu 1 – 2 jam perjalanan, dan ke Perancis 5 – 7 jam, tergantung kota mana yang ingin dituju.

Moda transportasi mobil lebih kami pilih, selain untuk menghemat pengeluaran, juga agar lebih nyaman untuk jalan-jalan. Ada tempat-tempat wisata yang lebih fleksibel untuk dikunjungi dengan mobil.

Suasana perjalanan dari Belanda menuju Belgia – banyak kincir angin di tepi jalan raya

Kami berangkat tanggal 26 Desember 2019 dari Belanda dan kembali lagi 28 Desember 2019. Bepergian dengan anak usia 5 tahun, kami memilih destinasi wisata yang juga menarik untuk si anak. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Kereta (Train World) di Schaarbeek. Anak kami, senang sekali di sini, apalagi kereta adalah salah satu mainan favoritnya. Di museum ini, terdapat koleksi kereta-kereta Belgia, mulai dari kereta lama (kereta tenaga uap) hingga yang terbaru, bahkan simulasi 3D kereta modern pun ada.

Salah satu koleksi di Train World: Pays de Waes (locomotive) – kereta tenaga uap tertua di Eropa

Setelah dari museum, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel. Untuk menghemat anggaran menginap, kami memilih (low) budget hotel. Kami memilih hotel di kawasan Paris, agar lebih dekat dengan destinasi wisata kedua.

Hari kedua, kami mengunjungi kota Paris dan Versailles. Waktu lebih banyak kami alokasikan untuk berada di Versailles, mengunjungi istana dan kawasan sekitar yang masih berhubungan dengan istana. Kesan mewah terasa sekali saat memasuki bagian dalam istana, sambil teringat materi sejarah tentang Revolusi Perancis dan Louis XIV.

Kawasan Istana Versailles

Ini kali pertamaku berkunjung ke istana Versailles, tetapi rasanya tidak ingin mengulang lagi berkunjung ke sana. Aku tidak merasa nyaman di dalamnya. Terlalu banyak pengunjung, di tambah banyaknya ruangan atau bagian istana yang bisa dilihat, sehingga banyak detail yang tidak teramati. Bahkan, sebelum memasuki istana, antrian mengular, saking banyaknya pengunjung. Terkenal sebagai istana megah (pada zaman itu), banyak sekali bagian istana yang ingin dilihat, sehingga untuk mempersingkat waktu, banyak hal yang tidak teramati. Bahkan, ada area yang terlewat atau memang sengaja dilewati, tidak terlalu diperhatikan.

Bagian depan istana Versailles

Kami juga mengunjungi kawasan lain yang masih berhubungan dengan Versailles, yaitu Grand Trianon. Walaupun tidak dalam satu kawasan dengan bagian istana, namun cukup dekat. Dari istana, tersedia kendaraan (shuttle) dengan waktu tempuh kurang lebih 10 menit. Grand Trianon adalah istana yang dibangun Louis IV di desa Trianon agar memiliki tempat yang lebih tenang, jauh dari keramaian dan formalitas istana. Di sekitar Grand Trianon, juga ada beberapa paviliun, taman, ataupun monumen yang masih berhubungan dengan sejarah kerajaan Perancis. Saking luasnya kawasan ini, tidak semua bagian sempat kami kunjungi.

Taman di kawasan istana Versailles

Setelah hari kedua kami fokuskan di Versailles, perjalanan berlanjut, di hari ketiga, kami kembali lagi ke Belgia, sebelum pulang ke Belanda. Kami mengunjungi Maasmechelen. Tidak banyak yang bisa dilihat di kotanya, tetapi ada satu tempat yang memang ingin kami kunjungi, yaitu Maasmechelen Village. Tempat ini adalah pusat perbelanjaan, yang menjual barang dengan harga outlet, sehingga harganya lebih rendah. Apalagi, saat itu bertepatan dengan diskon akhir tahun.

Inilah jalan-jalan singkat kami saat liburan musim dingin di Belanda, akhir tahun lalu. Tulisan ini dibuat sebagai kenangan karena belum bisa melakukan hal yang sama untuk liburan tahun ini. Saat ini masuk liburan musim panas di Belanda, tetapi rasanya belum aman jika melakukan perjalanan ke luar Belanda, mengingat masih masa pandemi. Wabah Covid-19 di Belanda memang sudah terkontrol dan perbatasan ke luar Belanda (lingkup Eropa) pun sudah dibuka. Banyak objek wisata telah dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan. Namun, masih tetap lebih aman jika membatasi aktivitas di luar rumah.

Katwijk aan Zee: Pantai di Selatan Belanda

Katwijk aan Zee

Katwijk terletak di Belanda Selatan, dekat dengan kota besar Leiden. Kawasan ini memiliki pantai dengan ombak yang tenang. Katwijk aan Zee adalah pantai landai, tempat kapal-kapal besar berlayar hingga ke pelabuhan di Rotterdam. Sehingga, ketika berkunjung ke pantai ini, dari kejauhan, kita bisa melihat kapal-kapal itu.

Saat musim panas, menjadi salah satu tempat yang dituju untuk berjemur. Walaupun banyak orang datang untuk berjemur ataupun bermain, pantai ini bisa dibilang relatif sepi. Berbeda dengan pantai terkenal lain di Belanda, seperti Scheveningen yang sangat ramai jika musim panas datang.

Aktivitas di Katwijk aan Zee

Di pinggir pantai, terdapat beberapa rumah pantai yang dapat dipesan untuk bermalam. Tidak jauh dari lokasi, terdapat hotel dan penginapan yang dapat menjadi pilihan menginap.

Selain bermain air, berjemur, tersedia juga papan selancar yang bisa disewa, lengkap dengan instruktur yang siap melatih berselancar jika belum mampu. Pinggiran pantai hingga ke tengah tidak terlalu dalam, sehingga banyak orang berenang hingga ke tengah laut. Angin berhembus cukup kencang, sehingga pada udara panas pun, pantai ini tetap terasa sejuk. Bahkan, beberapa orang menerbangkan layangannya.

Tidak hanya keseruan aktivitas di pantai, jalanan di sekitar pantai pun cukup seru untuk dijelajahi, berjalan kaki, maupun bersepeda. Banyak orang jalan kaki di pantai, juga di jalanan sekitar pantai. Untuk para pesepeda, bersepeda menyusuri pantai ini, merupakan salah satu akses menuju kebun bunga tulip.

Bagaimana dengan makanan dan minuman? Mudah menemukan restauran ataupun penjual makanan dan minuman disini, bahkan es krim. Sehingga, jika tidak membawa bekal, bisa jajan di sekitar pantai. Makanan seperti kentang goreng, ikan haring goreng tepung (kibbeling) ataupun mentah dapat dengan mudah didapatkan.