Anak Sakit, Bolehkah Masuk Sekolah?

Dalam rangka mempersiapkan anak kembali ke sekolah, pihak sekolah telah mensosialisasikan beberapa hal melalui aplikasi. Terutama karena kondisi pandemi yang membuat situasi berbeda dengan sebelumnya. Salah satu informasi yang disampaikan adalah diagram keputusan di bawah ini. Ada beberapa kondisi yang membuat anak tidak boleh masuk sekolah. Diagaram ini berlaku untuk rentang usia 0 – 3 tahun dan 4 – 12 tahun.

Bagaimana cara memutuskan?
Pohon Keputusan – COVID 19

Jika anak sakit, maka lihat diagram dengan cara:

1 – Apakah anak yang sakit ini kurang dari 10 hari yang lalu berada di zona oranye atau merah? Jika ya, ke 2a, jika tidak ke 2b.

2a – Berapa umur anak? Untuk usia 0 – 3 tahun maka anak tersebut selama 10 hari di rumah saja (3a kotak merah). Untuk umur 4 – 12 tahun, ada dua pertimbangan (3a kotak oranye), yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan COVID-19 dan apakah di rumah si anak ada yang sakit corona atau demam atau sesak nafas. Jawaban ditentukan dengan melihat poin 4a.

4a – Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (4a kotak merah). Jika tidak, maka dilihat apakah anak ada gejala pilek/hidung tersumbat (4a kotak oranye).

5a – Jika jawaban ya (5a kotak biru), lanjutkan ke diagram keputusan dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (5a kotak hijau).

2b – Jika anak sakit tidak karena pernah berada di zona oranye atau merah, maka ada dua pertimbangan, yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan corona dan apakah di rumah si anak ada yang sakit atau ada gejala corona atau demam atau sesak nafas. Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (3b kotak merah). Jika jawaban tidak, maka perlu dipertimbangkan apakah anak tersebut sedang pilek/hidung tersumbat atau tidak (3b kotak oranye). Lanjutan ke poin 4b.

4b – Jika jawaban ya, ikuti alur diagram keputusan (5b kotak biru) dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (4b kotak hijau).

6. Untuk orang tua (wali murid) dan anak-anak kelas atas dengan gejala, seperti demam, batuk, suhu badan naik, kehilangan indra perasa tiba-tiba, maka disarankan untuk melakukan tes.

7. Orang tua yang sedang masa karantina rumah 10 hari, tidak boleh antar jemput anak ke sekolah

Bolehkah anak dengan gejala hidung tersumbat ke sekolah?

Jika anak mengalami hidung tersumbat, biasanya gejala pilek, maka ada dua diagram untuk memutuskan. Pengambilan keputusan yang berbeda untuk rentang umur 0 – 6 tahun dan 7 – 12 tahun. Setelah melihat diagram tersebut, bisa diputuskan apakah anak boleh masuk sekolah atau tetap di rumah.

Usia – 6 tahun

Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan. Maksud dari hidung tersumbat, adalah gejala yang meliputi keluarnya ingus, apapun warnanya, apakah itu disertai bersin ataupun sakit tenggorokan maupun tidak.

Untuk anak umur 0 – 6 tahun

1 – Apakah anak mengalami gejala?

2 – Apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas?

3 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah suhu tubuhnya 38oC atau lebih?

4 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?

5 – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?

6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.

Usia 7 – 12 tahun

Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan dalam rentang usia anak 7 – 12 tahun.

1 – Apakah anak mengalami gejala?

2a – Jika ya, apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma? Lanjutkan ke 3a.

2b – Jika tidak, apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Lanjutakan ke 3b.

3a – Untuk anak yang tidak biasa dengan gejala tersebut (kotak merah), tetap di rumah. Untuk anak yang biasa memiliki gejala sakit tersebut (kotak biru), dipertimbankan: apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? atau apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Jika ya (4a kotak merah), maka tetap di rumah, jika tidak (4a kotak hijau), boleh masuk sekolah.

3b – Jika jawaban dari 2b ya (kotak merah), maka tetap di rumah. Jika jawaban tidak (kotak biru), cek suhu badannya. Apakah 37.5oC – 37.9oC atau 38oC atau lebih?

4b – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?

5b – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?

6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.

Sampai kapan di rumah?

Selama apa anak tetap di rumah? Setelah 24 jam tidak terjadi gejala sakit lagi, seperti batuk, pilek, demam, sesak nafas, maka ulangi lagi penilaian dengan diagram. Hingga dinyatakan anak boleh masuk sekolah, yaitu hingga penilaian pada kotak hijau.

Covid-19: Apa yang berubah?

Sejak Covid-19 melanda Belanda, aktivitas fisik terbatasi, lebih banyak tinggal di rumah. Sejak Maret, pemerintah menutup tempat-tempat publik, seperti sekolah, kantor, restoran, taman, dll, untuk memangkas penyebaran virus ini. Setelah kondisi terkendali, 2 bulan kemudian, fasilitas umum mulai dibuka secara terbatas. Contohnya, sekolah masuk secara bergantian, dimulai dari TK, SD, hingga bertahap ke SMP dan SMA, sampai dapat dibuka sepenuhnya. Kalau toko-toko bahan makanan, sejak awal memang tetap dibuka, hanya dibatasi pengunjungnya, juga aturan jarak 1,5m.

Aturan penjarakan 1,5 di tempat umum

Alhamdulillah, sejak akhir bulan Mei pemerintah Belanda sudah membuka batasannya, melihat aktivitas penyebaran virus ini dapat terkendali. Masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih leluasa di luar rumah, selama memenuhi protokol kesehatan. Tempat-tempat publik mulai dibuka seperti biasa, tentu saja dengan penjarakan 1,5m, dan di tempat-tempat tertentu pemakaian masker diharuskan.

Pemberlakuan protokol kesehatan di Belanda

Lalu apa yang berubah sejak adanya pandemi Covid-19?

Rasa aman dan nyaman saat keluar rumah. Sekarang ini, berada di kerumunan orang, seringkali merasa tidak aman. Kita tidak tahu seberapa sehat orang-orang ini. Walaupun Belanda terkenal dengan kedisiplinan dan tegaknya peraturan, tetap saja ada satu dua orang yang tidak disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.

Batuk dan bersin? Siap-siap jadi perhatian orang. Virus ini menyebar lewat droplet, sehingga di awal virus ini muncul, disarankan orang bersin dan batuk di sikunya atau dengan bermasker. Jika dulu mendengar orang bersin atau batuk, hal biasa. Saat ini, orang di sekitar akan melihat dan was-was jika sampai ada orang yang batuk atau bersin, karena khawatir orang ini sakit terkena virus.

Padahal, di Belanda, covid ini mulai muncul di awal musim semi, dan sekarang ini sedang musim panas. Hal biasa, jika ada orang alergi polen (serbuk sari bunga), di musim-musim ini, maka orang ini akan bersin. Tentu saja menahan bersin tidak nyaman, sehingga mau tidak mau harus dikeluarkan, lalu orang-orang akan memandanginya. Apalagi, jika orang ini tidak bermasker.

Bermasker atau memakai face shield. Pada dasarnya, masker itu untuk orang sakit agar tidak menulari orang sehat. Sejak pandemi, orang sehat pun bermasker agar tidak terkena virus yang bisa masuk lewat saluran pernapasan. Face shield juga menjadi barang yang umum dipakai orang saat ini.

Meskipun begitu, aturan bermasker di Belanda, memang tidak untuk semua orang dan tidak di semua tempat. Di transportasi umum, para pengguna memang wajib bermasker, tetapi selain itu tidak. Di tempat umum, masker juga tidak wajib dipakai. Di tempat orang berkerumun, disarankan memakai masker, tetapi kalaupun tidak juga tidak apa-apa, kecuali memang diwajibkan di tempat tersebut.

Perhatian pada kebersihan. Ada beberapa barang yang perlu ada untuk menghadapi virus ini. Masker, tisu, hand sanitizer, desinfektan, sabun dan air yang sangat berkaitan dengan kebersihan. Orang akan segera mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer untuk membersihkannya. Diketahui, virus akan mati dengan sabun, maka disarankan sering mencuci tangan memakai sabun dan air.

Jika sebelum pandemi, mungkin kepedulian untuk cuci tangan bisa dibilang rendah. Orang tidak keberatan langsung makan tanpa cuci tangan. Namun, sejak pandemi, bukan karena makan pun orang akan otomatis mencuci tangannya. Misal, setelah bepergian, atau setelah menyentuh barang tertentu. Bahkan, orang akan waspada jika ingin menyentuh sesuatu atau ketika bersentuhan dengan orang.

Berjabat tangan. Salaman adalah hal yang lumrah, begitu juga cium pipi kanan kiri saat bertemu. Pandemi ini membuat orang-orang tidak bisa bersentuhan dengan nyaman. Budaya salaman di Indonesia, menjadi asing. Menelungkupkan tangan di dada atau menempelkan siku lebih dipilih, untuk menghindari tersebarnya virus ini.

Jarak yang memisahkan. Jarak teraman saat bertemu orang lain sekitar 1,5m. Jika dulu sedang berkumpul atau berada di keramaian biasa saja jika harus berdekatan. Sekarang perlu menjaga jarak 1,5m dengan orang atau keluarga lain jika bertemu. Antrian di tempat-tempat umum pun dibuat berjarak 1,5m. Ketika di kendaraan, jika bukan orang yang tinggal satu rumah (bukan keluarga), termasuk di mobil, tetap jarak ini berlaku.

Simbol hati menunjukkan posisi antrian berjarak 1,5m di taman wisata Madurodam

Kenaikan berat badan. Meskipun tidak semua mengalami, bisa jadi malah turun atau tidak berubah. Orang-orang yang banyak pikiran karena pandemi ini, atau sedang sakit, bisa jadi berat badannya justru turun. Kenaikan berat badan ini disebabkan lebih banyak di rumah, sehingga jarang melakukan aktivitas fisik dan terlalu banyak suplai makanan.

Untuk aku pribadi, sebelum pandemi, ketika ada keperluan keluar rumah, sering kali jalan kaki, bersepeda, atau naik kendaraan umum. Setelah adanya pandemi, lebih banyak bermobil. Hal ini menyebabkan aktivitas fisik berkurang. Jalan kaki dan bersepeda walaupun untuk tujuan lain, tapi bisa juga menjadi sarana olahraga buatku. Olahraga di rumah juga tidak semudah itu, apalagi waktuku banyak terpakai untuk menemani anak sekolah di rumah.

Selain itu, dikarenakan semua anggota keluarga lebih banyak di rumah, apalagi ada anak kecil, maka makanan menjadi salah satu andalan untuk mengurangi rasa bosan. Apalagi dengan adanya work from home dan school from home, menjadi salah satu semangat untuk mencoba resep-resep baru yang bisa disajikan untuk anak dan suami.

Dua hal ini, jarang beraktivitas fisik dan makan-makan menjadikan berat badanku melonjak banyak.

Kebersamaan keluarga. Ini adalah momen berharga yang aku syukuri saat pandemi ini. Menurutku, kualitas hubungan keluarga terbangun dengan banyaknya waktu bersama. Sejak pandemi, suami kerja di rumah, anak sekolah di rumah, sehingga waktu kami untuk bersama lebih banyak. Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi.

Di awal memang banyak penyesuaian yang terjadi, bahkan menimbulkan keributan dan perselisihan. Aku juga merasa sesi me time-ku kurang sekali, dibandingkan saat anak sedang sekolah. Terlalu banyak waktu dengan suami ternyata juga menimbulkan ‘kebosanan’ tersendiri. Begitu juga suami ada juga masalah yang terjadi sejak kerja di rumah yang berimbas pada hubungan kami. Seiring dengan berjalannya waktu, alhamdulillah masalah-masalah ini dapat diatasi. Sehingga, masalah berganti dengan rasa syukur. Justru, karena ada pandemi ini, kami lebih punya banyak waktu kebersamaan.

Kalau membaca berita, hal semacam ini ternyata banyak terjadi. Keributan antar suami-istri, bahkan anak, kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi justru karena terlalu sering berinteraksi. Banyak konflik dalam rumah tangga yang terjadi karena orang tidak bisa mencari penyegaran di luar rumah. Kadang, ketika ada masalah, antar yang bermasalah ini memang perlu menjauh dahulu, agar tidak memuncak. Namun, di masa pandemi, tidak ada pilihan lain, antar pasangan ataupun anak yang bermasalah akan selalu bertemu. Inilah penyebab konflik dalam rumah tangga meningkat selama pandemi.

Alhamdulillah, anak kami tidak terlalu bermasalah. Umurnya masih 5 tahun, yang penting ada bapak ibu bersamanya. Bahkan, anak kami lebih senang sekolah di rumah, terasa lebih menyenangkan dan tidak melelahkan, daripada ketika di sekolah. Salah satu yang membuatnya tidak terlalu suka sekolah, karena harus berpisah dengan ibunya. Kalau sekolah di rumah, selalu bersama ibunya. Ungkapan ini tentu saja membuat aku bersyukur sekali.

Nah, itulah hal-hal yang kurasakan berubah sejak adanya pandemi Covid-19. Ada yang menyenangkan, ada pula yang tidak. Semoga kondisi segera pulih, di belahan dunia manapun.

Kanal Youtube Pertamaku

Membuat youtube? Sempat terlintas beberapa kali di benakku, untuk membuat akun youtube menggunakan gmail pribadiku. Namun, keinginan itu urung aku lakukan. Faktor utamanya adalah kemalasan..haha.. Aku malas harus membuat video, edit, dan hal-hal lain yang menyertainya. Aku lebih memilih menjadi penikmat youtube saja, daripada sebagai pembuat. Ada banyak hal lain yang aku lebih suka lakukan untuk mengisi hari-hariku, daripada membuat video untuk youtube.

Aku membayangkan, jika ingin video di youtube enak dilihat, haruslah dibuat dengan kualitas video yang baik. Meskipun, banyak juga kutemukan video di youtube, sebenarnya tidak semuanya sudah dalam kondisi ‘layak tonton’. Trus, bagaimana akhirnya aku memutuskan membuat kanal youtube?

Saat menulis post masakan yang ini, untuk pertama kalinya aku ingin mencoba memasukkan video di post. Namun, karena websiteku ini terdaftar sebagai akun personal, bukan premium, maka aku tidak dapat mengunggah videonya. Akhirnya, setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, sepertinya youtube tempat paling oke untuk meletakkan video tersebut.

Pilihan seperti upgrade akun ini ke premium bukanlah pilihan yang ekonomis untuk saat ini. Meletakkan videoku di kanal lain juga bukan pilihan yang menarik. Dalam waktu singkat, akupun memutuskan untuk membuat youtube, agar bisa jadi media pendukung website ini.

Dan inilah, kanal youtube pertamaku: catatankaki, sengaja menggunakan nama yang sama dengan blog ini. Tentu saja, videonya masih kualitas pemula, perlu banyak belajar lagi agar makin layak tonton. Silakan subscribe 🙂 Semoga ke depan, isi youtube dan kualitas videonya, semakin baik.

First blog post

Selamat datang di catatankaki.blog.


Mengambil filosofi dari fungsi catatan kaki, blog ini akan aku gunakan untuk menceritakan sumber informasi atau materi yang telah dan sedang aku pelajari. Anggaplah ini usaha untuk mengikat ilmu dengan tulisan.

Blog ini juga akan aku gunakan untuk menjadi catatan perjalananku dengan memaknai kaki sebagai langkah perjalanan. Menulis tentang cerita ringan jalan-jalan, hingga bercerita tentang apa saja yang aku alami dalam perjalanan hidupku. Banyak cerita dalam perjalananku sebagai seorang perempuan, anak, istri dan ibu dari 1 orang anak laki-laki.

Menulis apa saja yang ingin aku ceritakan. Bercerita perlu didengar, menulis, setidaknya, aku bisa membacanya sendiri 🙂

Siapapun yang menemukan dan membaca blog ini, semoga ada manfaat yang bisa diambil 🙂