Tulisan ini untuk melanjutkan postingan yang ini. Tanggal 12 Januari 2021, kurang lebih 24 jam setelah tes swab sehari sebelumnya, aku mendapat email yang berisi hasil tes swab. Seingatku, petugas dari call centre corona yang kutelepon sebelum tes mengatakan bahwa hasil tes dapat diketahui 24 – 48 jam setelah tes swab dilakukan. Hasil tes akan diberitahukan melalui telepon dan email.
Aku mengatakan bahwa lebih nyaman jika hasil tes dikirimkan melalui email saja. Mengingat, aku tidak selalu memegang hp, bahkan lebih sering hpku dalam kondisi silent. Khawatirnya, saat ditelepon, aku tidak dapat mengangkatnya, maka melalui email lebih bagus. Walaupun begitu, dari pagi di tanggal 12 Januari 2021, aku nyalakan bunyi dering hpku dan selalu kuletakkan di dekatku.
Seingatku, aku selesai tes sekitar jam 10.20 (11/1/21) dan sehari setelahnya (12/1/21), yaitu jam 09.58, aku menerima email yang di dalamnya dicantumkan website tempatku bisa melihat hasil tes secara online. Aku pun segera mengecek email tersebut dan masuk ke tautan pada website yang dikirimkan di email.
Alhamdulillah, hasil tes dinyatakan negatif 🙂
Hasil Tes Swab Negatif
Artinya, tidak terdapat virus corona di dalam badanku. Alhamdulillah. Berarti batuk yang kuderita bukan disebabkan karena corona.
Meskipun demikian, di website itu juga dinyatakan beberapa hal yang perlu kuperhatikan, yaitu:
1. Jika terjadi kondisi berikut, maka aku perlu tetap di rumah (isolasi mandiri):
setelah tes aku mengalami gejala-gejala yang terjadi karena virus corona, dalam kondisi ini aku perlu juga melakukan tes ulang
ada orang yang tinggal serumah (minimal usia 6 tahun) dengan gejala corona, isolasi mandiri dilakukan sampai si penderita corona dites dan diketahui hasilnya
bepergian ke negara yang termasuk zona oranye corona, untuk kondisi ini maka isolasi mandiri selama 10 hari, baik ada keluhan (gejala) ataupun tidak, jika ada gejala maka dilakukan tes
2. Jika dalam 5 hari ke depan (setelah tes) aku bertemu atau ada kontak langsung dengan orang yang telah terkena virus corona, maka yang perlu kulakukan:
catat dengan siapa saja telah bertemu dan laporkan kepada petugas yang mengurusi masalah ini
jika orang yang telah terkena corona ini sudah diketahui, maka aku pun akan mendapat pemberitahuan melalui aplikasi
3. Aku boleh keluar rumah (tidak perlu lagi isolasi mandiri), sambil tetap memperhatikan apakah ada gejala lain yang kurasakan, terutama yang berkaitan dengan virus corona, juga tetap menjalankan protokol kesehatan.
4. Jika aku terkena gejala ini setelah ada kontak langsung dengan penderita corona, dan kontak ini terjadi kurang dari 5 hari yang lalu, maka tes swabku dinyatakan terlalu awal, sehingga hasil tes tidak berlaku lagi. Aku perlu menunggu 5 hari setelah kontak itu terjadi untuk tes ulang.
Tentu saja poin nomer 4 tidak berlaku untukku, karena memang selama masa lockdown ini aku hampir tidak bertemu langsung dengan orang lain. Bahkan, sejak semingguan yang lalu mulai batuk juga sudah tidak pernah keluar rumah dan menerima kunjungan. Alhamdulillah keluargaku (yang tinggal serumah) juga dalam kondisi sehat.
Yang jelas, aku bersyukur dengan hasil tes swab yang menyatakan aku negatif virus corona. Semoga virus ini bisa segera terkendali. Apalagi Belanda sudah memulai program vaksinasi yang diawali untuk para tenaga kesehatan di sini.
Kejadian ini terjadi kemarin (11/1/21), tetapi aku baru sempat membuat tulisan ini hari ini (12/1/21). Sudah semingguan ini aku mengalami batuk. Gejala yang kualami hanyalah batuk kering yang cukup mengganggu terutama ketika malam, sehingga kurang tidur, berakibat badan menjadi terlalu cepat capek dan lesu. Beberapa hari merasa demam tetapi suhu tubuh tertinggi hanya 36.7oC.
Aku sempat berpikir untuk tes corona. Di Belanda, direkomendasikan, jika mengalami sakit yang disertai gejala-gejala yang diderita pasien corona, sebaiknya melakukan tes corona. Namun, karena gejalaku hanya batuk, sedangkan suhu tubuh normal, maka keinginan tes itu aku tunda. Untuk berjaga-jaga, maka sejak batuk, aku hanya di rumah saja, tidak pernah sekalipun keluar rumah. Selama ini keperluanku keluar juga sudah terbatas, misal hanya untuk berbelanja saja.
Hingga tanggal 11 Januari 2021, karena aku ada janji periksa ke bidan, aku memutuskan untuk menelepon bidan beberapa jam sebelum waktu periksa. Tujuanku menelepon untuk memastikan apakah aku bisa datang ke lokasi praktik ataukah jangan datang dulu karena sedang batuk. Ketika dalam kondisi tidak fit, memang disarankan untuk tidak datang ke lokasi praktik bidan. Setelah berdiskusi mengenai keadaanku lewat telepon, bidan memutuskan agar aku tes corona dahulu dan tidak perlu datang periksa. Hal ini untuk memastikan apakah ini batuk biasa atau ada kemungkinan aku telah terkena virus corona. Setelah mengetahui hasil tes, maka aku perlu menelepon bidan lagi untuk mengganti janji yang pada akhirnya dibatalkan ini.
Tes Swab Corona
Maka, hari itu juga, aku segera menghubungi call centre tes corona untuk membuat janji tes. Sebenarnya, janji untuk tes bisa juga dilakukan melalui website untuk memilih waktu dan tempat di mana akan melakukan tes corona.
Melalui telepon, petugas menanyakan data diriku, kemudian memastikan gejala-gelaja yang kualami. Gejala yang ditanyakan petugas adalah tentang jenis batukku, apakah disertai bersin-bersin, radang tenggorokan, gampang capek, badan nyeri (pegal-pegal), demam, dan apakah indera perasaku masih berfungsi. Gejalaku hanyalah batuk kering, jarang bersin, mungkin dalam seminggu batuk ini, hanya sedikit sekali bersin. Mengenai gampang capek dan pegal-pegal, aku mengatakan bahwa sedang hamil, jadi tidak bisa memastikan apakah capek dan pegal ini karena hamil atau sakit. Bahkan sejak sebelum batuk pun sudah mengalami dua kondisi ini. Kalaupun gampang capek dan lesu, sepertinya juga karena kurang tidur karena terganggu batuk saat malam.
Selain itu, petugas juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini:
apakah ada anggota keluarga yang pernah terkena corona
apakah aku pernah ada kontak dengan orang yang terkena corona
apakah aku pernah dihubungi atau mendapat pesan untuk melakukan tes corona
apakah aku pernah bepergian ke luar belanda
apakah aku bekerja di sektor kesehatan atau pekerjaan yang membuatku harus ke luar rumah
Semua pertanyaan di atas kujawab tidak, karena memang gelajaku hanya batuk saja yang menurutku disebabkan oleh cuaca dingin, di mana setiap tahun batuk ini selalu datang setiap musim dingin.
Meskipun demikian, tetap aku perlu tes corona. Petugas memilihkan tempat yang terdekat dengan rumahku dan waktu yang aku bisa datang ke lokasi tersebut. Petugas memberi tahu bahwa hasil tes akan diberitahukan 24-48 jam setelah tes, bisa melalui telepon, email, dan website. Selama belum ada hasil tes, maka aku diminta tetap di rumah saja, menjaga jarak, dan tidak menerima tamu. Anggota keluarga selama tidak menampakkan gejala sakit, boleh keluar rumah dan menerima tamu.
Setelah namaku terdaftar untuk ikut tes, maka aku diberitahu akan ada pesan dan email konfirmasi tentang jadwal tesku. Aku bisa tes hari itu juga, bahkan waktunya pun bisa langsung, kurang lebih 20 menit setelah telepon selesai. Jarak lokasi tes dengan rumahku pun sangat dekat, bisa ditempuh dengan bermobil kurang lebih 10 menit perjalanan.
Mengenai pesan konfirmasi yang akan dikirimkan melalui sms dan email, petugas memberi tahu bahwa biasanya pesan konfirmasi ini akan sampai dalam waktu sejam. Pesan konfirmasi ini nantinya perlu ditunjukkan kepada petugas di lokasi tes. Namun, karena waktu tesku kurang dari 1 jam setelah telepon, maka aku berangkat saja, tidak perlu menunjukkan pesan konfirmasi tersebut jika memang belum sampai. Maka aku pun segera berangkat ke lokasi tes corona dengan membawa identitas diri dan bermasker, sesuai pesan petugas call centre. Karena yang dites hanya aku, maka aku pun berangkat sendiri.
Sesampainya di lokasi, ada petugas di pintu gerbang yang memastikan bahwa aku sudah ada janji untuk tes hari itu. Hanya orang yang sudah ada janji tes saja yang diperbolehkan masuk. Aku memberi tahu bahwa aku sudah menelepon call centre corona, tetapi pesan konfirmasi belum sampai, tetapi aku sudah tahu jam berapa waktu tesku. Maka aku dipersilakan melajukan mobilku sampai lokasi antri mobil. Disini, tidak boleh memfoto apapun, ada tanda rambu besar bahwa memfoto dilarang, maka aku tidak memfoto apapun.
Dilarang Memotret
Saat aku antri, mendapat nomor urut 3. Sebelum aku masuk ke jalur antri mobil, mobil di depanku diminta untuk menurunkan orang yang ikut di dalam mobil tetapi tidak termasuk orang yang dites. Beruntung, aku berangkat sendiri. Setelah 2 mobil masuk, maka giliranku pun tiba. Disambut oleh petugas di pintu lokasi tes, memastikan hal yang sama, yaitu aku sudah membuat janji untuk tes. Kujelaskan hal yang sama seperti saat petugas pintu gerbang menanyaiku. Aku pun dipersilakan maju, masih di dalam mobil, menuju petugas pertama. Petugas pertama ini hanya berpakaian biasa (bukan APD), menggunakan masker, berkaca mata pelindung, dan bersarung tangan. Petugas pertama ini menyambutku dari dalam bilik terbuka, kemudian memastikan waktu janjian tesku.
Ada 2 orang petugas di bilik pertama ini, yang menanyaiku hanya satu, dan dua-duanya berpakaian biasa hanya dilengkapi dengan kaca mata pelindung, masker, dan sarung tangan. Dikarenakan aku tidak bisa menunjukkan pesan konfirmasi dari call centre, maka petugas ini memeriksa data diriku di komputer. Setelah menemukan namaku, petugas ini memberikan tabung (tube) di dalam plastik jernih (plastik biasa) disertai pesan bahwa tabung ini perlu diserahkan ke petugas selanjutnya.
Aku pun menuju petugas selanjutnya, terlihat ada angka 1 – 10 yang menunjukkan nomer bilik masing-masing petugas swab, dan giliranku adalah di bilik nomer 2. Bilik terbuka yang di dalamnya ada 1 orang petugas dengan pakaian APD lengkap, berkaca mata pelindung, bermasker, dan bersarung tangan. Aku pun menyerahkan tabung dari petugas pertama. Petugas ini menyuruhku bersin di tisu, kemudian meminta tisu itu dimasukkan ke plastik dan nanti dibuang di rumah. Setelah itu, petugas ini melakukan tes swab, dimulai dari bagian tenggorokan, kemudian hidung. Alat swab dimasukkan ke dalam tabung yang sudah kuberikan tadi. Terakhir, petugas memberiku brosur mengenai apa yang harus dilakukan setelah tes ini.
Aku pun segera menuju pintu keluar. Alur jalan di lokasi tes ini dari pintu gerbang, hingga masuk ke lokasi tes tidak terlalu jauh, dan jelas sekali, diberi tanda pembatas jalan dan keterangan ke arah mana mobil dijalankan, bahkan dibantu oleh beberapa petugas untuk menunjukkan jalan hingga ke jalan keluar. Di lokasi, mesin mobil hanya dimatikan ketika bertemu petugas pertama (yang menyerahkan tabung) dan kedua (yang melakukan tes). Total waktu yang dibutuhkan dari masuk lokasi tes hingga keluar sekitar 5-7 menit.
Terima kasih telah melakukan tes corona – Bersama-sama kita bisa mengendalikan corona
Sesampai di rumah, kubaca informasi di dalam brosur yang diberikan oleh petugas. Dari brosur ini, aku mendapat informasi apa yang perlu kulakukan setelah tes ini hingga hasil tes keluar, antara lain:
tetap berada di rumah, tidak keluar rumah (jika keluar rumah pun hanya boleh di pekarangan atau kebun)
tidak menerima tamu (kunjungan), kecuali dokter atau petugas kesehatan jika memang diperlukan
menjaga jarak dengan anggota rumah
menjaga kebersihan, sering cuci tangan, jika batuk atau bersin di dalam siku, menggunakan tisu sekali pakai
memperhatikan telepon dan email untuk mengetahui hasil tesnya, kadang hasil tes masuk ke kotak spam
memperhatikan dan mengingat dengan siapa dalam beberapa hari ini kontak
jika yang dites anak-anak, maka hal-hal ini tidak berlaku
Semua anggota rumah tetap tinggal di rumah (tidak boleh keluar) jika orang yang dites corona mengalami gejala-gejala yang lebih berat, seperti demam (suhu tinggi) atau kesulitan bernafas, juga jika di dalam rumah tersebut ada yang terkena corona.
Selain info tentang apa yang perlu kulakukan selama menunggu hasil tes, di dalam brosur tersebut juga diberi tahukan informasi berikut:
Jika hasil tes negatif, maka saat dilakukan tes swab, tidak ditemukan adanya virus corona, maka boleh keluar rumah, tentu saja seperlunya, mengingat sekarang di belanda juga sedang lockdown. Jika ada orang yang serumah mengalami gejala corona dan belum dites, atau bakan sudah terkena corona, maka walaupun hasil tes negatif, tetap tidak boleh keluar rumah. Ini dikecualikan jika yang dites anak-anak sampai usia 5 tahun.
Jika hasil tes positif, maka saat tes ditemukan bahwa telah terinfeksi virus corona. Sudah pasti harus tetap di rumah, termasuk anggota keluarga yang tinggal serumah, tidak menerima tamu, menjaga jarak dengan anggota rumah. Petugas yang menangani corona akan menelepon dan memberi tahu lebih lanjut, termasuk mengidentifikasi pernah kontak dengan siapa saja. Kemudian, ketika tahu hasil tes positif, maka perlu memberi tahu dokter keluarga, dan orang-orang tertentu yang memang perlu tahu, misalnya kalau aku, selain dokter, maka perlu memberi tahu bidan, untuk orang-orang yang bekerja, maka memberi tahu tempat kerjanya.
Semoga saja hasil tes swabku negatif dan tidak ada virus corona di dalam badanku 🙂 Hasil tes kutuliskan di postingan ini.
Sejak Rabu, 16/12/20, Perdana Menteri Belanda mengumumkan melalui konferensi pers, bahwa Belanda lockdown lagi. Sebenarnya hal ini tidak terlalu berpengaruh pada ritme kehidupanku sehari-hari. Sejak pandemi, aku memang membatasi keluar rumah. Suami juga sudah bekerja di rumah. Hanya anak yang masih berangkat sekolah. Dengan adanya lockdown ini, maka aktivitas antar-jemput anak sekolah tidak perlu dilakukan. Mulai awal hingga pertengahan Januari tahun depan perlu membersamai anak untuk sekolah di rumah. Aktivitas lain tidak banyak perubahan.
Hanya saja, untuk pemeriksaan kehamilan, sedikit banyak ada perubahan. Bidan telah memberikan info bahwa akan ada jenis pemeriksaan kehamilan yang dibatasi, bahkan bisa jadi dibatalkan. Mengingat, keterbatasan personel di praktiknya, juga menghindari tersebarnya virus. Hanya ada 4 bidan yang berpraktik di praktik bidan yang aku datangi setiap periksa. Demi mencegah adanya penularan covid di lokasi praktik, maka tatap muka saat pemeriksaan akan banyak dibatalkan. Selama ini bidan juga sudah membatasi tatap muka saat pemeriksaan, apa yang bisa lewat telefon dilakukan lewat telefon saja. Dikarenakan lockdown ini, maka lebih ketat lagi. Datang ke bidan hanya saat USG saja.
🙂
Pekan ini aku ada jadwal USG minggu ke-20 kehamilan, di mana biasanya boleh ditemani oleh pasangan dan keluarga. Dengan adanya lockdown, maka ada pembatasan, saat USG hanya boleh ditemani oleh 1 orang saja. Tadinya, saat USG di minggu ke 20 ini, aku berencana membawa anakku agar bisa melihat di layar, saat proses USG dilakukan. Namun, dengan adanya lockdown ini, ada larangan untuk membawa anak-anak.
Untuk pemeriksaan yang harus dilakukan dengan bertatap muka, ibu hamil hanya boleh datang sendiri. Biasanya, pasangan boleh ikut menemani. Namun, untuk saat ini sampai lockdown selesai, maka hanya boleh 1 orang di ruang periksa bidan. Kecuali, untuk usg dan pertemuan perencanaan persalinan, maka pasangan diperbolehkan datang.
Jika datang ke lokasi praktik lebih awal, maksimal hanya 5 menit lebih awal saja, agar tidak ada penumpukan orang menunggu di ruang tunggu. Untuk orang yang mengalami keluhan seperti covid, atau dalam kondisi tidak fit, dilarang mendatangi lokasi praktik. Jika saat hari itu tidak fit dan ada janji, maka telefon dahulu, agar bisa dilakukan penjadwalan ulang, atau tetap periksa lewat telfon. Ketika di lokasi praktik bidan, protokol biasa tetap berlaku, seperti menggunakan hand sanitizer saat masuk, memakai masker, menjaga jarak, tidak ada kontak fisik seperti berjabat tangan. Kontak fisik sebatas pemeriksaan yang diperlukan saja.
Protokol Kesehatan COVID-19
Jika ada pasien yang melahirkan di masa lockdown ini, kalau di rumah sakit, maka cuma boleh ditemani 1 orang. Jika suami sudah menemani, maka keluarga yang lain tidak boleh datang ke rumah sakit. Jika memilih melahirkan di rumah, maka bidan menyarankan tidak saat banyak orang melahirkan di waktu yang sama. Untuk ini, bidan punya jadwal tersendiri berdasarkan hpl. Jika di hari itu sudah ada orang atau beberapa orang yang melahirkan, maka bidan bisa mengatur agar lahiran di tempat lain, misal rumah sakit atau rumah bersalin. Agar ibu hamil tetap tertangani dengan baik, meskipun melahirkan saat lockdown.
Para bidan pun telah memberi info bagaimana mereka akan mengatur personel dalam pemeriksaan, menemani kelahiran, bahkan memberi tahu juga jika mereka perlu melakukan penambahan personel bidan. Hal ini untuk antisipasi jika sampai ada bidan yang terkena covid, maka paling tidak ada 2 bidan yang stand by untuk melayani pemeriksaan dan menemani persalinan. Tentu saja, 1 pasien ditemani oleh 1 bidan di ruang persalinan. Jika melahirkan di rumah sakit, dan dibutuhkan bidan tambahan, maka bidan berasal dari rumah sakit, bukan dari praktik bidan yang biasa didatangi. Hal-hal seperti ini pun diinfokan oleh bidan untuk memberikan kenyamanan kepada kliennya agar tidak was-was jika melahirkan, terutama di masa pandemi ini.
Jika ibu hamil memerlukan kursus kehamilan, persalinan, dan menyusui yang biasanya dilakukan di lokasi praktik bidan, maka dengan kondisi ini kursus langsung ditiadakan. Sebagai gantinya, mereka memberikan kursus tersebut dalam bentuk video. Ada juga yang dilakukan melalui kerjasama dengan organisasi lain dengan membayar biaya yang cukup murah.
Untuk aku pribadi, sejauh ini belum ada masalah karena penerapan aturan tersebut. Pemeriksaan USG tetap dilakukan seperti jadwal semula. Jika telah ada jadwal pemeriksaan di bulan mendatang dan ada perubahan atau pembatalan jadwal, bidan akan memberi kabar.
Semoga kondisinya berangsur membaik. Penjadwalan lockdown dari pemerintah sampai tanggal 18 Januari 2021, semoga tidak ada penambahan lagi. Apalagi aku dengar Januari sudah mulai ada vaksin, meskipun vaksin baru akan diberikan kepada orang-orang garda depan dalam penanggulangan covid ini.
Di postingan ini aku akan menuliskan pengalaman periksa kehamilan di Belanda. Kali ini adalah kehamilan keduaku. Hampir sama prosedur pemeriksaan dengan kehamilan pertama, hanya bedanya kali ini terjadi saat pandemi. Sedikit banyak ada perubahan yang terjadi untuk pemeriksaan kehamilan, terutama mengenai protokol kesehatan yang perlu diterapkan.
Apa yang kulakukan begitu mendapati positif hamil di alat testpack?
Di Belanda, semua kehamilan normal periksa di bidan. Jadi, ketika tahu hamil, maka langkah pertama adalah mencari praktik bidan terdekat dari rumah. Sebenarnya mau cari bidan di lokasi manapun tidak masalah. Hanya saja, direkomendasikan yang terdekat dari rumah, sehingga hanya menempuh jarak pendek untuk ke lokasi praktik setiap periksa. Kedekatan rumah dengan lokasi bidan ini, terutama sangat dibutuhkan ketika saat lahiran tiba. Kelahiran normal juga ditangani oleh bidan, baik itu di rumah ataupun rumah sakit. Dengan lokasi bidan yang dekat, ketika bayi akan lahir, bidan bisa segera datang ke rumah. Diperlukan juga, misal terjadi kondisi gawat darurat saat hamil, bidan bisa segera sampai ke rumah.
Ketika kehamilan pertama dulu, setelah tahu hamil, karena belum tahu prosedur apa yang dilakukan setelahnya, aku pun mendatangi dokter keluarga, yang disebut huisart. Setiap orang perlu terdaftar di huisart, sehingga jika sakit atau perlu periksa, akan ditangani oleh dokter keluarga tersebut. Ada beberapa huisart yang meminta pasien menyerahkan urine untuk dites agar lebih memastikan apakah benar sudah hamil. Untuk kondisiku saat itu, dokter mengatakan kalau hasil testpack bisa dipercaya, sehingga diminta untuk langsung mencari bidan. Aku pun mendapat rekomendasi bidan-bidan yang lokasi praktiknya terdekat dengan rumah. Oh iya, untuk pemilihan huisart, dasar utamanya juga sama, yaitu lokasi terdekat dengan rumah.
Untuk pendaftaran bidan, dilakukan sendiri, bisa melalui website praktik bidan tersebut, atau melalui telefon. Informasi yang dibutuhkan biasanya adalah data diri, alamat email, dan nomer telefon. Setelah terdaftar di klinik bidan tersebut, biasanya bidan akan menelepon untuk berkenalan, menanyakan kondisi kehamilan saat itu, dan menentukan waktu periksa pertama di klinik.
Periksa pertama di bidan biasanya dilakukan pada minggu ke 8 kehamilan. Hal ini dikarenakan pemeriksaan janin dengan usg (perut) baru bisa terlihat jelas di minggu ke 8. Di minggu-minggu sebelumnya, jika memang diperlukan, kontak dengan bidan hanya dilakukan lewat telefon. Kecuali ada kondisi kegawatan tertentu.
Saat pertemuan pertama ini, yang dilakukan oleh bidan adalah pemeriksaan kehamilan. Ibu hamil akan ditanya bagaimana kondisinya kemudian usg. Di pekan ke 8 ini juga, ditentukan hpl (hari perkiraan lahir). Kalau sebelumnya, hpl hanya dihitung dengan data hari pertama menstruasi terakhir, setelah usg, maka bisa diketahui lebih akurat hplnya.
Dikarenakan kondisi pandemi, maka selama pemeriksaan tetap berlaku protokol kesehatan seperti memakai masker, sebelum memasuki klinik memakai hand sanitizer, tidak bersalaman, dan menjaga jarak. Pertemuan pertama ini cukup singkat, usg dan obrolan singkat mengenai perkembangan janin. Sebelum pulang, terlebih dahulu kami membuat waktu janjian periksa selanjutnya.
Pemeriksaan kedua dilakukan pada minggu ke 12. Sejak pertemuan 1 di minggu ke 8, maka pemeriksaan dilakukan sebulan sekali. Pada pemeriksaan kedua tidak ada usg, hanya pemeriksaan kondisi kehamilan saja. Biasanya dengan mengobrol saja, tanya jawab bidan dengan ibu hamil. Jika diperlukan, ada pemeriksaan tekanan darah juga. Selain itu, ada penjelasan mengenai tawaran tes untuk mengetahui apakah ada kemungkinan anak yang dikandung membawa gen down syndrome dan penyakit kelainan yang lain. Normalnya, pada pemeriksaan kedua ini, ibu hamil tetap datang ke praktik bidan. Hanya saja karena pandemi, pemeriksaan yang dapat dilakukan tanpa menyentuh ibu hamil, tidak akan dilakukan dengan bertatap muka, hanya via telefon.
Saat itu, aku tidak tahu bahwa pemeriksaan kedua hanya via telefon. Sehingga, aku pun tetap datang ke klinik bidan. Akibatnya, aku menunggu hampir 1 jam, dan baru dapat kabar dari bidan, bahwa bidan berusaha menghubungiku via telefon. Sayangnya, saat itu pun aku tidak membawa telefonku. Akhirnya, bidan pun menemuiku di ruangannya.
Beberapa hari sebelum jadwal pemeriksaan kedua ini, bidan telah mengirimkan dokumen yang aku perlu isi via email. Dokumen yang telah kuisi itu perlu kukirim kembali via email ke bidan. Dokumen itu terkait dengan riwayat kesehatanku, suami, keluargaku, dan keluarga suami. Hal ini penting untuk mengetahui apakah ada riwayat sakit yang nantinya akan berpengaruh terhadap kehamilan, kelahiran, dan kondisi kesehatan bayi. Pada beberapa praktik bidan yang lain, dokumen ini bisa saja sudah diberikan ke pada ibu hamil sejak pertama kali mendaftar pada klinik bidan tersebut. Bahkan ibu hamil bisa mengunduhnya sendiri di website klinik bidan, untuk nantinya diisi dan diserahkan kembali ke bidan.
Pada pemeriksaan kedua, setelah kami mengobrol tetang kondisi kehamilanku, kami pun membahas tentang dokumen riwayat kesehatan tersebut. Dari riwayat kesehatan, alhamdulillah, tidak ada indikasi masalah yang akan berpengaruh pada kehamilan dan bayi kami. Namun, bidan tetap perlu melakukan prosedur untuk menawari tes tentang kemungkinan adanya penyakit kelainan gen pada bayi kami. Ini prosedur normal yang memang akan ditawarkan pada setiap ibu hamil. Tidak ada kewajiban untuk mengikuti tes itu. Kecuali memang dari dokumen riwayat kesehatan ada kemungkinan akan terjadi, maka ibu hami benar-benar akan diminta test. Untuk kasusku, hanya berupa penawaran saja. Aku dan suamiku sepakat tidak mengikuti test tersebut. Kapan-kapan akan aku tuliskan tentang tes ini, juga alasan mengapa kami memilih tidak menjalaninya. Kami tidak harus memutuskan segera, hanya bidan memberi batasan waktu untuk memberi tahu keputusan kami, karena tes ini juga ada batasan di minggu kehamilan tertentu akurat dilakukan.
Sekitar 2 pekan setelah pemeriksaan ke dua, aku kembali ke bidan untuk pengambilan darah. Tes darah ini diperlukan untuk melihat kondisi darahku, misal gula darah, jumlah zat besi, dll. Juga kondisi kesehatanku, apakah ada penyakit tertentu yang bisa mengganggu kehamilan, misal dikarenakan virus-virus tertentu, seperti hepatitis, toksoplasma, dll. Hasil tes dikabarkan lewat telefon. Di sini ada semacam kebiasaan, jika tidak ada telefon setelah pemeriksaan tertentu, maka artinya hasil tes bagus, kondisi kita baik-baik saja 🙂 Di hari yang diperkirakan tes darah sudah ada hasilnya, aku menunggu-nunggu telefon dari bidan. Kalau ada kondisi tidak normal, biasanya akan langsung dihubungi. Dan hari itu tidak ada telefon sama sekali. Aku berharap bahwa hasilnya baik-baik saja.
16 Weeks Pregnancy
Selanjutnya, pemeriksaan ketiga, di minggu ke 16 kehamilan. Jadwal biasanya sudah dibuat pada saat pemeriksaan sebelumnya. Pada pemeriksaan ketiga ini, tidak ada usg. Di belnda, secara umum, usg hanya dilakukan kurang lebih 3x, yaitu pekan 8, pekan 20, dan selanjutnya bidan akan menentukan kapan usg selanjutnya, biasanya menjelang kelahiran. Walaupun belum ada bukti spesifik mengenai masalah yang bisa timbul antara seringnya usg dengan perkembangan janin, tetapi di sini memang usg hanya dilakukan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan kehamilan tanpa usg, biasanya akan dilakukan bidan dengan meraba dan mengecek perut ibu hamil, kemudian dengan alat doppler untuk mendengarkan detak jantung bayi.
Pada pemeriksaan kali itu, tekanan darahku diukur, sekaligus bidan memberi tahu hasil tes darahku. Alhamdulillah hasil tes darahku normal, tidak ada penyakit tertentu. Untuk mengetahui kondisi janin, yang dilakukan bidan hanya pemeriksaan dengan tangan untuk meraba perutku. Dari pemeriksaan ini, bidan menjelaskan posisi bayi, juga ukuran rahimku. Selanjutnya, dengan doppler, bidan memperdengarkan suara detak jantung bayiku. Kondisi kehamilanku juga dibicarakan sejauh mana perkembangannya dan masalah-masalah yang masih aku alami pada trimester 2 kehamilan ini.
Pada pertemuan ini juga, bidan memberiku surat tentang informasi vaksin pertusis. Vaksin ini melindungi ibu hamil juga bayi dalam kandungan. Diharapkan, jika ibu hamil mendapatkan vaksin ini, selain ibu terlindungi, juga nantinya saat bayi lahir sudah ada perlindungan dari pertusis (batuk rejan). Mengenai kapan dan bagaimana vaksin ini akan dilakukan, akan dibahas di pertemuan selanjutnya, sebelum usg selanjutnya di pekan 20.
Saat ini kehamilanku baru di minggu ke 16, dan sejauh ini pemeriksaan-pemeriksaan tadi lah yang telah kujalani. Kapan-kapan aku lanjutkan lagi ceritanya di tulisan yang lain.