Beberapa waktu yang lalu, untuk mengisi liburan sekolah anak, kami mendaur ulang sampah kertas di rumah. Untuk percobaan pertama, hasilnya lumayan, bisa digunakan sebagai kertas gambar.
Inilah tahapan yang kami lakukan dalam mendaur ulang kertas.
Alat:
Gunting.
Wadah.
Blender.
Cetakan: untuk cetakan, kami membuat sendiri dari rangka pigura. Rangka pigura (dari kayu) kami lepas, hanya dipakai rangka kayunya saja. Kemudian lapisi rangka tadi dengan kain tipis/kain kelambu.
Kain yang menyerap air/handuk.
Spons.
Setrika.
Alat pemberat.
cetakan pembentuk kertas
Bahan:
Kertas bekas/tidak terpakai. Kami menggunakan kertas iklan dari supermarket.
Air.
Cara Membuat:
Gunting/sobek kecil kertas yang akan didaur ulang.
Masukkan ke dalam blender, tambahkan air.
Blender hingga halus menjadi bubur kertas. Jangan sampai ada kertas yang masih kasar, bisa menyebabkan kertas sulit tercetak.
Siapkan wadah berisi air yang banyak.
Tuangkan bubur kertas ke dalam wadah berisi air tersebut.
Masukkan cetakkan ke dalam wadah no 5. Pastikan bubur kertas merata di cetakan.
Letakkan cetakan pada kain yang menyerap air/handuk. Buka penutup luar cetakan. Ambil air pada bubur kertas yang tercetak dengan spons. Jika spons terisi air, peras, hingga spons kering lagi. Jika perlu, ulangi kurangi air pada bubur kertas yang tercetak, hingga air yang ada tidak banyak lagi.
Balik cetakan pada kain yang akan dipakai mengeringkan. Hati-hati ketika membalik, karena bubur kertas masih lengket, sehingga mudah sobek.
Tutup kain yang telah ada kertas tercetaknya, setrika bagian atas kain, sehingga membantu kertas cetakan lebih cepat kering.
Ulangi langkah 6 – 9 hingga sebanyak berapa kertas daur ulang yang ingin dicetak.
Beri alat pemberat di atas kain yang menutupi kertas tercetak terakhir. Hal ini dilakukan agar kertas yang telah kering tidak melengkung dan tetap lurus. Keringkan tumpukan cetakan kertas tersebut.
*Karena ini proyek liburan anak, maka kami lakukan berdua. Dalam persiapan, kami lakukan bersama, sedangkan saat mencetak kertas, aku lakukan terlebih dahulu, sebagai contoh. Kemudian anakku melakukannya sendiri. Tahapannya mudah untuk dilakukan oleh anak umur 6 tahun. Untuk tahapan awal memang masih perlu dibantu, namun setelah melakukan sekali-dua kali, maka selebihnya bisa melakukan sendiri.
Untuk tahapan lebih detailnya, silakan lihat di youtube berikut ini.
Surat ini diturunkan Allah kepada Rasulullah ﷺ saat beliau masih berada di Mekah (makkiyah). Ciri khas surat-surat makkiyah adalah pembahasan seputar Iman kepada Allah, Rasulullah, dan hari Akhir.
Kandungan An-Naziat
An-Naziat membahas tentang hari akhir, menceritakan tentang malaikat-malaikat dengan tugas masing-masing, termasuk dalam ini, malaikat pencabut nyawa. Ada pula pembahasan tentang bagaimana kondisi saat hari akhir tiba. Kisah tentang nabi Musa ketika mengingatkan Fir’aun yang tetap mengingkari Allah. Tanda kekuasaan Allah berupa penciptaan bumi dan isinya untuk kesenangan dan kemudahan manusia. Kesudahan orang-orang, baik yang beriman maupun yang kafir, setelah hari kiamat.
Malaikat Pencabut Nyawa dan Hari Akhir
Ayat 1-5, Allah bersumpah dengan malaikat-malaikat yang memiliki tugas dan kondisi masing-masing. Malaikat pencabut nyawa (ayat 1 & 2), malaikat yang turun dari langit dengan cepat (ayat 3), malaikat yang mendahului dengan kencang (4), dan malaikat yang mengatur urusan dunia (ayat 5).
Kondisi malaikat pencabut nyawa dalam menjalankan tugasnya ternyata dibahas berbeda dalam surat ini. Ada yang mencabut nyawa dengan keras/kasar (ayat 1), ada pula yang mencabut nyawa dengan mudah/lemah lembut (ayat 2). Kematian adalah sesuatu yang dikatakan (oleh Rasulullah ﷺ) sangat menyakitkan. Meskipun demikian, Allah membedakan bagaimana perlakuan malaikat pencabut nyawa ketika mencabut nyawa orang beriman dan kafir.
Kemudian, bagaimana kondisi hari akhir? Hal ini disampaikan pada ayat 6-9. Terdapat dua tiupan, dimana tiupan pertama mengguncangkan alam (ayat 6) dan diiringi tiupan kedua (ayat 7) untuk membangkitkan manusia. Digambarkan saat itu, hati-hati manusia merasa takut (ayat 8) dan pandangannya tunduk (ayat 9).
Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar hari akhir kepada orang-orang Quraisy (kafir), ada ungkapan keraguan yang mereka katakan. “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?” (ayat 10). “Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?” (ayat 11). Mereka berkata, ” Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan” (ayat 12). Tanpa orang-orang kafir itu sadari, bahwa sebenarnya mereka sendiri yang nantinya akan mengalami kerugian. Mereka dibangkitkan dan kembali kepada Allah dalam keadaan tidak beriman.
Untuk Allah, hal ini tentu saja mudah sekali. Hanya dengan sekali tiupan, alam dan isinya, juga kehidupan akan hancur (ayat 13). Dengan sekali tiupan juga, Allah bangkitkan kembali makhlukNya yang telah binasa (ayat 14).
Kisah Nabi Musa dan Fir’aun
Dalam surat An-Naziaat ini, Allah menyampaikan kepada nabi Muhammad ﷺ tentang kisah Nabi Musa ketika menghadapi Fir’aun (ayat 15-26). Untuk menjadi pelajaran tentang dakwah nabi Musa kepada Fir’aun. Kita pun dapat mengambil hikmah dari kisah ini.
Dimulai dengan pertanyaan Allah, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa?” di ayat 15. Ketika Allah memanggil nabi Musa di lembah Tuwa (ayat 16). Untuk mendatangi Fir’aun yang telah melampaui batas (ayat 17). Untuk mengingatkan Fir’aun agar membersihkan diri dari kesesatannya (ayat 18), sehingga nabi Musa dapat membantu Fir’aun ke jalan Allah (ayat 19).
Dalam mendakwahi Fir’aun, nabi Musa pun menunjukkan mukjizat dari Allah (ayat 20). Namun, Fir’aun justru mendustakan dan mendurhakai nabi Musa (ayat 21), bahkan menantang nabi Musa (ayat 22). Fir’aun mengumpulkan pembesar-pembesar kerajaannya dan menyeru kepada kaumnya (ayat 23). Fir’aun mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan (ayat 24). Karena kesesatan Fir’aun itulah, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia (ayat 25). Sungguh pada hal yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Allah (ayat 26).
Tanda Kekuasaan Allah
Allah menunjukkan tanda kekuasaanNya agar menghindarkan manusia dari rasa sombong dan merasa mulia. Padahal manusia sangat tidak layak menyombongkan diri. Maka, di ayat 27, “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?”
Allah telah menciptakan langit yang tinggi dan menyempurnakannya (ayat 28). Bahkan, kita tidak bisa menemukan di mana ujung langit ini. Allah lah yang menciptakannya, menyempurnakannya dengan keindahan yang dapat dinikmati oleh pandangan manusia. Allah menjadikan malam gelap gulita dan siang terang benderang (ayat 29).
Allah menghamparkan bumi (ayat 30) untuk umat manusia. Allah pancarkan mata air di bumi, dan ditumbuhkanNya tumbuh-tumbuhan (ayat 31). Gunung-gunung Allah pancangkan dengan teguh (ayat 32). Tujuan dari semua itu adalah untuk kesenangan manusia dan untuk hewan-hewan ternak yang dimiliki oleh manusia (ayat 33). Maka ini tanda kekuasaan Allah sebagai bukti kasih sayang Allah yang bisa disaksikan manusia. Ini semua harusnya menjadikan manusia selalu mengingat Allah dimanapun berada.
Kesudahan Setelah Hari Kiamat
Maka apabila hari yang dijanjikan Allah tiba, yaitu hari kiamat (ayat 34), yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya (ayat 35). Neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat (ayat 36).
Neraka adalah tempat untuk orang-orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia (ayat 37-39).Sedangkan untuk orang-orang yang takut pada Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surga adalah tempat tinggalnya (ayat 40-41).
Kapan Kiamat Tiba?
Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?” (ayat 42). Tentang ini, bahkan Rasulullah ﷺ saja tidak mengetahuinya. Ini adalah salah satu rahasia terbesar Allah. Hanya Allah sajalah yang tahu kapan kiamat terjadi.
Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? (ayat 43). Rasulullah ﷺ hanya penyampai pesan dari Allah untuk umat manusia. Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya) (ayat 44). Rasulullah ﷺ hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat) (ayat 45).
Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari (ayat 46).
Lelystad adalah kota hasil reklamasi di Belanda. Dahulu, daerah ini hanya perairan. Pada tahun 1967, reklamasi berhasil dilakukan, sehingga terwujudlah sebuah kota yang diberi nama Lely. Stad dalam bahasa Indonesia adalah kota. Sehingga Lelystad, bermakna Kota Lely. Nama yang lucu bukan?
Nama kota ini diambilkan dari nama insinyur yang memimpin keberhasilan proyek reklamasi ini, Cornelis Lely. Saat itu, daerah ini berada kurang lebih 3 meter di bawah permukaan air laut. Untuk menghargai kerja kerasnya dalam mereklamasi daerah tak berpenghuni itu, maka dipakailah nama insinyur ini sebagai nama kota. Di Belanda, umum sekali nama-nama orang yang berjasa di suatu bidang tertentu, menjadi nama jalan, bahkan nama kota.
Sampai saat ini ada mekanisme pengaturan untuk tetap menjaga Lelystad aman ditinggali, tidak terjadi banjir, atau bahkan tenggelam. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme ini, termasuk sejarah Lelystad terbentuk, bisa mengunjungi museum Lelystad (museum Flevoland).
Museum Lelystad
Di dalam museum ini, selain mengenail sejarah, juga ada tempat bermain anak, sehingga anak-anak bisa belajar sambil bermain bagaimana mengatur perairan di Lelystad agar tidak terjadi banjir.
Het Watertheater – Teater air
Di dekat museum, kita bisa melihat perariran Lelystad, dimana pada jadwal tertentu, ada kapal yang bisa dinaiki untuk mengelilingi perairan ini.
Perairan Lelystad
Kawasan di sekitar perairan ini, dinamakan Batavia Land. Ada 3 lokasi yang menarik dikunjungi. Selain museum Lelystad, ada juga replika kapal VOC, dan museum workshop kapal. Kapal ini pada sekitar tahun 1628 berlayar menuju Pulau Jawa untuk mengangkut rempah-rempah. Kapal ini diberi nama Batavia. Kita bisa memasuki kapal ini dan melihat bagian dalam kapal.
Replika Kapal VOC “Batavia”
Banyak bagian di dalam kapal dibuat persis seperti aslinya, juga rutin dirawat dan diperbaiki jika ada bagian yang rusak.
Bagian dalam Kapal Batavia
Sebelum lokasi kapal Batavia, terdapat museum yang menjadi tempat workshop untuk belajar bagaimana kapal zaman dulu dibuat. Pengunjung dapat mencoba beberapa hal, seperti pertalian (tali-temali), melihat kapal besar dibuat, juga bagaimana karyawan workshop sedang membuat replika kapal.
Bagian dalam workshop
Banyak kapal bersejarah yang replikanya bisa kita lihat sampai sekarang. Sehingga orang bisa mengetahui bagaimana bentuk asli kapal-kapal yang dimiliki Belanda zaman dahulu. Di lokasi workshop ini, kita bisa melihat juga logo VOC pada kotak kayu yang diangkut ke dalam kapal, saat mereka dahulu menjelajah. Tentu saja hanya replika. Bagaiamanapun, untuk Belanda, VOC adalah perusaaan dagang pertama dan terbesar milik mereka, sehingga banyak bukti-bukti peninggalannya yang masih tersimpan sampai sekarang.
Sudah masuk pekan kedua, anak-anak di Belanda kembali ke sekolah. Setelah libur musim panas kurang lebih 1,5 bulan. Kembalinya anak ke sekolah, otomatis kembali juga rutinitas antar jemput anak. Dengan kata lain, kembali lagi rutinitas berinteraksi dengan banyak orang.
Di musim pandemi yang belum usai, ditambah ada kenaikan penyebaran virus, tentu saja orang tua perlu waspada. Ketika mengantar anak ke sekolah, dalam situasi yang berkerumun orang, protokol kesehatan tidak lagi dihiraukan.
Di Belanda, tidak ada kewajiban memakai masker, kecuali di tempat-tempat tertentu, seperti transportasi umum. Selebihnya, bebas saja, mau pakai masker atau pun tidak. Jarak yang disarankan 1,5m, ini juga belum tentu semua sadar melakukannya. Kondisi “new normal” ini, menurutku sudah terlihat normal untuk banyak orang.
Praktis, dari hari pertama mengantar jemput anak, yang terjadi adalah para orang tua yang bergerombol di depan pintu gerbang. Pihak sekolah saja sampai kewalahan untuk mengatur para orang tua ini agar menjaga jarak. Walaupun, sudah diinformasikan kepada orang tua sejak sehari sebelumnya tentang protokol kesehatan untuk menemani hari pertama anak ke sekolah.
New Normal
Lalu, bagaimana penerapan new normal di sekolah? Tentu saja pihak sekolah menerapkannya dengan peraturan yang sesuai dengan protokol kesehatan. Antar jemput anak dibagi dalam tiga lokasi, sehingga tidak ada penumpukan di satu pintu gerbang. Orang tua juga dilarang masuk ke dalam sekolah, walaupun di hari pertama banyak juga yang akhirnya masuk ke dalam area sekolah. Memang, ada pengecualian untuk anak-anak play group dan hari pertama tk kecil, orang tua boleh ikut sampai kelas. Namun, ada juga yang menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke dalam kelas, misalnya, karena anaknya belum berani.
Lokasi Antar Jemput Anak
Peraturan tersebut sudah diberitahukan terlebih dahulu sejak H-1 masuk sekolah. Pengaturan lokasi dan jam antar jemput anak berbeda-beda untuk setiap group (kelas). Juga ada peraturan khusus untuk anak yang memiliki saudara di kelas lain. Anak-anak itu dikumpulkan dengan saudaranya di suatu lokasi, sehingga orang tua hanya di satu tempat itu untuk menjemputnya.
Bagaimana jika ada murid yang sakit?
Sekolah memberikan informasi bagaimana menentukan apakah anak dapat masuk sekolah atau tidak. Jika kondisinya sehat, tentu saja tidak ada halangan untuk masuk sekolah. Namun, jika kondisinya sakit, tidak semua diperbolehkan masuk. Selama ini, sebelum pandemi, jika ada yang sakit dan masih memungkinkan masuk sekolah, maka tidak perlu izin. Misal, batuk, pilek, alergi, dan jenis-jenis penyakit ringan lainnya. Namun, untuk saat ini, bahkan jika hanya sakit batuk dan pilek, orang tua harus menilai apakah anak tersebut bisa tetap masuk atau perlu izin.
Bagaimana jika murid sakit?
Diagram ini untuk menentukan apakah murid dapat masuk sekolah atau tidak. Termasuk, apakah orang tua (wali murid/pengasuh) diperbolehkan antar jemput anak atau tidak. Dengan mencocokkan kondisi sehat atau sakitnya dengan pertanyaan pada diagram. Cara membaca diagram ini lebih lengkapnya di sini.
Diagram tersebut dibuat dari peraturan pemerintah yang dilandaskan pada pertimbangan RIVM. Lembaga ini berkerja dalam bidang penelitian kesehatan masyarakat dan lingkungan. Salah satu tugasnya adalah mengontrol penyakit menular, agar tidak menyebar di masyarakat. Maka, penanggulangan COVID-19 adalah tanggung jawabnya.
Penerapan Protokol Kesehatan Di Sekolah
Sekolah juga mensosialisasikan kepada orang tua, melalui aplikasi, bagaimana penerapan protokol kesehatan di sekolah. Sehingga orang tua dapat mengajak bicara anak, tentang apa yang boleh dan tidak dilakukan, selama di sekolah. Bagaimana situasi di sekolah akan berbeda dengan sebelumnya.
Protokol kesehatan ini, antara lain:
Aturan Umum, memuat:
Semua anggota sekolah perlu sering mencuci tangan dengan air dan sabun selama minimal 20 detik.
Jarak 1,5m hanya berlaku antara orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak tidak perlu
Jika di dalam masing-masing kelas ada 3 atau lebih murid sakit maka perlu dilaporkan kepada lembaga terkait, yang menangani kesehatan anak-anak di Belanda (GGD)
Kontak fisik, termasuk:
Tidak ada saling memberi tangan (salaman) antara guru ke murid, untuk antar orang dewasa, tidak ada sentuhan fisik
Batuk, bersin di dalam siku
Larangan untuk menyentuh wajah
Higienitas, seperti:
Sering mencuci tangan dengan sabun, setidaknya selama 20 detik, sebelum masuk kelas, sebelum dan setelah istirahat, setelah ke toilet
Gunakan tisu untuk membersihkan ingus, keringat, atau tangan
Kebersihan kelas dan lingkungan sekolah harus selalu terjaga, termasuk fasilitas dan peralatan pembelajaran
Jika ada pengampu sekolah (misal guru) terkena gejala corona, maka akan diumumkan melalui aplikasi, sehingga menambah kewaspadaan untuk semua
Diharapkan dengan sosialisasi dan penerapan protokol kesehatan ini, orang tua dan anak-anak terjaga dari kemungkinan tersebarnya virus COVID-19. Dengan ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini, maka kerja sama sekolah dan orang tua sangat diharapkan. Sehingga anak-anak mampu menerapkan kondisi new normal yang memang hal baru untuk mereka.
Dalam rangka mempersiapkan anak kembali ke sekolah, pihak sekolah telah mensosialisasikan beberapa hal melalui aplikasi. Terutama karena kondisi pandemi yang membuat situasi berbeda dengan sebelumnya. Salah satu informasi yang disampaikan adalah diagram keputusan di bawah ini. Ada beberapa kondisi yang membuat anak tidak boleh masuk sekolah. Diagaram ini berlaku untuk rentang usia 0 – 3 tahun dan 4 – 12 tahun.
Bagaimana cara memutuskan?
Pohon Keputusan – COVID 19
Jika anak sakit, maka lihat diagram dengan cara:
1 – Apakah anak yang sakit ini kurang dari 10 hari yang lalu berada di zona oranye atau merah? Jika ya, ke 2a, jika tidak ke 2b.
2a – Berapa umur anak? Untuk usia 0 – 3 tahun maka anak tersebut selama 10 hari di rumah saja (3a kotak merah). Untuk umur 4 – 12 tahun, ada dua pertimbangan (3a kotak oranye), yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan COVID-19 dan apakah di rumah si anak ada yang sakit corona atau demam atau sesak nafas. Jawaban ditentukan dengan melihat poin 4a.
4a – Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (4a kotak merah). Jika tidak, maka dilihat apakah anak ada gejala pilek/hidung tersumbat (4a kotak oranye).
5a – Jika jawaban ya (5a kotak biru), lanjutkan ke diagram keputusan dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (5a kotak hijau).
2b – Jika anak sakit tidak karena pernah berada di zona oranye atau merah, maka ada dua pertimbangan, yaitu apakah gejala sakit anak berhubungan dengan corona dan apakah di rumah si anak ada yang sakit atau ada gejala corona atau demam atau sesak nafas. Jika jawaban ya, maka anak tetap di rumah sampai si anak atau anggota keluarga yang ada gejala bebas dari gejala itu selama 24 jam (3b kotak merah). Jika jawaban tidak, maka perlu dipertimbangkan apakah anak tersebut sedang pilek/hidung tersumbat atau tidak (3b kotak oranye). Lanjutan ke poin 4b.
4b – Jika jawaban ya, ikuti alur diagram keputusan (5b kotak biru) dalam menyikapi anak dengan kondisi hidung tersumbat (karena pilek). Jika jawaban tidak, maka anak tersebut boleh masuk sekolah (4b kotak hijau).
6. Untuk orang tua (wali murid) dan anak-anak kelas atas dengan gejala, seperti demam, batuk, suhu badan naik, kehilangan indra perasa tiba-tiba, maka disarankan untuk melakukan tes.
7. Orang tua yang sedang masa karantina rumah 10 hari, tidak boleh antar jemput anak ke sekolah
Bolehkah anak dengan gejala hidung tersumbat ke sekolah?
Jika anak mengalami hidung tersumbat, biasanya gejala pilek, maka ada dua diagram untuk memutuskan. Pengambilan keputusan yang berbeda untuk rentang umur 0 – 6 tahun dan 7 – 12 tahun. Setelah melihat diagram tersebut, bisa diputuskan apakah anak boleh masuk sekolah atau tetap di rumah.
Usia – 6 tahun
Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan. Maksud dari hidung tersumbat, adalah gejala yang meliputi keluarnya ingus, apapun warnanya, apakah itu disertai bersin ataupun sakit tenggorokan maupun tidak.
Untuk anak umur 0 – 6 tahun
1 – Apakah anak mengalami gejala?
2 – Apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas?
3 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah suhu tubuhnya 38oC atau lebih?
4 – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?
5 – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?
6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.
Usia 7 – 12 tahun
Diagram berikut untuk anak dan orang tua (wali murid) anak yang bersangkutan dalam rentang usia anak 7 – 12 tahun.
1 – Apakah anak mengalami gejala?
2a – Jika ya, apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma? Lanjutkan ke 3a.
2b – Jika tidak, apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? Apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Lanjutakan ke 3b.
3a – Untuk anak yang tidak biasa dengan gejala tersebut (kotak merah), tetap di rumah. Untuk anak yang biasa memiliki gejala sakit tersebut (kotak biru), dipertimbankan: apakah anak selama 2 minggu terakhir pernah kontak dengan orang yang sakit corona? atau apakah ada yang serumah dengannya sedang demam atau sesak nafas? Jika ya (4a kotak merah), maka tetap di rumah, jika tidak (4a kotak hijau), boleh masuk sekolah.
3b – Jika jawaban dari 2b ya (kotak merah), maka tetap di rumah. Jika jawaban tidak (kotak biru), cek suhu badannya. Apakah 37.5oC – 37.9oC atau 38oC atau lebih?
4b – Jika ya (kotak merah), maka anak tetap di rumah. Jika tidak (kotak biru), teliti apakah ada satu atau lebih dari gejala: batuk, kehilangan indera perasa, sesak nafas?
5b – Jika tidak (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika ya (kotak biru), perhatikan apakah anak biasa mengalami gejala tersebut, misalnya karena alergi atau asma?
6 – Jika ya (kotak hijau), anak boleh masuk sekolah. Jika tidak (kotak merah), anak tetap di rumah.
Sampai kapan di rumah?
Selama apa anak tetap di rumah? Setelah 24 jam tidak terjadi gejala sakit lagi, seperti batuk, pilek, demam, sesak nafas, maka ulangi lagi penilaian dengan diagram. Hingga dinyatakan anak boleh masuk sekolah, yaitu hingga penilaian pada kotak hijau.
Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja
Penggalan dari HR. Muslim – Hadits Arbain ke 10
Ada kisah yang diceritakan oleh Rasulullah pada hadits tersebut, dan dapat kita ambil hikmahnya.
Ada seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh hingga rambutnya kusut dan kotor. Laki-laki ini kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit, dan berdoa menyebut Ya Rabb..Ya Rabb..beberapa kali.
Rasulullah mengatakan, sedangkan makanan, minuman, pakaiannya haram, dan perutnya kenyang dengan barang haram. Maka, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?
Dari hadits ini, dapat diambil pelajaran bahwa Allah hanya menerima sesuatu yang baik (tayyib) dari kita, agar doa kita dikabulkan. Sesuatu yang haram yang melekat pada kita, dan isi perut yang haram menjadi penghalang terkabulnya doa.
Masih berkaitan dengan hadits tadi, dalam Q.S. Al-Mu’minun: 51, Allah berfirman: Makanlah dari makanan yang baik dan kerjakan amal shalih. Senada dengan firman Allah di Q.S. Al-Baqarah: 172, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.
Dari hadits tersebut, dikatakan Allah hanya menerima yang baik saja dari hambaNya. Makna baik (tayyib) ini mencakup segala hal, yaitu makanan, minuman (isi perut), pakaian (harta benda), hingga keyakinan dan perbuatan (amalan). Tidak diterima amalan, kecuali amal itu baik.
Bagaimana agar amal kita diterima? Dengan cara menjaga kehalalan makanan dan minuman kita. Makanan dan minuman ini akan masuk ke dalam tubuh, membentuk sel-sel dalam tubuh, dan perbuatan akan tercermin dari hasil pembentukan ini.
Mengenai harta benda, Allah hanya menerima harta yang baik, yaitu bersih, sudah dizakati. Ucapan pun, hanya ucapan yang baiklah yang akan Allah terima, begitu juga amal shalih (Q.S. Al-Fatir ayat 10). Doa kepada Allah juga termasuk ucapan yang baik.
Maka, sebab (syarat) dikabulkan doa, antara lain:
Pertama, dalam perjalanan jauh.
Dari Rasulullah, doa yang mustajab (dikabulkan) adalah doa orang yang terdzolimi, doa musafir (orang yang dalam perjalanan jauh), dan doa orang tua kepada anaknya.
Kedua, menengadahkan kedua tangan ke langit dengan menyebut nama Allah berkali-kali dengan penuh harap. Benar-benar berharap kepada Allah bahwa Allah akan mengabulkan doa tersebut. Salah satu nama Allah yang baik adalah Al-Hayiyyu (Yang Maha Pemalu). Allah malu kepada hambaNya yang berdoa dengan mengangkat kedua tangannya kepadaNya, kemudian Dia menolaknya.
Ketiga, menjaga kehalalan apa yang melekat dan masuk ke dalam badan. Termasuk di dalamnya menjaga kebersihan harta yang diperoleh, kebaikan dalam keyakinan, ucapan, dan melakukan amal shalih (amal baik).
Panaskan krim keju di api kecil, hingga keju meleleh.
Masukkan susu, aduk rata.
Tambahkan gula pasir, aduk hingga semua gula pasir larut, matikan api.
Masukkan kuning telur satu persatu ke dalam adonan, aduk hingga tercampur.
Masukkan tepung roti, aduk, kemudian masukkan tepung maizena, aduk hingga tercampur merata. Sisihkan adonan pertama ini.
Adonan 2:
Kocok putih telur hingga mengembang.
Masukkan gula sedikit demi sedikit, kocok, hingga adonan kaku.
Masukkan adonan 1 ke dalam adonan 2, campurkan.
Siapkan loyang. Lapisi dengan kertas roti atau mentega (agar cheese cake nantinya tidak lengket di loyang). Masukkan adonan ke dalamnya.
Panaskan oven pada suhu 130oC.
Siapkan nampan anti panas untuk diisi dengan air. Letakkan loyang yang telah berisi adonan ke dalam nampan ini. Masukkan ke dalam oven, panggang selama 1,5 jam.
Cara memasak cheese cake ini dapat disimak di youtube catatankaki. Selamat menikmati 🙂
Sejak Covid-19 melanda Belanda, aktivitas fisik terbatasi, lebih banyak tinggal di rumah. Sejak Maret, pemerintah menutup tempat-tempat publik, seperti sekolah, kantor, restoran, taman, dll, untuk memangkas penyebaran virus ini. Setelah kondisi terkendali, 2 bulan kemudian, fasilitas umum mulai dibuka secara terbatas. Contohnya, sekolah masuk secara bergantian, dimulai dari TK, SD, hingga bertahap ke SMP dan SMA, sampai dapat dibuka sepenuhnya. Kalau toko-toko bahan makanan, sejak awal memang tetap dibuka, hanya dibatasi pengunjungnya, juga aturan jarak 1,5m.
Aturan penjarakan 1,5 di tempat umum
Alhamdulillah, sejak akhir bulan Mei pemerintah Belanda sudah membuka batasannya, melihat aktivitas penyebaran virus ini dapat terkendali. Masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih leluasa di luar rumah, selama memenuhi protokol kesehatan. Tempat-tempat publik mulai dibuka seperti biasa, tentu saja dengan penjarakan 1,5m, dan di tempat-tempat tertentu pemakaian masker diharuskan.
Pemberlakuan protokol kesehatan di Belanda
Lalu apa yang berubah sejak adanya pandemi Covid-19?
Rasa aman dan nyaman saat keluar rumah. Sekarang ini, berada di kerumunan orang, seringkali merasa tidak aman. Kita tidak tahu seberapa sehat orang-orang ini. Walaupun Belanda terkenal dengan kedisiplinan dan tegaknya peraturan, tetap saja ada satu dua orang yang tidak disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.
Batuk dan bersin? Siap-siap jadi perhatian orang. Virus ini menyebar lewat droplet, sehingga di awal virus ini muncul, disarankan orang bersin dan batuk di sikunya atau dengan bermasker. Jika dulu mendengar orang bersin atau batuk, hal biasa. Saat ini, orang di sekitar akan melihat dan was-was jika sampai ada orang yang batuk atau bersin, karena khawatir orang ini sakit terkena virus.
Padahal, di Belanda, covid ini mulai muncul di awal musim semi, dan sekarang ini sedang musim panas. Hal biasa, jika ada orang alergi polen (serbuk sari bunga), di musim-musim ini, maka orang ini akan bersin. Tentu saja menahan bersin tidak nyaman, sehingga mau tidak mau harus dikeluarkan, lalu orang-orang akan memandanginya. Apalagi, jika orang ini tidak bermasker.
Bermasker atau memakai face shield. Pada dasarnya, masker itu untuk orang sakit agar tidak menulari orang sehat. Sejak pandemi, orang sehat pun bermasker agar tidak terkena virus yang bisa masuk lewat saluran pernapasan. Face shield juga menjadi barang yang umum dipakai orang saat ini.
Meskipun begitu, aturan bermasker di Belanda, memang tidak untuk semua orang dan tidak di semua tempat. Di transportasi umum, para pengguna memang wajib bermasker, tetapi selain itu tidak. Di tempat umum, masker juga tidak wajib dipakai. Di tempat orang berkerumun, disarankan memakai masker, tetapi kalaupun tidak juga tidak apa-apa, kecuali memang diwajibkan di tempat tersebut.
Perhatian pada kebersihan. Ada beberapa barang yang perlu ada untuk menghadapi virus ini. Masker, tisu, hand sanitizer, desinfektan, sabun dan air yang sangat berkaitan dengan kebersihan. Orang akan segera mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer untuk membersihkannya. Diketahui, virus akan mati dengan sabun, maka disarankan sering mencuci tangan memakai sabun dan air.
Jika sebelum pandemi, mungkin kepedulian untuk cuci tangan bisa dibilang rendah. Orang tidak keberatan langsung makan tanpa cuci tangan. Namun, sejak pandemi, bukan karena makan pun orang akan otomatis mencuci tangannya. Misal, setelah bepergian, atau setelah menyentuh barang tertentu. Bahkan, orang akan waspada jika ingin menyentuh sesuatu atau ketika bersentuhan dengan orang.
Berjabat tangan. Salaman adalah hal yang lumrah, begitu juga cium pipi kanan kiri saat bertemu. Pandemi ini membuat orang-orang tidak bisa bersentuhan dengan nyaman. Budaya salaman di Indonesia, menjadi asing. Menelungkupkan tangan di dada atau menempelkan siku lebih dipilih, untuk menghindari tersebarnya virus ini.
Jarak yang memisahkan. Jarak teraman saat bertemu orang lain sekitar 1,5m. Jika dulu sedang berkumpul atau berada di keramaian biasa saja jika harus berdekatan. Sekarang perlu menjaga jarak 1,5m dengan orang atau keluarga lain jika bertemu. Antrian di tempat-tempat umum pun dibuat berjarak 1,5m. Ketika di kendaraan, jika bukan orang yang tinggal satu rumah (bukan keluarga), termasuk di mobil, tetap jarak ini berlaku.
Simbol hati menunjukkan posisi antrian berjarak 1,5m di taman wisata Madurodam
Kenaikan berat badan. Meskipun tidak semua mengalami, bisa jadi malah turun atau tidak berubah. Orang-orang yang banyak pikiran karena pandemi ini, atau sedang sakit, bisa jadi berat badannya justru turun. Kenaikan berat badan ini disebabkan lebih banyak di rumah, sehingga jarang melakukan aktivitas fisik dan terlalu banyak suplai makanan.
Untuk aku pribadi, sebelum pandemi, ketika ada keperluan keluar rumah, sering kali jalan kaki, bersepeda, atau naik kendaraan umum. Setelah adanya pandemi, lebih banyak bermobil. Hal ini menyebabkan aktivitas fisik berkurang. Jalan kaki dan bersepeda walaupun untuk tujuan lain, tapi bisa juga menjadi sarana olahraga buatku. Olahraga di rumah juga tidak semudah itu, apalagi waktuku banyak terpakai untuk menemani anak sekolah di rumah.
Selain itu, dikarenakan semua anggota keluarga lebih banyak di rumah, apalagi ada anak kecil, maka makanan menjadi salah satu andalan untuk mengurangi rasa bosan. Apalagi dengan adanya work from home dan school from home, menjadi salah satu semangat untuk mencoba resep-resep baru yang bisa disajikan untuk anak dan suami.
Dua hal ini, jarang beraktivitas fisik dan makan-makan menjadikan berat badanku melonjak banyak.
Kebersamaan keluarga. Ini adalah momen berharga yang aku syukuri saat pandemi ini. Menurutku, kualitas hubungan keluarga terbangun dengan banyaknya waktu bersama. Sejak pandemi, suami kerja di rumah, anak sekolah di rumah, sehingga waktu kami untuk bersama lebih banyak. Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi.
Di awal memang banyak penyesuaian yang terjadi, bahkan menimbulkan keributan dan perselisihan. Aku juga merasa sesi me time-ku kurang sekali, dibandingkan saat anak sedang sekolah. Terlalu banyak waktu dengan suami ternyata juga menimbulkan ‘kebosanan’ tersendiri. Begitu juga suami ada juga masalah yang terjadi sejak kerja di rumah yang berimbas pada hubungan kami. Seiring dengan berjalannya waktu, alhamdulillah masalah-masalah ini dapat diatasi. Sehingga, masalah berganti dengan rasa syukur. Justru, karena ada pandemi ini, kami lebih punya banyak waktu kebersamaan.
Kalau membaca berita, hal semacam ini ternyata banyak terjadi. Keributan antar suami-istri, bahkan anak, kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi justru karena terlalu sering berinteraksi. Banyak konflik dalam rumah tangga yang terjadi karena orang tidak bisa mencari penyegaran di luar rumah. Kadang, ketika ada masalah, antar yang bermasalah ini memang perlu menjauh dahulu, agar tidak memuncak. Namun, di masa pandemi, tidak ada pilihan lain, antar pasangan ataupun anak yang bermasalah akan selalu bertemu. Inilah penyebab konflik dalam rumah tangga meningkat selama pandemi.
Alhamdulillah, anak kami tidak terlalu bermasalah. Umurnya masih 5 tahun, yang penting ada bapak ibu bersamanya. Bahkan, anak kami lebih senang sekolah di rumah, terasa lebih menyenangkan dan tidak melelahkan, daripada ketika di sekolah. Salah satu yang membuatnya tidak terlalu suka sekolah, karena harus berpisah dengan ibunya. Kalau sekolah di rumah, selalu bersama ibunya. Ungkapan ini tentu saja membuat aku bersyukur sekali.
Nah, itulah hal-hal yang kurasakan berubah sejak adanya pandemi Covid-19. Ada yang menyenangkan, ada pula yang tidak. Semoga kondisi segera pulih, di belahan dunia manapun.
Libur musim dingin Desember lalu, aku bersama suami dan anak, melakukan perjalanan ke Belgia dan Perancis. Dua negara ini letaknya cukup dekat dengan Belanda, tempat tinggalku saat ini. Dengan bermobil, Belgia dapat ditempuh dalam waktu 1 – 2 jam perjalanan, dan ke Perancis 5 – 7 jam, tergantung kota mana yang ingin dituju.
Moda transportasi mobil lebih kami pilih, selain untuk menghemat pengeluaran, juga agar lebih nyaman untuk jalan-jalan. Ada tempat-tempat wisata yang lebih fleksibel untuk dikunjungi dengan mobil.
Suasana perjalanan dari Belanda menuju Belgia – banyak kincir angin di tepi jalan raya
Kami berangkat tanggal 26 Desember 2019 dari Belanda dan kembali lagi 28 Desember 2019. Bepergian dengan anak usia 5 tahun, kami memilih destinasi wisata yang juga menarik untuk si anak. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Kereta (Train World) di Schaarbeek. Anak kami, senang sekali di sini, apalagi kereta adalah salah satu mainan favoritnya. Di museum ini, terdapat koleksi kereta-kereta Belgia, mulai dari kereta lama (kereta tenaga uap) hingga yang terbaru, bahkan simulasi 3D kereta modern pun ada.
Salah satu koleksi di Train World: Pays de Waes (locomotive) – kereta tenaga uap tertua di Eropa
Setelah dari museum, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel. Untuk menghemat anggaran menginap, kami memilih (low)budget hotel. Kami memilih hotel di kawasan Paris, agar lebih dekat dengan destinasi wisata kedua.
Hari kedua, kami mengunjungi kota Paris dan Versailles. Waktu lebih banyak kami alokasikan untuk berada di Versailles, mengunjungi istana dan kawasan sekitar yang masih berhubungan dengan istana. Kesan mewah terasa sekali saat memasuki bagian dalam istana, sambil teringat materi sejarah tentang Revolusi Perancis dan Louis XIV.
Kawasan Istana Versailles
Ini kali pertamaku berkunjung ke istana Versailles, tetapi rasanya tidak ingin mengulang lagi berkunjung ke sana. Aku tidak merasa nyaman di dalamnya. Terlalu banyak pengunjung, di tambah banyaknya ruangan atau bagian istana yang bisa dilihat, sehingga banyak detail yang tidak teramati. Bahkan, sebelum memasuki istana, antrian mengular, saking banyaknya pengunjung. Terkenal sebagai istana megah (pada zaman itu), banyak sekali bagian istana yang ingin dilihat, sehingga untuk mempersingkat waktu, banyak hal yang tidak teramati. Bahkan, ada area yang terlewat atau memang sengaja dilewati, tidak terlalu diperhatikan.
Bagian depan istana Versailles
Kami juga mengunjungi kawasan lain yang masih berhubungan dengan Versailles, yaitu Grand Trianon. Walaupun tidak dalam satu kawasan dengan bagian istana, namun cukup dekat. Dari istana, tersedia kendaraan (shuttle) dengan waktu tempuh kurang lebih 10 menit. Grand Trianon adalah istana yang dibangun Louis IV di desa Trianon agar memiliki tempat yang lebih tenang, jauh dari keramaian dan formalitas istana. Di sekitar Grand Trianon, juga ada beberapa paviliun, taman, ataupun monumen yang masih berhubungan dengan sejarah kerajaan Perancis. Saking luasnya kawasan ini, tidak semua bagian sempat kami kunjungi.
Taman di kawasan istana Versailles
Setelah hari kedua kami fokuskan di Versailles, perjalanan berlanjut, di hari ketiga, kami kembali lagi ke Belgia, sebelum pulang ke Belanda. Kami mengunjungi Maasmechelen. Tidak banyak yang bisa dilihat di kotanya, tetapi ada satu tempat yang memang ingin kami kunjungi, yaitu Maasmechelen Village. Tempat ini adalah pusat perbelanjaan, yang menjual barang dengan harga outlet, sehingga harganya lebih rendah. Apalagi, saat itu bertepatan dengan diskon akhir tahun.
Inilah jalan-jalan singkat kami saat liburan musim dingin di Belanda, akhir tahun lalu. Tulisan ini dibuat sebagai kenangan karena belum bisa melakukan hal yang sama untuk liburan tahun ini. Saat ini masuk liburan musim panas di Belanda, tetapi rasanya belum aman jika melakukan perjalanan ke luar Belanda, mengingat masih masa pandemi. Wabah Covid-19 di Belanda memang sudah terkontrol dan perbatasan ke luar Belanda (lingkup Eropa) pun sudah dibuka. Banyak objek wisata telah dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan. Namun, masih tetap lebih aman jika membatasi aktivitas di luar rumah.