Waffel Liege: Kisah Asal Mula dan Kelezatannya

Waffel adalah salah satu jajanan yang mudah ditemukan jika kita ke Belanda atau Belgia. Berbeda dengan waffle Belanda yang lebih lembut, waffel Belgia lebih renyah di luar dan lembut di dalam. Waffel dari kota Liege, Belgia (waffel Liege) adalah salah satu dari dua jenis waffel Belgia yang terkenal. Selain waffel Liege, ada jenis waffel lain di Belgia, yaitu waffel Brussel.

Kali ini, saya ingin menuliskan tentang waffel Liege yang menurut saya, lebih enak daripada waffel Brussel dan waffel Belanda. Rasa dan aromanya juga khas dan di balik kelezatannya, ada kisah yang konon terjadi di abad pertengahan tentang asal mula waffel ini.

Penampakan Waffel Liege

Kisah pembuatan waffel ini pertama kali berawal ketika seorang Raja Liege membuat permintaan khusus kepada kokinya untuk membuat makanan (kue) special. Saat itu baru saja masuk bahan kue baru ke Liege, yaitu gula mutiara (pearl sugar). Gula jenis ini hanya bisa didapatkan di Belgia, berbeda dengan jenis gula lain yang umum ditemukan di mana saja. Sang koki pun membuat roti dengan memasukkan gula mutiara (dan vanilla) ke dalam adonan yang kemudian dipanaskan di cetakan besi. Rasa khas dari gula ini bersentuhan dengan cetakan besi panas menimbulkan aroma harum dan rasa manis yang renyah hasil karamelisasi gula yang menjadi ciri khas waffel Liege. Sang raja pun menyukainya sehingga kemudian resep waffel ini disebarkan ke seluruh Belgia dan secara turun temurun diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, hingga sekarang.

Tentang gula mutiara, perbedaannya dengan jenis gula lain adalah pada rasa, tekstur, dan ukuran. Secara ukuran, gula ini lebih besar dari pada gula lain dan secara tekstur lebih renyah dan keras, rasa manisnya pun berbeda dengan gula yang lain.

Gula Mutiara (Pearl Sugar)
gambar dari internet

Jenis gula ini lebih mudah ditemukan di Belgia daripada negara-negara lain di Eropa, kecuali jika membeli online tentu bisa saja didapatkan di negara selain Belgia.

Di Belgia sendiri, khususnya di Liege, waffel Liege ini lebih terkenal dengan sebutan Gaufre de Liege. Kata gaufre ini berasal dari bahasa Perancis yang bermakna sarang lebah, melihat bentuknya yang seperti sarang lebah.

Untuk memakan waffel Liege, tidak perlu taburan gula halus atau topping macam-macam karena memang ciri khas dari waffel Liege ini adalah rasa karamel dari gula mutiaranya. Jika zaman dahulu, waffel Liege ini termasuk makanan ningrat karena hanya bisa dimakan oleh kaum bangsawan, sekarang makanan ini adalah makanan rakyat biasa dan bisa ditemukan sebagai jajanan pinggir jalan ketika kita ke Liege atau ke daerah Belgia yang lain.

Jika Anda ke Liege, ada tempat terkenal, dan salah satu review terbaik untuk mendapatkan waffel Liege, yaitu toko Une Gaufrette Saperlipopette yang terdapat di beberapa lokasi, salah satunya di jalan Rue des Mineurs. Ada dua jenis waffel Liege di toko ini, yaitu waffel Liege vanilla (resep asli), dan waffel Liege kayu manis. Jika Anda ingin mencoba rasa asli waffel Liege, maka rasa vanilla yang lebih pantas untuk dicoba, namun yang kayu manis pun tidak mengecewakan. Secara rasa, semuanya enak dan saya lebih suka yang kayu manis.

Onde-onde

      Onde-onde speciaaaal

Salah satu makanan berbahan dasar tepung ketan yang sangat aku suka. Ketika pertama kali coba buat sendiri, rasanya kaku sekali, selalu melihat ke resep, khawatir hasilnya tidak sesuai yang diinginkan. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya sampai bisa improvisasi sendiri dengan bahan yang ada di dapur, yang penting bahan bakunya tepung ketan.

Pada percobaan pertama tepung ketan dicampur dengan ubi oranye, rasanya agak lembek karena ubinya terlalu matang saat dikukus. Percobaan kedua, karena tidak ada ubi, akhirnya coba dicampur dengan kentang. Menurutku, tekstur onde-ondenya lebih bagus jika dicampur dengan kentang. Percobaan ketiga tepung ketan saja, tanpa tambahan apapun. Untuk yang ketiga ini, setelah matang, teksturnya tidak jauh beda dengan yang kedua. Hanya saja, setelah dingin, rasanya lebih ‘crunchy’, dan kalau dipanaskan dulu pakai microwave agar hangat kembali, teksturnya jadi lembek. Jadi, aku lebih suka onde-onde yang tepung ketannya dicampur dengan kentang.

Bahan Kulit:

  • 400gr tepung ketan putih
  • 100gr kentang, kukus lalu haluskan
  • 150gr gula halus (jika tidak ada, gula pasir juga bisa digunakan)
  • sedikit garam
  • 300-400ml air hangat

Bahan Isian:

Isian onde-onde bisa menggunakan keju, cokelat, ubi, kacang hijau. Jika keju, lebih mudah menggunakan keju blok yang ukurannya disesuaikan dengan kulitnya. Jika menggunakan cokelat, bisa menggunakan cokelat batangan yang dipotong disesuaikan seberapa besar isian untuk onde-onde.

Cara menyiapkan isian ubi:

Kukus ubi dan haluskan, kemudian tambahkan gula halus jika ingin isian lebih manis, lalu bentuk isian bulat-bulat. Bisa juga ubi yang telah ditumbuk halus dimasak dahulu dengan santan, tambahkan vanili dan gula jika ingin lebih manis, masak hingga adonan kalis dan siap dibentuk. Namun cara dengan memasak ini perlu kehati-hatian tentang takaran santannya, agar adonan ubi tidak terlalu lembek sehingga mengakibatkan sulit dibulatkan. Saat pengukusan ubi dan pemasakan, tambahkan daun pandan untuk aroma yang lebih wangi. Bentuk adonan ubi bulat sebesar isian onde-onde yang diinginkan.

Cara menyiapkan isian kacang hijau:

Bahan: 200gr kacang hijau kupas, 100-150 gula halus/gula pasir, 1 bungkus vanili, sedikit garam,

+-150ml santan kental, daun pandan.

Cara memasak: cuci kacang hijau kupas, kukus hingga empuk agar mudah ketika dihaluskan,

kemudian masak bersama dengan bahan-bahan lain hingga kalis, setelah kalis,

dinginkan dan bulat sesuai besarnya isian onde-onde yang diinginkan

Bahan Tambahan:

  • Wijen
  • Minyak untuk menggoreng

Langkah Pembuatan:

  • Campurkan semua bahan dalam sebuah wadah: tepung, kentang, gula, dan garam.
  • Tambahkan air hangat sedikit demi sedikit hingga adonan menjadi kalis dan siap untuk dibentuk.
  • Siapkan sebuah wadah berisi air, lalu taburkan sedikit tepung ketan di dalamnya.
  • Ambil adonan sebanyak yang diinginkan, isi dengan isian, bulatkan adonan, rendam ke dalam air, lalu gulingkan di atas wijen sambil sedikit ditekan.
  • Goreng bulatan onde-onde dalam wajan yang telah diisi minyak, nyalakan api kecil. Tunggu hingga onde-onde mengapung dan aduk-aduk agar matang merata dan tidak gosong. Pastikan untuk tidak terlalu banyak menggoreng bola onde-onde dalam wajan, karena mereka akan sedikit membesar saat penggorengan.
  • Setelah matang, onde-onde siap dinikmati!

Resep Klepon

Klepon Matcha

Masak klepon kali ini karena kangen dengan jajanan tradisional yang biasanya selalu aku beli setiap mudik ke Indonesia. Sudah 2,5 tahun, aku tidak mudik, jadilah cari-cari resep masakan untuk mengobati rasa kangen terhadap makanan-makanan tertentu, salah satunya klepon ini.

Bahan dasar klepon adalah tepung ketan dengan isi gula merah di dalamnya, menimbulkan rasa manis di setiap gigitannya. Proses pembuatannya sangat sederhana dan cepat, tergantung berapa banyak tepung ketan yang digunakan.

Bahan:

  • 250gr tepung ketan
  • sedikit garam
  • 1 sdm gula pasir/gula halus (tidak ditambahkan gula pun tidak apa-apa)
  • +- 200 ml air hangat
  • pewarna hijau (bisa menggunakan pewarna makanan, air pandan, air daun suji, ataupun bubuk matcha)
  • gula jawa/gula aren untuk isian
  • parutan kelapa untuk taburan
  • pandan
  • air untuk merebus

Cara Pembuatan:

  • Campurkan bahan-bahan: tepung ketan, garam, gula.
  • Masukkan air hangat, hingga adonan siap dibentuk bulat, kemudian tambahkan pewarna hijau, aduk hingga warna hijau merata.
  • Jika menggunakan pewarna makanan, bisa dicampurkan setalah adonan siap, jika menggunakan air pandan atau air daun suji, maka air hangat bisa diganti dengan air pandan atau air daun suji. Cara mendapat warna hijau dari daun pandan/daun suji: rebus daun pandan/daun suji hingga warna hijau keluar, bisa juga blender daun pandan suji/daun suji dengan ditambahkan air hangat sebagai campuran pada tepung.
  • Untuk resep ini, aku menggunakan bubuk matcha, sehingga dari awal sudah aku campurkan pada tepung ketan, baru setelahnya dicampur dengan air hangat bersama dengan bahan-bahan lain. Jumlah takaran bubuk matcha aku kira-kira, sampai adonan berwarna hijau.
  • Sambil menguleni adonan agar siap dibentuk, panaskan air dan masukkan daun pandan di dalamnya, untuk merebus adonan yang sudah dibentuk.
  • Bulatkan adonan, isi dengan gula jawa/gula aren, rebus hingga klepon mengapung.
  • Tiriskan dan masukkan ke dalam parutan kelapa yang sebelumnya telah dicampur dengan sedikit garam. Aku menggunakan parutan kelapa dalam kemasan, agar parutan kelapa lembab, sebelum aku gunakan untuk taburan, parutan kelapa aku kukus terlebih dahulu.
  • Setelah adonan klepon mengapung di panci rebus, jangan dibiarkan terlalu lama, sebaiknya dalam waktu singkat segera digulingkan ke dalam parutan kelapa.
  • Klepon siap dinikmati

Welcome 2022

Post ini sudah ingin kutulis dari sejak akhir Desember 2021, lalu kuterbitkan di sini waktu tahun baru. Akhirnya baru sempat kutulis dan post hari ini. Sejak kelahiran bayiku pertengahan tahun lalu, waktuku banyak terpakai untuk mengurus waktu tidur bayi yang sampai sekarang usianya hampir 9 bulan masih naik turun ritme tidurnya. Sehingga, malam hari saat bayiku sudah tidur, waktu yang kuniatkan untuk ‘me time’ menulis, gagal total karena otakku sudah tidak bisa diajak kerja sama lagi dan pada akhirnya tidur awal lebih baik daripada menulis, biar segar saat harus begadang. Menulis ini pun sekarang dalam kondisi mengantuk, tapi aku ingin memulai lagi menulis, paling tidak sekali dalam sebulan. Menulis cukup membantuku untuk melegakan perasaan dan pikiran :).

Goodbye 2021

2021 adalah tahun yang banyak kusyukuri. Pandemi memang masih terjadi, walaupun lockdown sempat dilonggarkan, tetapi karena kasusnya meningkat, lockdown diperketat lagi. Rencana liburan yang sudah dibuat akhir tahun lalu, akhirnya dibatalkan demi keamanan. Namun, justru dengan lockdown, waktu berkumpul keluarga lebih banyak. Alhamdulillah juga, kami masih diberi kesehatan, dan semoga dengan ikhtiar melakukan vaksin, lebih terlindungi dari virus varian apapun.
Saat teman-teman sekolah anak pertamaku banyak yang terkena corona, pembelajaran kembali online, alhamdulillah anakku sampai sekarang sehat. Sejak teman sekelasnya ada yang positif corona, anakku melakukan self test antigen, hasil test negatif, dan kemarin baru saja mendapatkan suntikan pertama vaksin untuk anak.

Untuk orang dewasa, vaksin yang didapat sudah 3 kali, yaitu 2 kali vaksin plus booster. Untuk anak-anak, undangan baru dikirim mulai bulan Januari untuk vaksin pertama, diikuti vaksin kedua 8 pekan kemudian. Vaksin ini memang tidak wajib di Belanda, hanya saja, untuk akses ke tempat-tempat publik lebih mudah untuk yang sudah melakukan vaksin. Banyak tempat publik yang mewajibkan akses scan bukti vaksin jika ingin memasuki fasilitasnya, seperti restauran, kolam renang, bioskop, dan sejenisnya.


Hal kedua yang aku syukuri adalah kelahiran anak kedua yang telah kunantikan sejak 3-4 tahun lalu. Proses kehamilan kali ini memang lebih banyak butuh perhatian, terjadi saat pandemi dengan rasa was-was tentang kesehatan keluarga plus kehamilan. Mual dan muntah yang lebih parah dari kehamilan anak pertama, beberapa parameter kesehatan di akhir kehamilan yang butuh perhatian, terlebih lagi jauh dari keluarga. Namun, alhamdulillah kelahiran bayi ini lebih mudah daripada kelahiran anak pertama. Anak keduaku lahir di usia kehamilan 38 pekan, dengan proses sakit bukaan yang masih bisa kutahan hingga bukaan 7, setelah itu sakit luar biasa, tetapi lebih mudah saat melahirkannya.

Tidak seperti kelahiran anak pertama yang proses recoverynya hingga 3 bulan, bahkan secara mental hingga 6 bulan, untuk anak kedua ini, aku merasa sudah pulih sejak hari kedua melahirakan. Di Belanda, jika pemeriksaan setelah melahirkan, dinyatakan ibu dan anak sehat, maka langsung dipulangkan. Aku sudah pulang hari kedua setelah melahirkan, di saat umur anakku 2 hari. Kondisi fisik dan mental sangat baik, sehingga sampai rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga dalam kondisi tidak seperti orang yang baru melahirkan. Di sini tidak ada yang membantu, sehingga pekerjaan rumah tangga kami kerjakan sendiri. Baru terasa badanku butuh istirahat banyak, ketika sudah terasa capek berlebihan, dan di saat itu baru ‘ingat’ bahwa baru 2 hari lalu melahirkan.

Usia awal 1 hingga 2 bulan, sangat mudah mengurusi anak keduaku ini, rasanya aku tidak pernah begadang, karena jam bangunnya di saat aku sudah segar setelah tidur cukup semalaman. Hingga refluks menyerang di usia 2 bulan, sejak saat itu kalau tidak digendong sulit tidur, dan setelah ditidurkan di kasur akan bangun lagi. Sekarang memang sudah bisa tidur di kasur, tanpa harus digendong-gendong, tetapi ritme tidurnya belum selalu bagus, kadang cukup tidur, kadang kurang, dan yang jelas masih harus begadang. Walaupun begitu, bayi ini sangat jarang rewel, lebih sering tersenyum, dan kami bertiga, termasuk anak pertamaku, merasa sangat terhibur dengan bayi lucu ini.

Ada banyak hal yang aku syukuri sebenarnya tentang berkah di tahun 2021, kali ini kutuliskan 2 hal terbesar ini saja, apalagi bayiku sudah mulai bangun tidur 🙂

Welcome 2022

Kapan-kapan akan kulanjutkan lagi tentang apa yang kuharapkan di tahun 2022. Salah satunya, semoga bisa konsisten menulis dan post di sini lagi.

Akhirnya yang ditunggu datang juga :)

Lagi-lagi sudah lama aku tidak menulis di blog ini. Selain karena menjelang lahiran yang tinggal menghitung hari, juga karena bulan puasa. Jadi, waktuku banyak kupakai untuk persiapan kelahiran anak keduaku ini juga ada beberapa agenda Ramadan yang kulakukan.

Di Belanda, puasa ramadan tahun ini sekitar 17-18 jam dengan waktu sahur yang semakin pagi dan waktu berbuka yang semakin malam, karena saat ini peralihan musim semi ke musim panas, di mana waktu siang lebih banyak dari malam. Kondisi bulan ramadan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, di masa pandemi, masih belum bisa iftar (buka puasa) bersama, sholat tarawih pun masih di rumah, walaupun lockdown di belanda sekarang ini mulai dilonggarkan. Bisa jadi, saat lebaran nanti pun masih harus sholat ied di rumah.

Biasanya, aku menulis blog di pagi atau malam hari, tetapi sejak bulan ramadan, pagi hari ada agenda ramadan online bersama komunitas ibu-ibu Indonesia di sini. Pada malam hari, kondisiku sudah tidak memungkinkan, selain mulai sakit (kontraksi palsu) menjelang lahiran, juga sudah terlalu lelah juga, sehingga tidak bisa menulis lagi.

Namun, hari ini ada yang membuatku bersemangat untuk kembali membuka blog ini dan menuliskan apa yang terjadi hari ini. Sebelum aku melanjutkan tulisanku, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia mengikuti tulisanku di blog ini, aku mendapati ada beberapa followers baru di saat aku sedang tidak aktif menulis. Semoga tulisan-tulisanku di sini bermanfaat untuk semua, walaupun pada awalnya aku membuat blog ini, tujuan utamanya untuk diriku sendiri, ternyata ada juga yang tertarik untuk mengikuti blogku ini.

Nah, apa sih yang bikin aku semangat lagi untuk menulis hari ini?

Jadi, aku pernah menulis tentang pengalamanku re-ekspor barang yang kukirim ke Jogjakarta. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini. Dikarenakan barang elektronik dengan kondisi tidak mungkin masuk ke Jogja, akhirnya barang ini dikembalikan ke Belanda melalui cara re-ekspor. Dari track yang kudapati di website ems, paketku ini mulai keluar Indonesia, tepatnya dari Tanjung Priok, untuk diberangkatkan dengan kapal ke Belanda, pada tanggal 13 November 2020. Beberapa waktu setelah barang keluar Tanjung Priok, seingatku lebih dari 1 bulan, karena tidak ada update lagi di website EMS (bahkan hingga hari ini), maka aku memutuskan untuk mengirim chat yang tersedia di website Pos Indonesia. Dari hasil chat itu, setelah obrolan yang menurutku berbelit-belit, aku mendapat info bahwa karena pengiriman melalui jalur laut (kapal), maka pos Indonesia tidak bisa memberikan update sudah sampai mana paketku itu berada, tetapi normalnya pengiriman selama kurang lebih 3 bulan, batas maksimal 3 bulan.

Setelah 3 bulan berlalu, harusnya bulan Februari paketku sampai, tetapi tidak ada kabar juga mengenai paketku itu. Di website EMS tidak ada update, pos Indonesia pun tidak bisa memberikan kepastian kapan barang re-ekspor milikku ini sampai Belanda. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengikhlaskan saja, jika memang masih jadi rezekiku, insya Allah paketku ini sampai juga. Aku bahkan sebenarnya sudah hampir melupakan barang-barang ini, karena kalau ditunggu-tunggu dan dipikirkan, ada perasaan sayang juga kalau barang ini hilang. Ada laptop dan hp yang masih bagus dan bisa dipakai. Tadinya aku kirimkan untuk adikku di Jogja, karena sudah tidak kupakai di sini. Walaupun ketika kembali ke alamatku pun bisa jadi sudah tidak kupakai lagi, tapi kalau sampai hilang, ada perasaan kecewa juga. Dengan mengikhlaskan dan melupakan, perasaan kecewa itu berangsur hilang. Kalau masih rezeki, insya Allah akan sampai juga.

Hari ini, setelah kurang lebih 6 bulan, akhirnya paket ini datang juga 🙂

Dengan penampakan packing yang aku sendiri sudah lupa, apakah aku dulu packing barang seperti ini. Bahkan, saat paket ini datang, aku malah kaget karena hari ini tidak sedang menunggu kiriman apapun. Setelah menempuh perjalanan berbulan-bulan, kardusnya sampai penyok dan kotor 🙂

Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga

Tentu saja aku perlu mengecek apakah isi paket betul-betul barang yang kukirim atau bukan 🙂

Alhamdulillah isinya masih tetap sama, walaupun belum kucek apakah kondisinya masih sama seperti saat dulu kukirim ke Jogja.

Isi paket masih utuh

Dari jumlah barang dan packingan bubble wrap, terlihat sama dengan saat aku mengirimkan barang ini dulu dari Belanda. Lega juga barang ini kembali ke alamatku. Terima kasih pos Indonesia dan bea cukai yang telah mengirimkan kembali barang-barang ini ke alamatku. Semoga setelah bubble wrap dibuka & dicek, kondisi di dalamnya masih seperti semula.

Pengalaman SFH (3): Kesan SFH dan Hadiah untuk Anak

Sekolah di rumah (School from home, SFH) bisa dibilang gampang-gampang susah, tergantung kondisi masing-masing. Dari pengalaman kebanyakan, SFH bukan hal yang mudah, baik itu untuk sekolah, guru, anak, maupun orang tua. Namun, kondisi ini saat ini tidak bisa dihindari. Di Indonesia, SFH sudah berjalan kurang lebih 1 tahun, banyak cerita suka duka yang kudapat dari keluarga, teman, ataupun media. Di Belanda, cukup terkendali, dengan penerapan aturan lockdown yang sangat ketat, juga aturan-aturan yang sangat jelas terkait dengan penanganan dan antisipasi virus corona ini.

Sudah 1 tahun pandemi virus corona terjadi, anak-anak sekolah dasar baru 2 kali menjalani sekolah di rumah. Lama sekolah di rumah pun hanya sekitar 1 bulan. Untuk beberapa orang tua, terutama yang tidak selalu bisa membersamai anak, juga yang memiliki anak lebih dari 1 dengan level kelas yang berbeda-beda, tentu mengalami kesulitan lebih. Fasilitas sekolah di rumah bukanlah masalah besar, karena internet di sini yang memadai, juga adanya bantuan fasilitas dari pemerintah maupun sekolah, misal pinjaman laptop jika orang tua tidak memiliki gadget cukup untuk sekolah di rumah.

Kesulitan terbesar, umumnya adalah komunikasi antara rumah dengan sekolah, terutama guru, misal tidak sampainya informasi yang jelas dari sekolah kepada orang tua, bisa jadi karena orang tua yang tidak terlalu paham untuk mengakses saluran informasi ke sekolah atau guru yang terlambat menyampaikan informasi ataupun ketidakjelasan dari guru dalam menyampaikan informasi. Kesulitan lain, jika orang tua memiliki anak dengan kelas yang berbeda, juga kondisi anak yang bisa jadi masih sulit diajak bekerja sama tentang kedisiplinan dalam menjalankan sekolah di rumah.

Meskipun begitu, baik sekolah maupun orang tua berusaha bekerja sama untuk mewujudkan sekolah di rumah ini jadi salah satu alternatif sarana pendidikan untuk anak, terlebih di masa pandemi ini. Sekolah memberikan dukungan dan semangat, juga bantuan yang memungkinkan diberikan kepada orang tua yang mengalami kesulitan tertentu. Grup WA orang tua murid biasanya berisi informasi-informasi kelas anak saat itu hingga kata-kata untuk saling memotivasi antar-orang tua. Sering kali jika sudah ada orang tua yang terlalu capek dengan agenda sekolah di rumah, banyak curhatan-curhatan yang dituliskan di grup WA, dan jadi sarana hiburan tersendiri untuk kami 🙂

Sekolah di rumah dijalani anak-anak dari tanggal 4 Jan 2021 hingga 5 Feb 2021. Seharusnya hari Senin, 8 Februari 2021, anak-anak masuk sekolah kembali. Namun, karena hari kedua turun salju, udara sangat dingin, jalanan licin, dan bahaya untuk kendaraan melintas, maka kembali anak-anak sekolah online lagi. Hari berikutnya, Selasa, 9 Februari 2021, anak-anak masuk sekolah kembali. Banyak orang tua murid merasa lega, akhirnya anak-anak bisa sekolah di ruang kelasnya. Meskipun banyak juga yang masih was-was mengingat virus ini masih menular dan munculnya varian virus baru dengan penularan yang relatif lebih cepat.

Selama sekolah di rumah, aku memberikan banyak apresiasi kepada anakku, untuk usahanya, kedisiplinannya, juga rasa nyaman yang berusaha dimunculkan saat mengikuti sekolah online. Perasaannya juga salah satu hal yang sering kutanyai selama sekolah di rumah ini. Anakku sering merasa lebih suka sekolah di rumah karena menikmati bisa sekolah di rumah bersama ibunya, juga waktu sekolah yang lebih cepat. Tetapi, anakku kurang suka tentang sekolah yang harus online, menggunakan internet, tidak bisa langsung bertemu guru dan teman-temannya.

Seperti yang kuceritakan di sini, alhamdulillah tidak banyak kendala yang terjadi selama SFH. Sekolah di rumah sekitar 4 jam, tentu saja cukup singkat, dibandingkan dengan jadwal sekolah pada saat tidak lockdown, yang bisa sampai sore jam 15.15. Meskipun demikian, belajar di depan layar tentu saja menimbulkan kejenuhan dan rasa capek, baik mata, fisik, maupun otak. Masalah yang umum terjadi pada anakku sebenarnya hanyalah konsentrasi terutama di 2 jam terakhir. Atau rasa jenuh karena pelajaran saat itu dirasa anakku mudah sekali, dan anakku ingin yang lebih menantang. Jika untuk pelajaran aku tidak terlalu banyak mengingatkan, namun untuk konsentrasi ini aku perlu sering mengingatkan. Karena, jika sudah jenuh, anakku menjadi lebih tertarik bermain laptop (layar) daripada mendengarkan gurunya, walaupun anakku bilang penjelasan gurunya tetap masuk.

Alhamdulillah, anakku cukup bisa melalui sekolah di rumah ini dengan baik. Selama 1 bulan sekolah di rumah, tugas – tugas terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, bisa kerja sama dengan baik jika aku ingatkan, bisa diajak kerja sama menggunakan waktu 4 jam tadi untuk fokus pada agenda sekolah dan mengerjakan tugas dari guru.

Untuk usaha dan kerja kerasnya selama sekolah di rumah, aku memberikan hadiah berupa sertifikat, yang kubuat sendiri. Anakku senang sekali mendapatkannya. Meskipun sederhana, namun bisa membuat anakku merasa bahagia. Sertifikat ini untuk mengapresiasi usahanya selama mengikuti sekolah di rumah.

Di bagian tengah itu aku isi dengan nama anakku

Di hari terakhir SFH, sekolah pun memberikan apresiasi kepada orang tua dan murid untuk kerja kerasnya selama sekolah di rumah. Ucapan terima kasih dan perhatian disampaikan kepala sekolah dan guru untuk para orang tua murid yang membersamai anak sekolah di rumah. Kondisi sulit ini, perlu kerja sama untuk saling menguatkan, hingga keadaan kembali normal.

Pengalaman Anak Sekolah di Rumah (2)

Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan postingan yang ini. Dikarenakan lockdown di Belanda yang dilkaukan sejak bulan Desember 2020, maka sekolah pun tutup, untuk menekan angka penyebaran virus corona yang semakin meningkat. Sehingga, anak-anak sekolah di rumah secara online.

Anak-anak memulai sekolah di rumah sejak 4 Januari, dan diagendakan hingga 15 Januari. Semua anak harus sekolah di rumah, kecuali untuk anak-anak yang tidak memungkinkan sekolah di rumah, maka sekolah menyediakan ruangan di sekolah dengan guru pendamping. Meskipun belajar di sekolah, anak-anak ini tetap mengikuti pelajaran online. Guru kelas yang mengajar saat itu bisa melakukan pelajaran online di rumah, atau jika diperlukan, bisa ke sekolah.

Rumah pun bisa menjadi tempat sekolah untuk anak

Anak-anak yang diizinkan ke sekolah adalah anak dari orang tua yang perlu bekerja di luar rumah, dan tidak mungkin meninggalkan anak di bawah umur (usia SD), sendirian di rumah. Maka, sekolah pun memberikan izin untuk anak datang ke sekolah. Orang tua perlu mendaftar dulu untuk didata oleh sekolah. Orang tua ini perlu menunjukkan bukti bahwa saat itu perlu bekerja di luar rumah, bisa didapat dari tempatnya bekerja. Umumnya, ini berlaku untuk orang tua yang memiliki pekerjaan vital, seperti, dokter, perawat, petugas kebersihan, dan sejenisnya. Orang-orang yang memang tidak memungkinkan melakukan pekerjaannya di rumah.

Selama sekolah, guru secara berkala mengirimkan agenda kegiatan kelas hari itu, pelajaran apa saja yang akan diikuti anakku bersama teman sekelasnya untuk dilakukan di ruang google meet. Agenda terakhir sekolah di rumah adalah tanggal 15 Januari, kemudian 18 Januari atau 19 Januari anak-anak bisa kembali belajar di sekolah. Namun, setelah melihat tren corona yang belum menurun juga, bahkan meningkat, terlebih ada varian baru dari UK, maka pemerintah memutuskan masa lockdown diperpanjang, mengakibatkan sekolah di rumah pun diperpanjang. Sekolah di rumah dilanjutkan hingga 5 Februari 2021.

Metode yang digunakan oleh guru selama sekolah online ini, guru membuka kelas, anak-anak membaca buku pilihan masing-masing selama 15 – 30 menit, kemudian guru memulai pelajaran dengan menjelaskan materi pelajaran saat itu, selanjutnya anak-anak mengerjakan tugas yang sudah diberitahukan oleh guru di jadwal harian.

Walaupun sudah diberitahukan di agenda harian sekolah, tugas ini hanya boleh dikerjakan di ruang kelas hari itu, jika belum selesai baru boleh dilanjutkan setelah jam sekolah berakhir, tidak sebelum hari pemberian tugas. Jika saat pengerjaan tugas,anak bisa selesai sebelum waktu yang diberikan habis, maka anak-anak mengerjakan secara mandiri latihan-latihan yang sudah disusun oleh guru di website yang telah disediakan dari sekolah.

Sesi pertama berlangsung dari jam 8.30 – 10.30, setelah itu anak-anak istirahat, kemudian dilanjutkan jam 11.00 – 13.00, dimulai dengan guru mengajak anak-anak untuk melakukan olahraga ringan. Ada 2 guru yang mengajar anakku di hari yang berlainan. Metode yang dilakukan oleh 2 guru ini bisa berbeda, juga agenda yang dilakukan, tetapi susunan mata pelajaran harian tetap sama.

Anakku baru kelas 1 SD saat ini, hanya ada 4 pelajaran di sekolahnya, yaitu matematika, bahasa, agama, dan olahraga. Untuk sekolah online ini, hanya dilakukan 2 pelajaran, yaitu matematika dan bahasa, sedangkan pelajaran agama diberikan menggunakan video online, di mana guru bercerita tentang kisah para nabi kemudian anak-anak mendapat tugas yang harus dikumpulkan dalam waktu 4-5 hari. Untuk pelajaran olahraga ditiadakan, hanya guru kelas mengajak anak-anak olahraga ringan saat memulai kelas, di mana waktunya disesuaikan guru dengan jam pelajaran waktu itu, jika memungkinkan.

Selama sekolah online, agar guru bisa konsentrasi menjelaskan materi, dan memperhatikan semua anak, maka anak-anak diminta untuk selalu mengaktifkan kamera dan mematikan mikrofon. Mikrofon boleh nyala dalam kondisi diperlukan, misal ada anak yang ingin bertanya, atau guru meminta anak bicara atau menjawab pertanyaan. Ruang chat juga hanya dipakai jika diperlukan. Saat isitrahat, maka bisa bebas, kamera boleh dimatikan atau dinyalakan, mikrofon pun boleh selalu nyala, terutama agar anak-anak bisa bicara sesamanya, jika mau. Ngobrol antar anak selama istirahat ini bisa jadi mengurangi ‘rasa kangen’ anak kepada teman-teman sekelasnya, walaupun di beberapa orang tua murid yang ikut membersamai anak belajar, suasana ini cukup memusingkan, melihat semua anak ingin bicara dan bercerita dengan teman-temannya.

Aturan mengenai kamera, mikrofon, dan ruang chat ini diberikan oleh guru, karena di hari-hari pertama sekolah online, ada beberapa kejadian yang menganggu kelas. Antara lain, banyak anak yang justru bicara antar sesamanya saat pelajaran sudah dimulai, atau berebutan ingin bicara atau bertanya dengan gurunya, bahkan kadang suara dari rumah si anak terdengar di kelas. Kamera harus selalu menyala saat kelas, agar guru bisa melihat anak-anak apakah ada di tempatnya, mengerjakan tugas, atau justru melakukan hal lain. Pernah satu hari, anak-anak tidak terkontrol, kemudian guru meninggalkan ruang google meet dan membuat kode baru, hanya anak yang patuh peraturan (kamera nyala, mikrofon mati) saja yang diizinkan masuk kelas. Dengan cara ini, anak-anak menjadi lebih patuh.

Tidak banyak kendala yang kuhadapi, karena sejak awal memang sudah kubicarakan dengan anakku, agar mandiri saat sekolah. Ini membantunya untuk lebih konsentrasi daripada setiap kali bertanya padaku, sehingga justru tidak memperhatikan gurunya. Sebelum masa-masa sekolah online, aku mengajak bicara anakku, memberikan penjelasan, bahkan kita praktik menggunakan google meet, sehingga di hari sekolah online, sudah siap. Biasanya malam hari atau pagi sebelum sekolah, aku ajak anakku melihat jadwal hariannya, juga mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Selesai sekolah, anakku merapikan barang-barangnya dan menyiapkan peralatan untuk hari esok. Ini memudahkan dalam hal kesiapan belajar online. Tentu saja, aku pun mendampingi jika anakku kesulitan, juga untuk mengecek tugas-tugas dari guru.

Laptop dan alat tulis teman sehari-hari sekolah di rumah

Sejak awal, aku meminta anakku untuk berusaha menyelesaikan tugas saat masih jam pelajaran, sehingga aku pun bisa mengecek pengerjaannya saat itu juga. Jika ada yang perlu diperbaiki atau ada penjelasan tambahan yang dibutuhkan, bisa menggunakan waktu selesai kelas. Alhamdulillah anakku bisa melakukannya, sehingga hanya dibutuhkan sedikit waktu saja selesai kelas untuk aku memberikan penjelasan tambahan atau koreksi pengerjaan tugasnya. Untuk tugas pelajaran agama, biasanya diberikan setiap hari Kamis, dan hari Senin batas akhir pengumpulan tugasnya melalui email guru agama. Aku membuat kesepakatan dengan anakku, untuk berusaha menyelesaikan tugas itu akhir pekan, bisa mulai menyiapkan dan mengerjakan tugasnya mulai hari Jumat. Cara ini membuat anakku lebih punya banyak waktu menyelesaikan tugasnya dan kukirimkan ke email gurunya hari Ahad, sehingga tidak terburu-buru atau terlupa.

Kendala yang dihadapi anakku hanyalah rasa jenuh dan capek saat mengikuti sekolah online. Jika dibandingkan dengan jadwal sekolah biasa hari Senin, Selasa, dan Kamis dari jam 8.30 hingga jam 15.15, hari Rabu hingga jam 13.00, dan Jumat hingga jam 12.15 atau jam 12.45, maka sekolah online yang hanya 4 jam ini (Senin – Jumat) sebenarnya cukup singkat. Bedanya, jam sekolah dimampatkan, lebih banyak duduk di depan laptop, dengan waktu istirahat hanya 30 menit tanpa sempat bermain-main dulu. Biasanya hanya dipakai untuk makan buah, cemilan, dan minum, kadang mengerjakan yang lain, atau jika ingin, anakku kembali ke depan laptop untuk bicara dengan temannya.

Maka, capek mata, fisik, dan otak cukup dirasa oleh anakku. 2 jam pertama masih segar mengikuti pelajaran, 2 jam sisanya sudah mulai merasa bosan, sehingga sering kali justru perhatiannya pada hal-hal lain, walaupun alhamdulillah tetap bisa mengikuti penjelasan guru. Hanya di 2 jam terakhir ini biasanya aku perlu sering mengingatkan untuk tetap konsentrasi, tidak banyak bermain-main dengan layar. Setelah selesai sekolah, aku berikan apresiasi kepada anakku atas kerja kerasnya dan usahanya mengikuti sekolah di online. Alhamdulillah tetap semangat mengikuti sekolah online setiap harinya.

Akhirnya Salju Tebal di Belanda

Hari Minggu (7 Feb 2021), salju turun banyak di Belanda, setelah bulan Januari lalu hanya turun sedikit. Ini tidak kuperkirakan sebelumnya, bahkan terasa Belanda sudah tidak terlalu dingin lagi, mengingat musim semi segera datang.

Salju 1 hari Jan 2021 (Kiri) – Awal Turun Salju Feb 2021 (Kanan)

Ternyata masih bisa juga merasakan salju tebal, kira-kira ketinggian hingga 20 cm di sekitar tempat tinggalku. Dengan suhu yang rendah, hingga -10oC (bahkan di beberapa tempat lebih rendah lagi), dan salju yang tebal, aku sekeluarga pun beraktivitas di luar. Sebenarnya awalnya aku cukup malas, apalagi tidak ada jaket yang memadai untuk menghadapi suhu dingin di luar rumah. Tapi, melihat kondisi seperti ini tidak selalu terjadi setiap tahunnya, aku pun memutuskan ke luar rumah juga. Sekalian pergi belanja 🙂

Anakku tentu saja senang sekali. Menaiki kereta luncur dari rumah, melintasi jalanan yang bersalju tebal. Di beberapa tempat yang saljunya lebih tinggi, cukup sulit juga buatku melintasinya, bahkan beberapa kali terjatuh. Ditambah, jalanan yang di bawah salju sudah membeku membuat licin, apalagi dengan sepatuku yang sebenarnya juga tidak cocok untuk berjalan di salju dan es.

Menarik sekali kondisi di sekeliling rumah yang memutih, seperti yang dulu waktu kecil, kulihat di film-film amerika bertema natal. Seingatku, salju tebal begini baru kualami 3 kali sepanjang hidupku. Pertama, saat tahun 2012, aku tinggal di UK, kedua, 2017, tetapi tidak setebal tahun ini, dan tahun ini yang ketiga.

Saking tebalnya salju tahun ini, hari Senin (8/2/2021), saat anak-anak TK dan SD yang sebenarnya sudah bisa sekolah kembali (di sekolah), harus libur karena salju yang masih tebal dan jalanan licin. Salju yang tebal membuat transportasi umum mengalami kendala tidak bisa digunakan, mobil dan sepeda pun sulit digunakan. Roda mobil memang berputar, tetapi mobil tidak bisa berjalan (slip), juga jalanan yang licin, rawan kecelakaan. Kondisi ini dinyatakan darurat (gawat) untuk warga, sebaiknya tidak berkendara, sehingga sekolah tutup lagi. Banyak orang tua yang kesulitan untuk mengantar anak sekolah karena kondisi jalan licin dan salju yang tebal.

Lockdown di Belanda yang diperkirakan sampai Maret membuat orang tidak bisa kemana-mana, salju tebal ini, alhamdulillah bisa jadi hiburan tersendiri.

Ini adalah beberapa foto yang kami ambil di sekitar rumah saat hari pertama turun salju.

Salju setebal ini tentu saja tidak kami lewatkan untuk membuat boneka salju. Karena tidak tahan dengan dinginnya, aku lebih memilih di dalam rumah, jadi boneka salju ini dibuat oleh anak dan suamiku.

Hari senin pun, salju masih tebal, masih menyenangkan untuk bermain salju di luar rumah. Banyak ruas jalan, terutama jalan umum yang dilalui mobil telah ditebari garam untuk memudahkan pengguna kendaraan. Meskipun begitu, tetap direkomendasikan tidak bepergian, karena berbahaya di jalan. Suhu udara makin dingin, banyak sungai-sungai membeku.

Hari selasa mulai ada matahari, walaupun masih tetap dingin, tetapi mulai terasa hangat, salju banyak yang mencair, tetapi banyak tempat masih memutih.

Sungai masih membeku, jalanan masih memutih, tetapi matahari mulai menampakkan sinarnya

Sampai hari ini pun Belanda masih memutih, walaupun matahari sudah mulai nampak. Diperkirakan kondisi seperti ini masih terjadi hingga beberapa hari ke depan.