Pengalaman SFH (3): Kesan SFH dan Hadiah untuk Anak

Sekolah di rumah (School from home, SFH) bisa dibilang gampang-gampang susah, tergantung kondisi masing-masing. Dari pengalaman kebanyakan, SFH bukan hal yang mudah, baik itu untuk sekolah, guru, anak, maupun orang tua. Namun, kondisi ini saat ini tidak bisa dihindari. Di Indonesia, SFH sudah berjalan kurang lebih 1 tahun, banyak cerita suka duka yang kudapat dari keluarga, teman, ataupun media. Di Belanda, cukup terkendali, dengan penerapan aturan lockdown yang sangat ketat, juga aturan-aturan yang sangat jelas terkait dengan penanganan dan antisipasi virus corona ini.

Sudah 1 tahun pandemi virus corona terjadi, anak-anak sekolah dasar baru 2 kali menjalani sekolah di rumah. Lama sekolah di rumah pun hanya sekitar 1 bulan. Untuk beberapa orang tua, terutama yang tidak selalu bisa membersamai anak, juga yang memiliki anak lebih dari 1 dengan level kelas yang berbeda-beda, tentu mengalami kesulitan lebih. Fasilitas sekolah di rumah bukanlah masalah besar, karena internet di sini yang memadai, juga adanya bantuan fasilitas dari pemerintah maupun sekolah, misal pinjaman laptop jika orang tua tidak memiliki gadget cukup untuk sekolah di rumah.

Kesulitan terbesar, umumnya adalah komunikasi antara rumah dengan sekolah, terutama guru, misal tidak sampainya informasi yang jelas dari sekolah kepada orang tua, bisa jadi karena orang tua yang tidak terlalu paham untuk mengakses saluran informasi ke sekolah atau guru yang terlambat menyampaikan informasi ataupun ketidakjelasan dari guru dalam menyampaikan informasi. Kesulitan lain, jika orang tua memiliki anak dengan kelas yang berbeda, juga kondisi anak yang bisa jadi masih sulit diajak bekerja sama tentang kedisiplinan dalam menjalankan sekolah di rumah.

Meskipun begitu, baik sekolah maupun orang tua berusaha bekerja sama untuk mewujudkan sekolah di rumah ini jadi salah satu alternatif sarana pendidikan untuk anak, terlebih di masa pandemi ini. Sekolah memberikan dukungan dan semangat, juga bantuan yang memungkinkan diberikan kepada orang tua yang mengalami kesulitan tertentu. Grup WA orang tua murid biasanya berisi informasi-informasi kelas anak saat itu hingga kata-kata untuk saling memotivasi antar-orang tua. Sering kali jika sudah ada orang tua yang terlalu capek dengan agenda sekolah di rumah, banyak curhatan-curhatan yang dituliskan di grup WA, dan jadi sarana hiburan tersendiri untuk kami 🙂

Sekolah di rumah dijalani anak-anak dari tanggal 4 Jan 2021 hingga 5 Feb 2021. Seharusnya hari Senin, 8 Februari 2021, anak-anak masuk sekolah kembali. Namun, karena hari kedua turun salju, udara sangat dingin, jalanan licin, dan bahaya untuk kendaraan melintas, maka kembali anak-anak sekolah online lagi. Hari berikutnya, Selasa, 9 Februari 2021, anak-anak masuk sekolah kembali. Banyak orang tua murid merasa lega, akhirnya anak-anak bisa sekolah di ruang kelasnya. Meskipun banyak juga yang masih was-was mengingat virus ini masih menular dan munculnya varian virus baru dengan penularan yang relatif lebih cepat.

Selama sekolah di rumah, aku memberikan banyak apresiasi kepada anakku, untuk usahanya, kedisiplinannya, juga rasa nyaman yang berusaha dimunculkan saat mengikuti sekolah online. Perasaannya juga salah satu hal yang sering kutanyai selama sekolah di rumah ini. Anakku sering merasa lebih suka sekolah di rumah karena menikmati bisa sekolah di rumah bersama ibunya, juga waktu sekolah yang lebih cepat. Tetapi, anakku kurang suka tentang sekolah yang harus online, menggunakan internet, tidak bisa langsung bertemu guru dan teman-temannya.

Seperti yang kuceritakan di sini, alhamdulillah tidak banyak kendala yang terjadi selama SFH. Sekolah di rumah sekitar 4 jam, tentu saja cukup singkat, dibandingkan dengan jadwal sekolah pada saat tidak lockdown, yang bisa sampai sore jam 15.15. Meskipun demikian, belajar di depan layar tentu saja menimbulkan kejenuhan dan rasa capek, baik mata, fisik, maupun otak. Masalah yang umum terjadi pada anakku sebenarnya hanyalah konsentrasi terutama di 2 jam terakhir. Atau rasa jenuh karena pelajaran saat itu dirasa anakku mudah sekali, dan anakku ingin yang lebih menantang. Jika untuk pelajaran aku tidak terlalu banyak mengingatkan, namun untuk konsentrasi ini aku perlu sering mengingatkan. Karena, jika sudah jenuh, anakku menjadi lebih tertarik bermain laptop (layar) daripada mendengarkan gurunya, walaupun anakku bilang penjelasan gurunya tetap masuk.

Alhamdulillah, anakku cukup bisa melalui sekolah di rumah ini dengan baik. Selama 1 bulan sekolah di rumah, tugas – tugas terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, bisa kerja sama dengan baik jika aku ingatkan, bisa diajak kerja sama menggunakan waktu 4 jam tadi untuk fokus pada agenda sekolah dan mengerjakan tugas dari guru.

Untuk usaha dan kerja kerasnya selama sekolah di rumah, aku memberikan hadiah berupa sertifikat, yang kubuat sendiri. Anakku senang sekali mendapatkannya. Meskipun sederhana, namun bisa membuat anakku merasa bahagia. Sertifikat ini untuk mengapresiasi usahanya selama mengikuti sekolah di rumah.

Di bagian tengah itu aku isi dengan nama anakku

Di hari terakhir SFH, sekolah pun memberikan apresiasi kepada orang tua dan murid untuk kerja kerasnya selama sekolah di rumah. Ucapan terima kasih dan perhatian disampaikan kepala sekolah dan guru untuk para orang tua murid yang membersamai anak sekolah di rumah. Kondisi sulit ini, perlu kerja sama untuk saling menguatkan, hingga keadaan kembali normal.

Leave a comment