Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan postingan yang ini. Dikarenakan lockdown di Belanda yang dilkaukan sejak bulan Desember 2020, maka sekolah pun tutup, untuk menekan angka penyebaran virus corona yang semakin meningkat. Sehingga, anak-anak sekolah di rumah secara online.
Anak-anak memulai sekolah di rumah sejak 4 Januari, dan diagendakan hingga 15 Januari. Semua anak harus sekolah di rumah, kecuali untuk anak-anak yang tidak memungkinkan sekolah di rumah, maka sekolah menyediakan ruangan di sekolah dengan guru pendamping. Meskipun belajar di sekolah, anak-anak ini tetap mengikuti pelajaran online. Guru kelas yang mengajar saat itu bisa melakukan pelajaran online di rumah, atau jika diperlukan, bisa ke sekolah.

Anak-anak yang diizinkan ke sekolah adalah anak dari orang tua yang perlu bekerja di luar rumah, dan tidak mungkin meninggalkan anak di bawah umur (usia SD), sendirian di rumah. Maka, sekolah pun memberikan izin untuk anak datang ke sekolah. Orang tua perlu mendaftar dulu untuk didata oleh sekolah. Orang tua ini perlu menunjukkan bukti bahwa saat itu perlu bekerja di luar rumah, bisa didapat dari tempatnya bekerja. Umumnya, ini berlaku untuk orang tua yang memiliki pekerjaan vital, seperti, dokter, perawat, petugas kebersihan, dan sejenisnya. Orang-orang yang memang tidak memungkinkan melakukan pekerjaannya di rumah.
Selama sekolah, guru secara berkala mengirimkan agenda kegiatan kelas hari itu, pelajaran apa saja yang akan diikuti anakku bersama teman sekelasnya untuk dilakukan di ruang google meet. Agenda terakhir sekolah di rumah adalah tanggal 15 Januari, kemudian 18 Januari atau 19 Januari anak-anak bisa kembali belajar di sekolah. Namun, setelah melihat tren corona yang belum menurun juga, bahkan meningkat, terlebih ada varian baru dari UK, maka pemerintah memutuskan masa lockdown diperpanjang, mengakibatkan sekolah di rumah pun diperpanjang. Sekolah di rumah dilanjutkan hingga 5 Februari 2021.
Metode yang digunakan oleh guru selama sekolah online ini, guru membuka kelas, anak-anak membaca buku pilihan masing-masing selama 15 – 30 menit, kemudian guru memulai pelajaran dengan menjelaskan materi pelajaran saat itu, selanjutnya anak-anak mengerjakan tugas yang sudah diberitahukan oleh guru di jadwal harian.
Walaupun sudah diberitahukan di agenda harian sekolah, tugas ini hanya boleh dikerjakan di ruang kelas hari itu, jika belum selesai baru boleh dilanjutkan setelah jam sekolah berakhir, tidak sebelum hari pemberian tugas. Jika saat pengerjaan tugas,anak bisa selesai sebelum waktu yang diberikan habis, maka anak-anak mengerjakan secara mandiri latihan-latihan yang sudah disusun oleh guru di website yang telah disediakan dari sekolah.
Sesi pertama berlangsung dari jam 8.30 – 10.30, setelah itu anak-anak istirahat, kemudian dilanjutkan jam 11.00 – 13.00, dimulai dengan guru mengajak anak-anak untuk melakukan olahraga ringan. Ada 2 guru yang mengajar anakku di hari yang berlainan. Metode yang dilakukan oleh 2 guru ini bisa berbeda, juga agenda yang dilakukan, tetapi susunan mata pelajaran harian tetap sama.
Anakku baru kelas 1 SD saat ini, hanya ada 4 pelajaran di sekolahnya, yaitu matematika, bahasa, agama, dan olahraga. Untuk sekolah online ini, hanya dilakukan 2 pelajaran, yaitu matematika dan bahasa, sedangkan pelajaran agama diberikan menggunakan video online, di mana guru bercerita tentang kisah para nabi kemudian anak-anak mendapat tugas yang harus dikumpulkan dalam waktu 4-5 hari. Untuk pelajaran olahraga ditiadakan, hanya guru kelas mengajak anak-anak olahraga ringan saat memulai kelas, di mana waktunya disesuaikan guru dengan jam pelajaran waktu itu, jika memungkinkan.
Selama sekolah online, agar guru bisa konsentrasi menjelaskan materi, dan memperhatikan semua anak, maka anak-anak diminta untuk selalu mengaktifkan kamera dan mematikan mikrofon. Mikrofon boleh nyala dalam kondisi diperlukan, misal ada anak yang ingin bertanya, atau guru meminta anak bicara atau menjawab pertanyaan. Ruang chat juga hanya dipakai jika diperlukan. Saat isitrahat, maka bisa bebas, kamera boleh dimatikan atau dinyalakan, mikrofon pun boleh selalu nyala, terutama agar anak-anak bisa bicara sesamanya, jika mau. Ngobrol antar anak selama istirahat ini bisa jadi mengurangi ‘rasa kangen’ anak kepada teman-teman sekelasnya, walaupun di beberapa orang tua murid yang ikut membersamai anak belajar, suasana ini cukup memusingkan, melihat semua anak ingin bicara dan bercerita dengan teman-temannya.
Aturan mengenai kamera, mikrofon, dan ruang chat ini diberikan oleh guru, karena di hari-hari pertama sekolah online, ada beberapa kejadian yang menganggu kelas. Antara lain, banyak anak yang justru bicara antar sesamanya saat pelajaran sudah dimulai, atau berebutan ingin bicara atau bertanya dengan gurunya, bahkan kadang suara dari rumah si anak terdengar di kelas. Kamera harus selalu menyala saat kelas, agar guru bisa melihat anak-anak apakah ada di tempatnya, mengerjakan tugas, atau justru melakukan hal lain. Pernah satu hari, anak-anak tidak terkontrol, kemudian guru meninggalkan ruang google meet dan membuat kode baru, hanya anak yang patuh peraturan (kamera nyala, mikrofon mati) saja yang diizinkan masuk kelas. Dengan cara ini, anak-anak menjadi lebih patuh.
Tidak banyak kendala yang kuhadapi, karena sejak awal memang sudah kubicarakan dengan anakku, agar mandiri saat sekolah. Ini membantunya untuk lebih konsentrasi daripada setiap kali bertanya padaku, sehingga justru tidak memperhatikan gurunya. Sebelum masa-masa sekolah online, aku mengajak bicara anakku, memberikan penjelasan, bahkan kita praktik menggunakan google meet, sehingga di hari sekolah online, sudah siap. Biasanya malam hari atau pagi sebelum sekolah, aku ajak anakku melihat jadwal hariannya, juga mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Selesai sekolah, anakku merapikan barang-barangnya dan menyiapkan peralatan untuk hari esok. Ini memudahkan dalam hal kesiapan belajar online. Tentu saja, aku pun mendampingi jika anakku kesulitan, juga untuk mengecek tugas-tugas dari guru.

Sejak awal, aku meminta anakku untuk berusaha menyelesaikan tugas saat masih jam pelajaran, sehingga aku pun bisa mengecek pengerjaannya saat itu juga. Jika ada yang perlu diperbaiki atau ada penjelasan tambahan yang dibutuhkan, bisa menggunakan waktu selesai kelas. Alhamdulillah anakku bisa melakukannya, sehingga hanya dibutuhkan sedikit waktu saja selesai kelas untuk aku memberikan penjelasan tambahan atau koreksi pengerjaan tugasnya. Untuk tugas pelajaran agama, biasanya diberikan setiap hari Kamis, dan hari Senin batas akhir pengumpulan tugasnya melalui email guru agama. Aku membuat kesepakatan dengan anakku, untuk berusaha menyelesaikan tugas itu akhir pekan, bisa mulai menyiapkan dan mengerjakan tugasnya mulai hari Jumat. Cara ini membuat anakku lebih punya banyak waktu menyelesaikan tugasnya dan kukirimkan ke email gurunya hari Ahad, sehingga tidak terburu-buru atau terlupa.
Kendala yang dihadapi anakku hanyalah rasa jenuh dan capek saat mengikuti sekolah online. Jika dibandingkan dengan jadwal sekolah biasa hari Senin, Selasa, dan Kamis dari jam 8.30 hingga jam 15.15, hari Rabu hingga jam 13.00, dan Jumat hingga jam 12.15 atau jam 12.45, maka sekolah online yang hanya 4 jam ini (Senin – Jumat) sebenarnya cukup singkat. Bedanya, jam sekolah dimampatkan, lebih banyak duduk di depan laptop, dengan waktu istirahat hanya 30 menit tanpa sempat bermain-main dulu. Biasanya hanya dipakai untuk makan buah, cemilan, dan minum, kadang mengerjakan yang lain, atau jika ingin, anakku kembali ke depan laptop untuk bicara dengan temannya.
Maka, capek mata, fisik, dan otak cukup dirasa oleh anakku. 2 jam pertama masih segar mengikuti pelajaran, 2 jam sisanya sudah mulai merasa bosan, sehingga sering kali justru perhatiannya pada hal-hal lain, walaupun alhamdulillah tetap bisa mengikuti penjelasan guru. Hanya di 2 jam terakhir ini biasanya aku perlu sering mengingatkan untuk tetap konsentrasi, tidak banyak bermain-main dengan layar. Setelah selesai sekolah, aku berikan apresiasi kepada anakku atas kerja kerasnya dan usahanya mengikuti sekolah di online. Alhamdulillah tetap semangat mengikuti sekolah online setiap harinya.
One thought on “Pengalaman Anak Sekolah di Rumah (2)”