Hasil Tes Swab

Tulisan ini untuk melanjutkan postingan yang ini. Tanggal 12 Januari 2021, kurang lebih 24 jam setelah tes swab sehari sebelumnya, aku mendapat email yang berisi hasil tes swab. Seingatku, petugas dari call centre corona yang kutelepon sebelum tes mengatakan bahwa hasil tes dapat diketahui 24 – 48 jam setelah tes swab dilakukan. Hasil tes akan diberitahukan melalui telepon dan email.

Aku mengatakan bahwa lebih nyaman jika hasil tes dikirimkan melalui email saja. Mengingat, aku tidak selalu memegang hp, bahkan lebih sering hpku dalam kondisi silent. Khawatirnya, saat ditelepon, aku tidak dapat mengangkatnya, maka melalui email lebih bagus. Walaupun begitu, dari pagi di tanggal 12 Januari 2021, aku nyalakan bunyi dering hpku dan selalu kuletakkan di dekatku.

Seingatku, aku selesai tes sekitar jam 10.20 (11/1/21) dan sehari setelahnya (12/1/21), yaitu jam 09.58, aku menerima email yang di dalamnya dicantumkan website tempatku bisa melihat hasil tes secara online. Aku pun segera mengecek email tersebut dan masuk ke tautan pada website yang dikirimkan di email.

Alhamdulillah, hasil tes dinyatakan negatif 🙂

Hasil Tes Swab Negatif

Artinya, tidak terdapat virus corona di dalam badanku. Alhamdulillah. Berarti batuk yang kuderita bukan disebabkan karena corona.

Meskipun demikian, di website itu juga dinyatakan beberapa hal yang perlu kuperhatikan, yaitu:

1. Jika terjadi kondisi berikut, maka aku perlu tetap di rumah (isolasi mandiri):

  • setelah tes aku mengalami gejala-gejala yang terjadi karena virus corona, dalam kondisi ini aku perlu juga melakukan tes ulang
  • ada orang yang tinggal serumah (minimal usia 6 tahun) dengan gejala corona, isolasi mandiri dilakukan sampai si penderita corona dites dan diketahui hasilnya
  • bepergian ke negara yang termasuk zona oranye corona, untuk kondisi ini maka isolasi mandiri selama 10 hari, baik ada keluhan (gejala) ataupun tidak, jika ada gejala maka dilakukan tes

2. Jika dalam 5 hari ke depan (setelah tes) aku bertemu atau ada kontak langsung dengan orang yang telah terkena virus corona, maka yang perlu kulakukan:

  • catat dengan siapa saja telah bertemu dan laporkan kepada petugas yang mengurusi masalah ini
  • jika orang yang telah terkena corona ini sudah diketahui, maka aku pun akan mendapat pemberitahuan melalui aplikasi

3. Aku boleh keluar rumah (tidak perlu lagi isolasi mandiri), sambil tetap memperhatikan apakah ada gejala lain yang kurasakan, terutama yang berkaitan dengan virus corona, juga tetap menjalankan protokol kesehatan.

4. Jika aku terkena gejala ini setelah ada kontak langsung dengan penderita corona, dan kontak ini terjadi kurang dari 5 hari yang lalu, maka tes swabku dinyatakan terlalu awal, sehingga hasil tes tidak berlaku lagi. Aku perlu menunggu 5 hari setelah kontak itu terjadi untuk tes ulang.

Tentu saja poin nomer 4 tidak berlaku untukku, karena memang selama masa lockdown ini aku hampir tidak bertemu langsung dengan orang lain. Bahkan, sejak semingguan yang lalu mulai batuk juga sudah tidak pernah keluar rumah dan menerima kunjungan. Alhamdulillah keluargaku (yang tinggal serumah) juga dalam kondisi sehat.

Yang jelas, aku bersyukur dengan hasil tes swab yang menyatakan aku negatif virus corona. Semoga virus ini bisa segera terkendali. Apalagi Belanda sudah memulai program vaksinasi yang diawali untuk para tenaga kesehatan di sini.

Pengalaman Tes Swab Corona

Kejadian ini terjadi kemarin (11/1/21), tetapi aku baru sempat membuat tulisan ini hari ini (12/1/21).
Sudah semingguan ini aku mengalami batuk. Gejala yang kualami hanyalah batuk kering yang cukup mengganggu terutama ketika malam, sehingga kurang tidur, berakibat badan menjadi terlalu cepat capek dan lesu. Beberapa hari merasa demam tetapi suhu tubuh tertinggi hanya 36.7oC.

Aku sempat berpikir untuk tes corona. Di Belanda, direkomendasikan, jika mengalami sakit yang disertai gejala-gejala yang diderita pasien corona, sebaiknya melakukan tes corona. Namun, karena gejalaku hanya batuk, sedangkan suhu tubuh normal, maka keinginan tes itu aku tunda. Untuk berjaga-jaga, maka sejak batuk, aku hanya di rumah saja, tidak pernah sekalipun keluar rumah. Selama ini keperluanku keluar juga sudah terbatas, misal hanya untuk berbelanja saja.

Hingga tanggal 11 Januari 2021, karena aku ada janji periksa ke bidan, aku memutuskan untuk menelepon bidan beberapa jam sebelum waktu periksa. Tujuanku menelepon untuk memastikan apakah aku bisa datang ke lokasi praktik ataukah jangan datang dulu karena sedang batuk. Ketika dalam kondisi tidak fit, memang disarankan untuk tidak datang ke lokasi praktik bidan. Setelah berdiskusi mengenai keadaanku lewat telepon, bidan memutuskan agar aku tes corona dahulu dan tidak perlu datang periksa. Hal ini untuk memastikan apakah ini batuk biasa atau ada kemungkinan aku telah terkena virus corona. Setelah mengetahui hasil tes, maka aku perlu menelepon bidan lagi untuk mengganti janji yang pada akhirnya dibatalkan ini.

Tes Swab Corona

Maka, hari itu juga, aku segera menghubungi call centre tes corona untuk membuat janji tes. Sebenarnya, janji untuk tes bisa juga dilakukan melalui website untuk memilih waktu dan tempat di mana akan melakukan tes corona.

Melalui telepon, petugas menanyakan data diriku, kemudian memastikan gejala-gelaja yang kualami. Gejala yang ditanyakan petugas adalah tentang jenis batukku, apakah disertai bersin-bersin, radang tenggorokan, gampang capek, badan nyeri (pegal-pegal), demam, dan apakah indera perasaku masih berfungsi. Gejalaku hanyalah batuk kering, jarang bersin, mungkin dalam seminggu batuk ini, hanya sedikit sekali bersin. Mengenai gampang capek dan pegal-pegal, aku mengatakan bahwa sedang hamil, jadi tidak bisa memastikan apakah capek dan pegal ini karena hamil atau sakit. Bahkan sejak sebelum batuk pun sudah mengalami dua kondisi ini. Kalaupun gampang capek dan lesu, sepertinya juga karena kurang tidur karena terganggu batuk saat malam.

Selain itu, petugas juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini:

  • apakah ada anggota keluarga yang pernah terkena corona
  • apakah aku pernah ada kontak dengan orang yang terkena corona
  • apakah aku pernah dihubungi atau mendapat pesan untuk melakukan tes corona
  • apakah aku pernah bepergian ke luar belanda
  • apakah aku bekerja di sektor kesehatan atau pekerjaan yang membuatku harus ke luar rumah

Semua pertanyaan di atas kujawab tidak, karena memang gelajaku hanya batuk saja yang menurutku disebabkan oleh cuaca dingin, di mana setiap tahun batuk ini selalu datang setiap musim dingin.

Meskipun demikian, tetap aku perlu tes corona. Petugas memilihkan tempat yang terdekat dengan rumahku dan waktu yang aku bisa datang ke lokasi tersebut. Petugas memberi tahu bahwa hasil tes akan diberitahukan 24-48 jam setelah tes, bisa melalui telepon, email, dan website. Selama belum ada hasil tes, maka aku diminta tetap di rumah saja, menjaga jarak, dan tidak menerima tamu. Anggota keluarga selama tidak menampakkan gejala sakit, boleh keluar rumah dan menerima tamu.

Setelah namaku terdaftar untuk ikut tes, maka aku diberitahu akan ada pesan dan email konfirmasi tentang jadwal tesku. Aku bisa tes hari itu juga, bahkan waktunya pun bisa langsung, kurang lebih 20 menit setelah telepon selesai. Jarak lokasi tes dengan rumahku pun sangat dekat, bisa ditempuh dengan bermobil kurang lebih 10 menit perjalanan.

Mengenai pesan konfirmasi yang akan dikirimkan melalui sms dan email, petugas memberi tahu bahwa biasanya pesan konfirmasi ini akan sampai dalam waktu sejam. Pesan konfirmasi ini nantinya perlu ditunjukkan kepada petugas di lokasi tes. Namun, karena waktu tesku kurang dari 1 jam setelah telepon, maka aku berangkat saja, tidak perlu menunjukkan pesan konfirmasi tersebut jika memang belum sampai. Maka aku pun segera berangkat ke lokasi tes corona dengan membawa identitas diri dan bermasker, sesuai pesan petugas call centre. Karena yang dites hanya aku, maka aku pun berangkat sendiri.

Sesampainya di lokasi, ada petugas di pintu gerbang yang memastikan bahwa aku sudah ada janji untuk tes hari itu. Hanya orang yang sudah ada janji tes saja yang diperbolehkan masuk. Aku memberi tahu bahwa aku sudah menelepon call centre corona, tetapi pesan konfirmasi belum sampai, tetapi aku sudah tahu jam berapa waktu tesku. Maka aku dipersilakan melajukan mobilku sampai lokasi antri mobil. Disini, tidak boleh memfoto apapun, ada tanda rambu besar bahwa memfoto dilarang, maka aku tidak memfoto apapun.

Dilarang Memotret

Saat aku antri, mendapat nomor urut 3. Sebelum aku masuk ke jalur antri mobil, mobil di depanku diminta untuk menurunkan orang yang ikut di dalam mobil tetapi tidak termasuk orang yang dites. Beruntung, aku berangkat sendiri. Setelah 2 mobil masuk, maka giliranku pun tiba. Disambut oleh petugas di pintu lokasi tes, memastikan hal yang sama, yaitu aku sudah membuat janji untuk tes. Kujelaskan hal yang sama seperti saat petugas pintu gerbang menanyaiku. Aku pun dipersilakan maju, masih di dalam mobil, menuju petugas pertama. Petugas pertama ini hanya berpakaian biasa (bukan APD), menggunakan masker, berkaca mata pelindung, dan bersarung tangan. Petugas pertama ini menyambutku dari dalam bilik terbuka, kemudian memastikan waktu janjian tesku.

Ada 2 orang petugas di bilik pertama ini, yang menanyaiku hanya satu, dan dua-duanya berpakaian biasa hanya dilengkapi dengan kaca mata pelindung, masker, dan sarung tangan. Dikarenakan aku tidak bisa menunjukkan pesan konfirmasi dari call centre, maka petugas ini memeriksa data diriku di komputer. Setelah menemukan namaku, petugas ini memberikan tabung (tube) di dalam plastik jernih (plastik biasa) disertai pesan bahwa tabung ini perlu diserahkan ke petugas selanjutnya.

Aku pun menuju petugas selanjutnya, terlihat ada angka 1 – 10 yang menunjukkan nomer bilik masing-masing petugas swab, dan giliranku adalah di bilik nomer 2. Bilik terbuka yang di dalamnya ada 1 orang petugas dengan pakaian APD lengkap, berkaca mata pelindung, bermasker, dan bersarung tangan. Aku pun menyerahkan tabung dari petugas pertama. Petugas ini menyuruhku bersin di tisu, kemudian meminta tisu itu dimasukkan ke plastik dan nanti dibuang di rumah. Setelah itu, petugas ini melakukan tes swab, dimulai dari bagian tenggorokan, kemudian hidung. Alat swab dimasukkan ke dalam tabung yang sudah kuberikan tadi. Terakhir, petugas memberiku brosur mengenai apa yang harus dilakukan setelah tes ini.

Aku pun segera menuju pintu keluar. Alur jalan di lokasi tes ini dari pintu gerbang, hingga masuk ke lokasi tes tidak terlalu jauh, dan jelas sekali, diberi tanda pembatas jalan dan keterangan ke arah mana mobil dijalankan, bahkan dibantu oleh beberapa petugas untuk menunjukkan jalan hingga ke jalan keluar. Di lokasi, mesin mobil hanya dimatikan ketika bertemu petugas pertama (yang menyerahkan tabung) dan kedua (yang melakukan tes). Total waktu yang dibutuhkan dari masuk lokasi tes hingga keluar sekitar 5-7 menit.

Terima kasih telah melakukan tes corona –
Bersama-sama kita bisa mengendalikan corona

Sesampai di rumah, kubaca informasi di dalam brosur yang diberikan oleh petugas. Dari brosur ini, aku mendapat informasi apa yang perlu kulakukan setelah tes ini hingga hasil tes keluar, antara lain:

  • tetap berada di rumah, tidak keluar rumah (jika keluar rumah pun hanya boleh di pekarangan atau kebun)
  • tidak menerima tamu (kunjungan), kecuali dokter atau petugas kesehatan jika memang diperlukan
  • menjaga jarak dengan anggota rumah
  • menjaga kebersihan, sering cuci tangan, jika batuk atau bersin di dalam siku, menggunakan tisu sekali pakai
  • memperhatikan telepon dan email untuk mengetahui hasil tesnya, kadang hasil tes masuk ke kotak spam
  • memperhatikan dan mengingat dengan siapa dalam beberapa hari ini kontak
  • jika yang dites anak-anak, maka hal-hal ini tidak berlaku

Semua anggota rumah tetap tinggal di rumah (tidak boleh keluar) jika orang yang dites corona mengalami gejala-gejala yang lebih berat, seperti demam (suhu tinggi) atau kesulitan bernafas, juga jika di dalam rumah tersebut ada yang terkena corona.


Selain info tentang apa yang perlu kulakukan selama menunggu hasil tes, di dalam brosur tersebut juga diberi tahukan informasi berikut:

Jika hasil tes negatif, maka saat dilakukan tes swab, tidak ditemukan adanya virus corona, maka boleh keluar rumah, tentu saja seperlunya, mengingat sekarang di belanda juga sedang lockdown. Jika ada orang yang serumah mengalami gejala corona dan belum dites, atau bakan sudah terkena corona, maka walaupun hasil tes negatif, tetap tidak boleh keluar rumah. Ini dikecualikan jika yang dites anak-anak sampai usia 5 tahun.

Jika hasil tes positif, maka saat tes ditemukan bahwa telah terinfeksi virus corona. Sudah pasti harus tetap di rumah, termasuk anggota keluarga yang tinggal serumah, tidak menerima tamu, menjaga jarak dengan anggota rumah. Petugas yang menangani corona akan menelepon dan memberi tahu lebih lanjut, termasuk mengidentifikasi pernah kontak dengan siapa saja. Kemudian, ketika tahu hasil tes positif, maka perlu memberi tahu dokter keluarga, dan orang-orang tertentu yang memang perlu tahu, misalnya kalau aku, selain dokter, maka perlu memberi tahu bidan, untuk orang-orang yang bekerja, maka memberi tahu tempat kerjanya.

Semoga saja hasil tes swabku negatif dan tidak ada virus corona di dalam badanku 🙂
Hasil tes kutuliskan di postingan ini.

Membuat Gunung Berapi di Rumah

Gunung Berapi Meletus

Bermain membuat gunung berapi adalah salah satu kegiatan libur musim dingin akhir tahun lalu bersama anakku usia 6 tahun. Untuk mengisi waktu libur dengan kondisi pandemi, sehingga tidak bisa kemana-mana, maka aktivitas ini cukup membuat seharian penuh keseruan untuk anakku. Gunung berapi ini mudah dibuat, dengan alat sederhana, sehingga bisa jadi aktivitas yang mudah dan menyenangkan bersama anak-anak.

Bagaimana cara membuatnya? Yuk, simak berikut ini 🙂

Material:

Bahan Gunung:

  1. Bak lebar
  2. Botol (kami pakai botol air mineral)
  3. Kertas (kami pakai kertas koran)
  4. Clay (plastisin)
  5. Selotip (perekat)

Bahan Letusan Lava:

  1. Cuka
  2. Soda
  3. Pewarna

Cara:

Langkah pertama, membuat gunung berapi.

  1. Letakkan botol di wadah lebar. Agar tidak bergeser, bisa ditempel dengan selotip.
  2. Tutup botol dengan kertas koran untuk membentuk gunung. Ruangan kosong di dalam kertas koran bisa diisi dengan gulungan kertas koran.
  3. Lapisi kertas koran dengan clay.
Susunan gunung sebelum semua bagian ditempel clay

Sekarang, langkah selanjutnya menyiapkan letusan lavanya.

Campurkan cuka dengan pewarna. Kami menggunakan pewarna makanan warna merah.

Masukkan soda ke dalam lubang gunung dalam jumlah banyak. Kami menuangkan sekitar 15 – 20 sendok makan penuh soda.

Tuangkan cuka yang telah diberi warna ke dalam lubang gunung. Tunggu beberapa saat hingga soda dan cuka bereaksi, setelah itu akan keluar letusan gunung (lava). Jika tidak juga keluar, maka soda kurang banyak, bisa ditambahkan, kemudian tuang lagi cuka.

Ulang-ulang menuang cuka dan soda, maka lava akan keluar terus menerus.

Anak-anak suka sekali ketika percobaan ini berhasil dan tertarik untuk mencoba terus sampai lava keluar terus menerus dari gunung. Selamat mencoba 🙂

Pengalaman Membersamai Anak SFH (1)

Ini kali kedua membersamai anak sekolah dari rumah. Pertama kali adalah di sekitar bulan Maret 2020, saat Belanda lockdown pertama kali. Saat itu aku belum membuat blog ini jadi belum kutuliskan pengalamanku disini :). Di bulan Maret itu, anakku berada di grup 2 atau kalau menurut sistem pendidikan di Indonesia, TK. Aktivitas sekolah saat itu sudah terjadwal dari gurunya, di mana sekolah menyediakan beberapa peralatan untuk bisa digunakan di rumah. Sehingga aku hanya perlu membantu anak untuk menyiapkan peralatan yang belum ada, kemudian mempersiapkan kebutuhan sekolah hari itu.

Guru meminta orang tua memfoto atau memvideokan aktivatas harian anak kemudian dikirim ke grup atau ke guru secara personal. Namun, aktivitas ini tidak wajib dikirimkan pada guru. Bahkan, orang tua dan anak bisa melakukan aktivitas atau kreativitas sendiri yang lebih nyaman, tidak harus selalu sesuai dengan jadwal sekolah. Sejauh tujuan aktivitas itu baik untuk perkembangan anak. Guru juga sudah mengirimkan tujuan akhir kemampuan anak apa saja yang perlu dimiliki oleh anak grup, untuk nantinya bisa ke grup 3 (kelas 1 SD). Minimal 1 kali per pekan guru akan menelepon anak dan memastikan sejauh mana kemampuan anak berkembang untuk kebutuhan sekolahnya.

Welcome Back SFH

Kali ini, lockdown kedua, SFH yang kedua unuk anakku yang sudah grup 3 (kelas 1 SD). Aktivitas SFH berbeda jauh dengan saat masih grup sebelumnya (TK). Sebelum SFH, anak-anak libur musim dingin selama 2 minggu, dan dalam pekan liburan itu, secara bertahap, melalui aplikasi (website), guru mengirimkan petunjuk bagaimana SFH akan dilakukan. Beberapa poin yang disampaikan sekolah dan guru terkait SFH antara lain, peran orang tua yang diharapkan, peralatan yang dibutuhkan anak saat SFH, jadwal harian selama SFH, dan pola komunikasi yang bisa dilakukan antara orang tua dengan guru atau pihak sekolah.

Sekolah mengharapkan orang tua memastikan anaknya mengikuti SFH pada jadwal yang sudah ditentukan. Meskipun di rumah, tetapi SFH ini tetap dihitung sebagai hari aktif sekolah. Jika tidak bisa mengikuti, maka memberi tahu guru kelas dengan mengatakan alasannya, misal sakit atau yang lain. Jika tidak hadir tanpa alasan selama 3 hari, maka pihak sekolah akan menelepon orang tua untuk memastikan kondisi si anak dan ketidakhadirannya. Jika pihak sekolah tidak bisa menghubungi orang tua, maka akan dikirim surat peringatan ke rumah. Jika masih juga tidak bisa dihubungi, atau sudah diperingatkan tetapi kondisi masih berulang, maka pihak sekolah akan melakukan tindakan tertentu, bahkan bisa jadi kepala sekolah yang akan menindak sendiri kondisi ini.

Kalau ada tugas-tugas sekolah yang perlu dikumpulkan, maka sekolah mengharapkan orang tua ikut mengecek dan mengingatkan anak. Jika pengumpulan tugas telat 2 hari dari jadwal, maka pihak sekolah akan menghubungi orang tua untuk memastikannya. Jika tidak ada alasan yang memberatkan, maka pihak sekolah memberi peringatan untuk bisa memperbaiki kondisi itu. Jika tidak ada perbaikan, maka akan ada tindakan tertentu.

Secara umum, tugasku sebagai orang tua, hanyalah memastikan anak siap dengan SFH, membantu anak menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan, jika tidak bisa hadir hari itu karena sakit misalnya, maka memberi tahu sekolah (guru) melalui aplikasi. Jika ada tugas yang perlu dikerjakan dan dikumpulkan, mengingatkan sejauh mana anakku bisa melakukannya secara mandiri.

School From Home

Mengenai peralatan yang dibutuhkan untuk menjalani SFH, sudah diberitahu dan diberikan oleh guru saat hari terakhir sekolah sebelum libur musim dingin. Guru sudah memberikan buku-buku yang akan digunakan saat SFH. Untuk anak-anak yang tidak memiliki laptop, sekolah memberikan pinjaman.

SFH dilakukan dengan google meet. Sekolah sudah membuatkan akun google untuk digunakan anak selama SFH. Link google meet akan diberikan guru kelas 5-10 menit sebelum jadwal harian dimulai. Sekolah dilakukan setiap hari Senin-Jumat mulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 13.00, jadi hanya sekitar 4 jam per hari. Untuk hari Jumat bahkan lebih singkat, sekolah diakhiri pukul 12.00. Jadwal harian kegiatan, pelajaran, dan halaman berapa dari buku materi yang akan dilakukan hari itu, sudah dikirimkan guru beberapa hari sebelum SFH dimulai. Video-video pendukung pembelajaran yang akan diputar saat SFH pun telah dikirimkan oleh guru.

Maka, sekitar 1 – 2 hari sebelum SFH, aku membantu anakku untuk mempersiapkan SFH juga melatih anakku untuk menggunakan google meet. Harapannya, anakku sudah familiar dengan google meet dan bisa mengoperasikannya secara mandiri. Saat SFH, tentu guru mengharapkan orang tua untuk mendampingi anak dan membantu jika anak membutuhkan. Hanya saja, lebih nyaman buatku dan anakku jika bisa mandiri saat SFH berlangsung.

Sebelum SFH dimulai, sekolah mengirimkan tata cara untuk orang tua dengan sekolah, khususnya dengan guru dapat berkomunikasi dengan lancar. Komunikasi dilakukan pihak sekolah dan guru melalui website (aplikasi) yang bisa diakses oleh semua orang tua, sehingga tidak ada komunikasi lewat telepon ataupun whatsapp.

Aku tidak memiliki nomer telepon guru anakku. Guru juga tidak perlu mengumumkan nomor hp pribadinya ke orang tua. Jika orang tua ingin meminta penjelasan atau bertanya kepada guru atau sekolah, bisa mengirim pesan melalui aplikasi itu. Bahkan, jika ingin berkomunikasi lewat telepon, janji bisa dilakukan melalui aplikasi tersebut. Orang tua tidak bisa menelepon guru tanpa janji terlebih dahulu, pastinya ini nyaman juga untuk guru, karena aktivitasnya kan tidak hanya mengurusi murid, tetapi juga ada kehidupan pribadinya.

Sekolah bahkan memberikan peraturan agar orang tua tidak menghubungi guru saat jadwal sekolah sedang berlangsung. Pihak sekolah mengharapkan saat guru sedang mengajar melalui google meet, tidak ada gangguan. Kecuali untuk pertanyaan mengenai kesulitan masuk google meet, orang tua bisa langsung mengirimkan pesan kepada guru.

5-10 menit sebelum jadwal sekolah dimulai, guru mengirimkan tautan (link) kode melalui aplikasi untuk anak dapat masuk ke google meet menggunakan akun gmail yang sudah dibuatkan oleh guru. Guru menunggu semua anak untuk bisa bergabung, maka orang tua yang anaknya kesulitan bergabung bisa mengirimkan pesan kepada guru. Jika orang tua ingin menghubungi guru, mengirimkan pesan yang lain, maka tunggu hingga guru selesai mengajar, yaitu setelah jam 13.00. Jika orang tua mengalami kesulitan dalam menghubungi guru ataupun pihak sekolah melalui aplikasi, maka ada email sekolah yang bisa digunakan, bahkan bisa melalui telepon sekolah.

Sejauh ini, belum ada masalah yang aku alami dalam membersamai anak SFH. Jadwal SFH dimulai 4 Januari 2021 sampai tanggal 15 Januari 2021. Hanya selama 2 minggu, di masa lockdown ini, kecuali ada perubahan peraturan yang memperpanjang SFH.

Donat Anti Gagal

Donat

Bahan:

  1. Tepung terigu 500 g
  2. Gula 4 sdm
  3. Ragi 7 g
  4. Perasa vanila
  5. Garam 1/2 sdt
  6. Air 200-250ml
  7. Margarine 4 sdm

Cara Membuat:

  1. Campur tepung terigu, gula, ragi, perasa vanila, dan garam. Masukkan air sedikit demi sedikit. Aduk hingga setengah kalis.
  2. Masukkan margarine sampai adonan kalis.
  3. Tutup wadah adonan dengan kain, tunggu kurang lebih 1 jam hingga adonan mengembang.
  4. Bagi adonan menjadi bulatan-bulatan kecil, diamkan beberapa saat.
  5. Cetak adonan menjadi donat.
  6. Goreng hingga warna kuning keemasan.
  7. Hias donat sesuai selera.

Langkah nomer 3 Langkah nomer 6 Langkah nomer 7

Bahan-bahan ini bisa dicampur (diuleni) dengan tangan tanpa mixer. Hasil donatnya lembut. Kalau tepung terigu dicampur dengan tepung wafel, hasilnya crunchy di luar, lembut di dalam.

Selamat mencoba! 🙂