Ust Saiful Bahri: Al-Quran Solusi Hadapi Resesi

Resume Kajian dari Rumah Tajwid Indonesia

Mengambil inspirasi dari QS. Yunus: 57, dimana inspirasi yang lebih umum terdapat pada QS. Al-Isra: 82 dan QS. Fussilat: 44.

شِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ: ada di dada kita yang perlu diobati terlebih dahulu.

Dihubungkan dengan hadits Rasulullah: Sesungguhnya di dalam dada kita ada segumpal darah (qalbu/jantung). Dalam Quran, qalbu bisa bermakna fisik dan non fisik.

Syifa’ dapat diartikan kesembuhan/penawar/obat/solusi dan inspirasi kebaikan. Makna Syifa’ dapat dirangkum dalam 4 makna berikut:

  1. Iman: syifa’ adalah aqidah dan motivasi

Dengan iman, dapat mengobati: kufur, syirik (menyekutukan), nifaq (hipokrit).

Allah memberikan iman kepada hambaNya yang beriman. Sapaan Allah kepada hambaNya yang beriman: Yaa ayyuhallazina amanu (Wahai orang-orang yang beriman). Di Al Quran, panggilan ini sejumlah 89, diantaranya 16 terdapat di QS. Al Maidah). Panggilan ini spesial karena ada kepercayaan di dalamnya: wahai orang-orang yang percaya padaKu. Juga terdapat kedekatan, hubungan dekat Allah dan hambaNya.

Panggilan ini, kita balas dengan ucapan Al hamdu lillaahi rabbil ‘alamiin, rabbul ‘alamin yang bermakna Tuhan multiversi, bukan cuma di alam yang sekarang nampak, tetapi juga di tempat yang tidak nampak, tidak cuma Tuhan sekarang tetapi juga kapanpun.

Iyyaaka na’abudu wa iyyaaka nasta’iin: Allah mengajarkan cara berdoa yang bagus (iyyaka).

Di QS Al Fatihah, kita tidak hanya meminta nikmat jalan yang lurus (siraatal mustaqiim) tetapi juga menghindari al maghdub (orang-orang yang dimurkai). Dijelaskan lagi di QS Al Baqarah mengenai ciri-ciri orang-orang yang beriman, begitu juga orang kafir, dan ciri yang paling banyak mengenai orang-orang munafik.

  • Hidayah: syifa adalah petunjuk, contoh, pedoman

Petunjuk: hudan lil muttaqin dalam QS Al Baqarah: 2, tetapi dalam ayat 185 dikatakan hudan lil naas. Mengapa berbeda?

Imam Al Alusi memberikan definisi bahwa hudan itu jangka panjangnya adalah petunjuk yang benar-benar menyampaikan orang pada tujuannya, tidak sampai tersesat. Kalau sampai mengalami tersesat, maka bukan hudan, bukan hidayah. Sedangkan hudan lil naas adalah potensi petunjuk yang bisa diakses semua orang.

Quran bisa ditemukan dimana-mana, inilah hudan lil naas, tetapi jika diambil, dibaca, dipelajari barulah disebut hudan lil muttaqin yaitu memiliki, mengenali, hingga mengamalkan.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah berinteraksi dengan orang-orang yang selalu berinteraksi dengan Al Quran. Nabi Musa, saat itu adalah nabi yang mulia, tetapi diperintah Allah berguru pada nabi Khidir, menunjukkan di atas yang paling tahu, ada lagi yang lebih tahu. Nikmati Quran, berinteraksi dengan Quran, sampai pada mengajarkan.

Dengan hidayah, dapat mengobati angkuh, sombong, meremehkan, ragu, bisikan setan. Bisikan setan termasuk gangguan.

Membaca Al Baqarah selain membuat rumah bersinar juga membebaskan dari gangguan setan dalam bentuk jin. Jika ingin melakukan yang lebih ringkas, bacalah al ma’tsurat, di dalamnya ada bagian awal dan akhir Al Baqarah, termasuk juga ayat kursi.

  • Ilmu: pengetahuan dan cara

Dengan ilmu dapat mengobati masalah, beban psikis, situasi sulit, ketidaktahuan, kebodohan.
Ilmu membuat seseorang tahan masalah. Disebut qalbu karena menjadi pintu masuk alat berpikir. Qalbun diartikan jantung, tetapi di Al Quran bisa berarti dua sekaligus yaitu jantung (fisik) dan secara non fisik adalah tempat dimana merasa nyaman.

Qulub pada QS Al-A’raf: 179, tempat kita merasakan, dan hanya bisa dominan dengan satu rasa, jika yang dominan adalah cinta, maka rasa benci pergi, jika syukur dominan, maka kufur pergi.
Dalam QS Al Hajj: 46, perjalanan bisa membuat nyaman, tidak cuma sekedar fisik, tetapi perjalanan spiritual, bahkan perjalanan ilmiah.

Qulubun bisa jadi tempat berpikir, jika qulub jernih, maka hasil pemikirannya benar. Lihat kestabilan qalbu kita, maka jantungnya juga sehat. Salah satu penyebab sakit jantung adalah pikiran tidak beres.

QS Ar Ra’d: 28, dengan dzikir, qalbu menjadi tenteram. Tahapan dzikir yang paling sempurna, Allah tampak besar di hadapan kita.

Orang yang beriman bergetar qalbunya ketika dibacakan ayat quran.
Jika dzikir dan Al Quran menjadi dzikir maka dapat dijadikan sebagai penjaga kestabilan qalbun.
Qs Al Muzammil: 20, meminta dengan kebesaran nama Allah, agar hati kita bersemi dengan Alquran, karena orang yang dekat dengan Alquran tidak akan bersedih (dengan masa lalu), dan tidak akan takut (dengan masa depan).

Al Quran diturunkan malam hari, maka jika seharian belum baca Quran, usahakan baca Quran sebelum tidur (malam). Waktu baik lainnya untuk membaca Quran adalah saat fajr. Bacaan Quran di waktu subuh itu masyhuda, disaksikan oleh malaikat.

‘Alima: Allah Maha Tahu bahwa ada orang yang sakit, ada yang sampai begadang malam mencari nafkahnya, dan ada yang mengangkat senjata (fisabilillah), maka sekalipun sakit, kerja, atau fisabilillah, tetap membaca quran.

QS Al Muzzammil: 20, ada 2 parameter yang menjaga stabilitas hati yaitu qiyamul lail dan membaca quran.

QS Ad Dukhan: 3: Kebaikan ramadan adalah kebaikan Quran, yang diturunkan malam hari, maka malam hari itu waktu sempurna untuk membaca Quran. Keheningan malam, suara menjadi syahdu, sehingga lebih berkesan.

Pada QS Al Qadr, jika dilihat dari strukturnya, Allah membandingkan lailatul qadr dengan alfi syahr (ayat 2). Dalam ilmu Bahasa, keduanya adalah perbandingan yang tidak seimbang. Lail (malam) tidak dibandingkan dengan lail, tetapi dibandingkan dengan 1000 bulan (alfi syahr). Malam yang sat lebih baik (lebih baik yang tidak ada batasnya) dari bulan yang komunal (banyak). Khoirummin disini lebih baik yang tidak ada batasannya.

Semua yang berinteraksi dengan Quran adalah yang terbaik: malaikan jibril yang menyampaikan adalah malaikat terbaik, nabi Muhammad adalah manusia terbaik, malam lailatul qadr adalah malam terbaik, bulan ramadan adalah bulan terbaik, maka jika ingin menjadi umat terbaik maka harus berinteraksi dengan Quran.

4 Langkah berinteraksi dengan Quran:

  1. Memiliki dan mengenal Quran dengan baik dan benar.
  2. Membaca, menghafal, mendengarkan, dan mengajarkannya.
  3. Memahami, mentadabburi, dan menafsirkan ayat-ayat Quran dengan baik. Bahasa Alquran itu detail agar hati kita peka, halus.
  4. Mengamalkan dan merealisasikan apa yang dibaca dan dipelajari dari isi dan kandungan ayat-ayat Quran.

Bagaimana Al Quran bisa berfungsi sebagai imunitas agar dapat bertahan di masa resesi? Tidak hanya saat masa resesi, namun bisa juga cara ini saat kita diberi cobaan berupa kebaikan (nikmat.

  1. Spiritual (al manaah ar ruhiyyah): dengan quran, dzikir, shalat, mujalasah ash-shalihin.
  2. Mental/psikis (ma’nawiyah): percaya diri dengan kemampuan yang diberikan oleh Allah, dibekali dengan akal dan ilmu. Allah mengajarkan bagaimana memberi, ini mental orang islam.
  3. Fisik (jasadiyah): life style, jaga fisik agar senantiasa sehat dan bugar.
  4. Keuangan (ekonomi: al manaah al maliyah): perencanaan matang dan berpikir prioritas, berpikir kontributif.
    Perencanaan ekonomi berhubungan dengan pemberdayaan, dengan mental memberi, kesulitan ini tidak menghalangi dari memberi.

Lesson learned dari QS Yusuf:57:

  1. Alquran merupakan solusi, inspirasi kebaikan untuk menambah daya tahan (imunitas spritual).
  2. Pentingnya memberi nutrisi qalbu.
  3. Semua yang berinteraksi dengan quran menjadi yang terbaik.
  4. Kebaikan lailatul qadar.
  5. Malu dengan perintah Allah dengan membaca “ma tayassar” al quran.
  6. Mengukur kondisi diri dalam berinteraksi dengan quran.

Hadits Rasulullah: ‘Jangan jadikan rumahmu itu kuburan” yaitu rumah yang tidak pernah dibacakan Al quran.
Kualitas kita sekarang ditentukan oleh interaksi dengan Quran.

Penutup:

Kebersamaan dengan Quran merupakan boarding pass menuju surga. Pada QS Az zumar, Allah menunjukkan perbedaan kondisi penduduk surga dan penduduk neraka.

Kelebihan Ahlul quran: pada hari kiamat, diberikan mahkota kemuliaan, pakaian kemuliaan.

Leave a comment