Ustadzah Dr Sarmini lahir di Ponorogo pada tanggal 28 Agustus 1975 dan merupakan ibu dari 4 anak. Beliau menempuh pendidikan S1 Dirasat Islamiyah Al Hikmah, Jakarta (Jurusan Dirasat Islamiyah), S2 di Khortum International Institute of Arabic Language, Sudan (Jurusan Bahasa Arab untuk Non Arab, merupakan lulusan terbaik Asia Tenggara), dan S3 di International University of Afrika, Sudan (Jurusan Kurikulum dan Metode Pengajaran Bahasa Arab untuk Non Arab). Pendidikan beliau memang terarah pada masalah kurikulum dan metode pengajaran, sehingga melahirkan metode Utrujah yang didasarkan pada ilmu-ilmu dan metode-metode yang sudah ada sebelumnya.
Beliau berpengalaman sebagai dosen Bahasa Arab di International University of Afrika, Sudan, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan di Program Pasca Sarjana Universitas Assyafiiyyah, Jakarta. Beliau pun memiliki amanah sebagai Pengurus Pusat Salimah Jakarta, pendiri dan pengasuh Markas Utrujah Jakarta, pengasuh asrama putri LIPIA Jakarta, pendiri dan pengasuh Rumah Al-Quran Al-Marjan LIPIA Jakarta, pengasuh ngaji kitab parenting online, konsultan kurikulum di berbagai kota di Indonesia. Motto hidupnya, “Khairunnas Anfauhum Linnas”, sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk sesama. Hal ini diaplikasikan beliau dalam dedikasinya untuk mengisi kajian, seminar, ceramah, dan lain-lain.
Mengenai latar belakang keluarga, beliau menikah dengan Ustadz Hasan pada tanggal 25 Oktober 2000 melalui cara taukil (diwakilkan) karena sang suami saat itu sedang menempuh pendidikan di Sudan. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai Allah, amanah 3 orang putri dan 1 putra. Sejak awal pernikahan, beberapa kali Ustadzah Sarmini mengalami hubungan jarak jauh dengan suaminya, bahkan hingga kelahiran dan dalam proses pengasuhan putri-putrinya.
Ustadzah Sarmini berangkat ke Sudan, 6 bulan setelah pernikahan, untuk menyusul sang suami sekaligus melanjutkan pendidikan S2. Putri pertama lahir di Khortum, tahun 2002, diberi nama Saudah, yang kemudian disematkan dalam panggilan beliau, Ummu Saudah. Setengah jam setelah kelahiran Saudah, sang suami berangkat menjadi tenaga musiman haji, dan kembali 3 bulan kemudian.
Saat usia Saudah 4 bulan, mereka kembali ke Indonesia. Ustadzah Sarmini mengajar di Universitas Muhamadiyah Malang, sementara Ustadz Hasan harus kembali ke Sudan, melanjutkan pendidikan. Setahun kemudian, Ustadzah Sarmini melanjutkan program S3 di Sudan, mereka kembali berkumpul.
Putri kedua lahir tahun 2006, di Khortum, diberi nama Atikah Madaniyah Hasan. Nama Madaniyah dinisbatkan pada kota Madinah untuk mengenang keberadaan sang ayah saat itu. 2 minggu sebelum Atikah lahir, sang ayah menjadi petugas musiman pendamping haji di Madinah.
Ketika putri kedua berusia 8 bulan, mereka kembali ke Indonesia dan mengabdi di Pondok Al Kahfi, Sidoarjao. Sepekan kemudian, saat itu tahun 2008, putri ketiga, Nusaibah, lahir. Saat Nusaibah berusia 4 bulan, kembali lagi Ustadzah Sarmini harus terpisah dengan suami dan sendiri mengasuh ketiga putrinya. Ustadz Hasan berangkat ke Kairo, Mesir selama 4 bulan, mengambil referensi thesis.
Akhir tahun 2009, mereka kembali ke Sudan untuk menyelesaikan sidang thesis dan sidang doktoral. Bulan Mei 2010, keluarga ini kembali ke Sidoarjo, namun, 10 bulan kemudian harus terpisah. Ustadzah Sarmini mengajar di LIPIA, Jakarta, dengan membawa ketiga putrinya, sedangkan Ustadz Hasan menjalankan amanahnya di Mojokerto.
Singkat cerita, dalam 15 tahun pernikahan, keluarga ini sudah terbiasa berpindah-pindah, mengalami berbagai kondisi tempat tinggal, hubungan pernikahan jarak jauh, dan Ustadzah Sarmini pun terbiasa mengasuh putri-putrinya sendiri, disebabkan perbedaan amanah suami istri ini.
Dengan kondisi tersebut, masya Allah, tetap dapat menghasilkan putra putri yang dapat 3 kali mengkhatamkan baca Quran sebelum usia 5 tahun dan hafidz/ah di usia dini. Saudah, mengkhatamkan baca Quran di usia sekitar 4 tahun dan hafidz 30 juz di usia 7 tahun 8 bulan. Atikah, mulai membaca Al-Quran di usia 4 tahun 2 bulan dan mengkhatamkannya di usia 4,5 tahun, 2 bulan berikutnya khatam kedua, dan telah khatam ketiga sebelum usia 5 tahun. Atikah menjadi hafidzah pada saat usia 8 tahun 6 bulan.
Nusaibah, membaca Al Quran di usia 3 tahun 7 bulan, khatam pada usia 3 tahun 11 bulan. Ketika usianya 4 tahun 2 bulan, sudah mengkhatamkannya sebanyak 3 kali, dan hafidz 30 juz di usia 8 tahun 11 bulan. Anak keempat, Abdullah Habibi Hasan, telah menyelesaikan tahfidz 30 juz di usianya 6 tahun 3 bulan, bulan Maret 2020 lalu. Keempat anak Ustadzah Sarmini menguasai Bahasa Quran (Arab).
Dalam kehidupan Ustadzah Sarmini dan keluarga, Al Quran adalah proses pertama, selalu mendahulukan Al Quran karena ini adalah urusan aqidah. Aqidah diutamakan dan urusan-urusan yang lainnya dapat mengikuti dengan sendirinya.
One thought on “Dr Sarmini: Pencetus Metode Utrujah”