An-Naba: Berita Besar

Diringkas dari Kajian Tafsir An-Naba oleh Ust. Firanda Andirja.

QS. An Naba: 1-30

Ayat ini dibuka dengan sebuah pertanyaan “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? (ayat 1)”. Untuk membahas tentang keraguan atau ketidakpercayaan orang-orang musyrik tentang hari kiamat. Mereka percaya bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta, yang mengatur segalanya, memberi rezeki, tetapi tidak mempercayai adanya hari akhir.

Ketika Nabi Muhammad menyampaikan bahwa akan datang hari akhir, manusia dibangkitkan kembali untuk ditanyai amalannya selama di dunia, mereka saling bertanya-tanya sesamanya. Bagaimana mungkin manusia yang sudah meninggal akan dibangkitkan lagi? Mereka pun mengingkari hari kebangkitan ini.

Maka berita besar yang Allah firmankan di ayat kedua adalah tentang hari kebangkitan setelah kematian. Dalam menyikapi berita besar yang disampaikan Rasulullah ini, sikap penduduk Mekah (saat itu) bermacam-macam (ayat 3). Ada yang percaya (orang muslim), ada yang masih ragu-ragu, dan bahkan ada yang mengingkarinya (orang musyrik).

Di ayat 4 dan 5, Allah meyakinkan orang-orang tersebut bahwa kelak mereka akan mengetahuinya. Allah menciptakan manusia, pastinya akan dimintai pertanggungjawabannya, bukan dibiarkan begitu saja. Maka karena itulah akan ada hari kebangkitan. Dalam hal ini, maka suatu perkara penting, mengimani adanya hari akhir, dimana setelah kematian akan datang hari dimana manusia akan dibangkitkan untuk dimintai tanggungjawab masing-masing.

Di ayat-ayat selanjutnya (6-16), Allah menunjukkan kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah sediakan untuk semuanya, termasuk peruntukkannya, manfaat, dll. Allah Maha Kuasa untuk menciptakan dan mengatur itu semua. Allah ingin menunjukkan hal-hal terkait penciptaan alam semesta kepada kaum musyrikin.

Dalam QS Ghafir: 57, Allah berfirman bahwa penciptaan alam semesta itu lebih besar daripada penciptaan manusia. Dan dalam surat An-Naba ini Allah menceritakan bahwa alam semesta ini diciptakan dalam kondisi siap dihuni manusia. Maka Allah ingin menunjukkan bahwa bukan hal sulit untuk Allah membangkitkan kembali manusia setelah meninggal nanti. Allah Maha Kuasa menciptakan dan mengatur urusan yang lebih besar, apalagi yang lebih mudah.

Allah menciptakan semua berpasangan, tidak hanya makhluk hidup, tetapi alam yang Allah ciptakan pun berpasangan. Allah menjelaskan fungsi alam yang diciptakanNya, dan hal-hal yang Allah ciptakan sebagai anugerah Allah untuk manusia.

Selanjutnya, dalam ayat 17-20, Allah menceritakan tentang hari kiamat, yang pasti akan datang. Allah sudah menetapkan kapan terjadinya hari kiamat. Ditandai dengan ditiupnya sangkakala oleh malaikat Israfil. Tiupan pertama, mematikan seluruh makhluk, tiupan kedua membangkitkan kembali. Allah akan membuka pintu-pintu langit. Allah menceritakan apa yang akan terjadi pada hari kiamat nanti.

Allah kemudian menyebutkan tentang neraka jahanam dan bagaimana kehidupan di dalamnya (21-25). Na’udubillahi min dzalik semoga kita tidak termasuk penghuninya. Allah jadikan neraka jahanam ini sebagai balasan setimpal untuk orang yang tidak taat kepada Allah dan mendustakan ayat-ayatNya (26-28). Semua Allah catat dan Allahlah sebaik-baik pemberi balasan yang setimpal (29). Kalimat yang sangat mengerikan Allah sampaikan di ayat 30 tentang azab, dan tidak ada kalimat yang lebih mengerikan dari ini.

QS. An Naba: 31-40

Bagian terakhir, Allah memberikan gambaran tentang kaum mukmin dan surga yang menjadi balasannya (31-36). Bagaimana kondisi dan kenikmatan yang akan didapat kaum mukmin di surga.

Penutup surat (37-39), Allah menceritakan kembali tentang kondisi hari akhir. Saking dahsyatnya hari akhir, tidak akan ada yang berani bicara, bahkan para nabi dan malaikat sekalipun, kecuali yang diizinkan oleh Allah. Maka, carilah jalan yang benar menuju Allah, jangan sampai menyesal di hari kiamat. Seperti penyesalan orang kafir di ayat 40 ” Seandainya waktu dulu aku hanyalah tanah”.

Sate Telur Puyuh

Waktu masak: 15 menit

Bahan-bahan:

  1. Telur puyuh
  2. Bumbu halus: bawang putih, kemiri, garam,
  3. Bumbu pelengkap: gula, kecap, daun salam, daun jeruk, air
  4. Pelengkap: Tusuk lidi

Cara Memasak:

  1. Rebus telur puyuh, dan kupas
  2. Tumis bumbu halus, masukkan daun salam, daun jeruk, hingga harum.
  3. Masukkan air dan gula jawa, hingga mendidih, kemudian masukkan telur puyuh dan kecap.
  4. Masak hingga air kering.
  5. Siap dihidangkan sebagai sate.

Ust Saiful Bahri: Al-Quran Solusi Hadapi Resesi

Resume Kajian dari Rumah Tajwid Indonesia

Mengambil inspirasi dari QS. Yunus: 57, dimana inspirasi yang lebih umum terdapat pada QS. Al-Isra: 82 dan QS. Fussilat: 44.

شِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ: ada di dada kita yang perlu diobati terlebih dahulu.

Dihubungkan dengan hadits Rasulullah: Sesungguhnya di dalam dada kita ada segumpal darah (qalbu/jantung). Dalam Quran, qalbu bisa bermakna fisik dan non fisik.

Syifa’ dapat diartikan kesembuhan/penawar/obat/solusi dan inspirasi kebaikan. Makna Syifa’ dapat dirangkum dalam 4 makna berikut:

  1. Iman: syifa’ adalah aqidah dan motivasi

Dengan iman, dapat mengobati: kufur, syirik (menyekutukan), nifaq (hipokrit).

Allah memberikan iman kepada hambaNya yang beriman. Sapaan Allah kepada hambaNya yang beriman: Yaa ayyuhallazina amanu (Wahai orang-orang yang beriman). Di Al Quran, panggilan ini sejumlah 89, diantaranya 16 terdapat di QS. Al Maidah). Panggilan ini spesial karena ada kepercayaan di dalamnya: wahai orang-orang yang percaya padaKu. Juga terdapat kedekatan, hubungan dekat Allah dan hambaNya.

Panggilan ini, kita balas dengan ucapan Al hamdu lillaahi rabbil ‘alamiin, rabbul ‘alamin yang bermakna Tuhan multiversi, bukan cuma di alam yang sekarang nampak, tetapi juga di tempat yang tidak nampak, tidak cuma Tuhan sekarang tetapi juga kapanpun.

Iyyaaka na’abudu wa iyyaaka nasta’iin: Allah mengajarkan cara berdoa yang bagus (iyyaka).

Di QS Al Fatihah, kita tidak hanya meminta nikmat jalan yang lurus (siraatal mustaqiim) tetapi juga menghindari al maghdub (orang-orang yang dimurkai). Dijelaskan lagi di QS Al Baqarah mengenai ciri-ciri orang-orang yang beriman, begitu juga orang kafir, dan ciri yang paling banyak mengenai orang-orang munafik.

  • Hidayah: syifa adalah petunjuk, contoh, pedoman

Petunjuk: hudan lil muttaqin dalam QS Al Baqarah: 2, tetapi dalam ayat 185 dikatakan hudan lil naas. Mengapa berbeda?

Imam Al Alusi memberikan definisi bahwa hudan itu jangka panjangnya adalah petunjuk yang benar-benar menyampaikan orang pada tujuannya, tidak sampai tersesat. Kalau sampai mengalami tersesat, maka bukan hudan, bukan hidayah. Sedangkan hudan lil naas adalah potensi petunjuk yang bisa diakses semua orang.

Quran bisa ditemukan dimana-mana, inilah hudan lil naas, tetapi jika diambil, dibaca, dipelajari barulah disebut hudan lil muttaqin yaitu memiliki, mengenali, hingga mengamalkan.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah berinteraksi dengan orang-orang yang selalu berinteraksi dengan Al Quran. Nabi Musa, saat itu adalah nabi yang mulia, tetapi diperintah Allah berguru pada nabi Khidir, menunjukkan di atas yang paling tahu, ada lagi yang lebih tahu. Nikmati Quran, berinteraksi dengan Quran, sampai pada mengajarkan.

Dengan hidayah, dapat mengobati angkuh, sombong, meremehkan, ragu, bisikan setan. Bisikan setan termasuk gangguan.

Membaca Al Baqarah selain membuat rumah bersinar juga membebaskan dari gangguan setan dalam bentuk jin. Jika ingin melakukan yang lebih ringkas, bacalah al ma’tsurat, di dalamnya ada bagian awal dan akhir Al Baqarah, termasuk juga ayat kursi.

  • Ilmu: pengetahuan dan cara

Dengan ilmu dapat mengobati masalah, beban psikis, situasi sulit, ketidaktahuan, kebodohan.
Ilmu membuat seseorang tahan masalah. Disebut qalbu karena menjadi pintu masuk alat berpikir. Qalbun diartikan jantung, tetapi di Al Quran bisa berarti dua sekaligus yaitu jantung (fisik) dan secara non fisik adalah tempat dimana merasa nyaman.

Qulub pada QS Al-A’raf: 179, tempat kita merasakan, dan hanya bisa dominan dengan satu rasa, jika yang dominan adalah cinta, maka rasa benci pergi, jika syukur dominan, maka kufur pergi.
Dalam QS Al Hajj: 46, perjalanan bisa membuat nyaman, tidak cuma sekedar fisik, tetapi perjalanan spiritual, bahkan perjalanan ilmiah.

Qulubun bisa jadi tempat berpikir, jika qulub jernih, maka hasil pemikirannya benar. Lihat kestabilan qalbu kita, maka jantungnya juga sehat. Salah satu penyebab sakit jantung adalah pikiran tidak beres.

QS Ar Ra’d: 28, dengan dzikir, qalbu menjadi tenteram. Tahapan dzikir yang paling sempurna, Allah tampak besar di hadapan kita.

Orang yang beriman bergetar qalbunya ketika dibacakan ayat quran.
Jika dzikir dan Al Quran menjadi dzikir maka dapat dijadikan sebagai penjaga kestabilan qalbun.
Qs Al Muzammil: 20, meminta dengan kebesaran nama Allah, agar hati kita bersemi dengan Alquran, karena orang yang dekat dengan Alquran tidak akan bersedih (dengan masa lalu), dan tidak akan takut (dengan masa depan).

Al Quran diturunkan malam hari, maka jika seharian belum baca Quran, usahakan baca Quran sebelum tidur (malam). Waktu baik lainnya untuk membaca Quran adalah saat fajr. Bacaan Quran di waktu subuh itu masyhuda, disaksikan oleh malaikat.

‘Alima: Allah Maha Tahu bahwa ada orang yang sakit, ada yang sampai begadang malam mencari nafkahnya, dan ada yang mengangkat senjata (fisabilillah), maka sekalipun sakit, kerja, atau fisabilillah, tetap membaca quran.

QS Al Muzzammil: 20, ada 2 parameter yang menjaga stabilitas hati yaitu qiyamul lail dan membaca quran.

QS Ad Dukhan: 3: Kebaikan ramadan adalah kebaikan Quran, yang diturunkan malam hari, maka malam hari itu waktu sempurna untuk membaca Quran. Keheningan malam, suara menjadi syahdu, sehingga lebih berkesan.

Pada QS Al Qadr, jika dilihat dari strukturnya, Allah membandingkan lailatul qadr dengan alfi syahr (ayat 2). Dalam ilmu Bahasa, keduanya adalah perbandingan yang tidak seimbang. Lail (malam) tidak dibandingkan dengan lail, tetapi dibandingkan dengan 1000 bulan (alfi syahr). Malam yang sat lebih baik (lebih baik yang tidak ada batasnya) dari bulan yang komunal (banyak). Khoirummin disini lebih baik yang tidak ada batasannya.

Semua yang berinteraksi dengan Quran adalah yang terbaik: malaikan jibril yang menyampaikan adalah malaikat terbaik, nabi Muhammad adalah manusia terbaik, malam lailatul qadr adalah malam terbaik, bulan ramadan adalah bulan terbaik, maka jika ingin menjadi umat terbaik maka harus berinteraksi dengan Quran.

4 Langkah berinteraksi dengan Quran:

  1. Memiliki dan mengenal Quran dengan baik dan benar.
  2. Membaca, menghafal, mendengarkan, dan mengajarkannya.
  3. Memahami, mentadabburi, dan menafsirkan ayat-ayat Quran dengan baik. Bahasa Alquran itu detail agar hati kita peka, halus.
  4. Mengamalkan dan merealisasikan apa yang dibaca dan dipelajari dari isi dan kandungan ayat-ayat Quran.

Bagaimana Al Quran bisa berfungsi sebagai imunitas agar dapat bertahan di masa resesi? Tidak hanya saat masa resesi, namun bisa juga cara ini saat kita diberi cobaan berupa kebaikan (nikmat.

  1. Spiritual (al manaah ar ruhiyyah): dengan quran, dzikir, shalat, mujalasah ash-shalihin.
  2. Mental/psikis (ma’nawiyah): percaya diri dengan kemampuan yang diberikan oleh Allah, dibekali dengan akal dan ilmu. Allah mengajarkan bagaimana memberi, ini mental orang islam.
  3. Fisik (jasadiyah): life style, jaga fisik agar senantiasa sehat dan bugar.
  4. Keuangan (ekonomi: al manaah al maliyah): perencanaan matang dan berpikir prioritas, berpikir kontributif.
    Perencanaan ekonomi berhubungan dengan pemberdayaan, dengan mental memberi, kesulitan ini tidak menghalangi dari memberi.

Lesson learned dari QS Yusuf:57:

  1. Alquran merupakan solusi, inspirasi kebaikan untuk menambah daya tahan (imunitas spritual).
  2. Pentingnya memberi nutrisi qalbu.
  3. Semua yang berinteraksi dengan quran menjadi yang terbaik.
  4. Kebaikan lailatul qadar.
  5. Malu dengan perintah Allah dengan membaca “ma tayassar” al quran.
  6. Mengukur kondisi diri dalam berinteraksi dengan quran.

Hadits Rasulullah: ‘Jangan jadikan rumahmu itu kuburan” yaitu rumah yang tidak pernah dibacakan Al quran.
Kualitas kita sekarang ditentukan oleh interaksi dengan Quran.

Penutup:

Kebersamaan dengan Quran merupakan boarding pass menuju surga. Pada QS Az zumar, Allah menunjukkan perbedaan kondisi penduduk surga dan penduduk neraka.

Kelebihan Ahlul quran: pada hari kiamat, diberikan mahkota kemuliaan, pakaian kemuliaan.

Dr Sarmini: Pencetus Metode Utrujah

Ustadzah Dr Sarmini lahir di Ponorogo pada tanggal 28 Agustus 1975 dan merupakan ibu dari 4 anak. Beliau menempuh pendidikan S1 Dirasat Islamiyah Al Hikmah, Jakarta (Jurusan Dirasat Islamiyah), S2 di Khortum International Institute of Arabic Language, Sudan (Jurusan Bahasa Arab untuk Non Arab, merupakan lulusan terbaik Asia Tenggara), dan S3 di International University of Afrika, Sudan (Jurusan Kurikulum dan Metode Pengajaran Bahasa Arab untuk Non Arab). Pendidikan beliau memang terarah pada masalah kurikulum dan metode pengajaran, sehingga melahirkan metode Utrujah yang didasarkan pada ilmu-ilmu dan metode-metode yang sudah ada sebelumnya.

Beliau berpengalaman sebagai dosen Bahasa Arab di International University of Afrika, Sudan, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan di Program Pasca Sarjana Universitas Assyafiiyyah, Jakarta. Beliau pun memiliki amanah sebagai Pengurus Pusat Salimah Jakarta, pendiri dan pengasuh Markas Utrujah Jakarta, pengasuh asrama putri LIPIA Jakarta, pendiri dan pengasuh Rumah Al-Quran Al-Marjan LIPIA Jakarta, pengasuh ngaji kitab parenting online, konsultan kurikulum di berbagai kota di Indonesia. Motto hidupnya, “Khairunnas Anfauhum Linnas”, sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk sesama. Hal ini diaplikasikan beliau dalam dedikasinya untuk mengisi kajian, seminar, ceramah, dan lain-lain.

Mengenai latar belakang keluarga, beliau menikah dengan Ustadz Hasan pada tanggal 25 Oktober 2000 melalui cara taukil (diwakilkan) karena sang suami saat itu sedang menempuh pendidikan di Sudan. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai Allah, amanah 3 orang putri dan 1 putra. Sejak awal pernikahan, beberapa kali Ustadzah Sarmini mengalami hubungan jarak jauh dengan suaminya, bahkan hingga kelahiran dan dalam proses pengasuhan putri-putrinya.

Ustadzah Sarmini berangkat ke Sudan, 6 bulan setelah pernikahan, untuk menyusul sang suami sekaligus melanjutkan pendidikan S2. Putri pertama lahir di Khortum, tahun 2002, diberi nama Saudah, yang kemudian disematkan dalam panggilan beliau, Ummu Saudah. Setengah jam setelah kelahiran Saudah, sang suami berangkat menjadi tenaga musiman haji, dan kembali 3 bulan kemudian.

Saat usia Saudah 4 bulan, mereka kembali ke Indonesia. Ustadzah Sarmini mengajar di Universitas Muhamadiyah Malang, sementara Ustadz Hasan harus kembali ke Sudan, melanjutkan pendidikan. Setahun kemudian, Ustadzah Sarmini melanjutkan program S3 di Sudan, mereka kembali berkumpul.

Putri kedua lahir tahun 2006, di Khortum, diberi nama Atikah Madaniyah Hasan. Nama Madaniyah dinisbatkan pada kota Madinah untuk mengenang keberadaan sang ayah saat itu. 2 minggu sebelum Atikah lahir, sang ayah menjadi petugas musiman pendamping haji di Madinah.

Ketika putri kedua berusia 8 bulan, mereka kembali ke Indonesia dan mengabdi di Pondok Al Kahfi, Sidoarjao. Sepekan kemudian, saat itu tahun 2008, putri ketiga, Nusaibah, lahir. Saat Nusaibah berusia 4 bulan, kembali lagi Ustadzah Sarmini harus terpisah dengan suami dan sendiri mengasuh ketiga putrinya. Ustadz Hasan berangkat ke Kairo, Mesir selama 4 bulan, mengambil referensi thesis.

Akhir tahun 2009, mereka kembali ke Sudan untuk menyelesaikan sidang thesis dan sidang doktoral. Bulan Mei 2010, keluarga ini kembali ke Sidoarjo, namun, 10 bulan kemudian harus terpisah. Ustadzah Sarmini mengajar di LIPIA, Jakarta, dengan membawa ketiga putrinya, sedangkan Ustadz Hasan menjalankan amanahnya di Mojokerto.

Singkat cerita, dalam 15 tahun pernikahan, keluarga ini sudah terbiasa berpindah-pindah, mengalami berbagai kondisi tempat tinggal, hubungan pernikahan jarak jauh, dan Ustadzah Sarmini pun terbiasa mengasuh putri-putrinya sendiri, disebabkan perbedaan amanah suami istri ini.

Dengan kondisi tersebut, masya Allah, tetap dapat menghasilkan putra putri yang dapat 3 kali mengkhatamkan baca Quran sebelum usia 5 tahun dan hafidz/ah di usia dini. Saudah, mengkhatamkan baca Quran di usia sekitar 4 tahun dan hafidz 30 juz di usia 7 tahun 8 bulan. Atikah, mulai membaca Al-Quran di usia 4 tahun 2 bulan dan mengkhatamkannya di usia 4,5 tahun, 2 bulan berikutnya khatam kedua, dan telah khatam ketiga sebelum usia 5 tahun. Atikah menjadi hafidzah pada saat usia 8 tahun 6 bulan.

Nusaibah, membaca Al Quran di usia 3 tahun 7 bulan, khatam pada usia 3 tahun 11 bulan. Ketika usianya 4 tahun 2 bulan, sudah mengkhatamkannya sebanyak 3 kali, dan hafidz 30 juz di usia 8 tahun 11 bulan. Anak keempat, Abdullah Habibi Hasan, telah menyelesaikan tahfidz 30 juz di usianya 6 tahun 3 bulan, bulan Maret 2020 lalu. Keempat anak Ustadzah Sarmini menguasai Bahasa Quran (Arab).

Dalam kehidupan Ustadzah Sarmini dan keluarga, Al Quran adalah proses pertama, selalu mendahulukan Al Quran karena ini adalah urusan aqidah. Aqidah diutamakan dan urusan-urusan yang lainnya dapat mengikuti dengan sendirinya.

First blog post

Selamat datang di catatankaki.blog.


Mengambil filosofi dari fungsi catatan kaki, blog ini akan aku gunakan untuk menceritakan sumber informasi atau materi yang telah dan sedang aku pelajari. Anggaplah ini usaha untuk mengikat ilmu dengan tulisan.

Blog ini juga akan aku gunakan untuk menjadi catatan perjalananku dengan memaknai kaki sebagai langkah perjalanan. Menulis tentang cerita ringan jalan-jalan, hingga bercerita tentang apa saja yang aku alami dalam perjalanan hidupku. Banyak cerita dalam perjalananku sebagai seorang perempuan, anak, istri dan ibu dari 1 orang anak laki-laki.

Menulis apa saja yang ingin aku ceritakan. Bercerita perlu didengar, menulis, setidaknya, aku bisa membacanya sendiri 🙂

Siapapun yang menemukan dan membaca blog ini, semoga ada manfaat yang bisa diambil 🙂